HANYA beberapa album rekaman penyanyi dan grup musik yang pernah menembus penjualan satu juta kaset. Sebut saja Dian Pieshesa (Tak Ingin Sendiri, 1985), grup Bill & Brod (Madu dan Racun, 1986), Nining Maeda AS (Kalangkang, 1988), atau Joshua (Air, 1998) dan sekarang kaset debut Sheila on 7 (So7) terjual sebanyak 1,2 juta dan CD-nya 20.000 keping.Terus terang, ketika pertama kali memutuskan untuk memproduksi So7, saya hanya mematok angka penjualan 150.000 kaset,” ungkap Jan N Djuhana, artist and repertoire senior director Sony Music Entertainment Indonesia.
Jan, begitu dia dipanggil sehari-hari, adalah orang di balik hadir dan suksesnya sejumlah grup seperti Kla Project, Dewa 19, Bayou, penyanyi Yana Julio, /rif dan So7. Menelusuri perjalanan karier laki-laki bertubuh semampai yang tinggi/bobotnya 170 cm/60 kg ini berarti membedah riwayat industri musik sejak tahun 1970-an.
***
LAHIR di Jakarta 24 Agustus 1948, Jan sempat menjadi mahasiswa elektro Universitas Kristen Djakarta. Tetapi, keasyikannya menjadi pemetik gitar bas grup musik yang dimulainya sejak SMA dan mengelola sebuah toko kaset di Glodok, menyebabkan kuliahnya telantar.
“Pada waktu itu setelah selesai ngamen, meski waktu sudah dini hari, kami nongkrong sambil makan roti bakar sampai menjelang subuh baru pulang,” kenang Jan.
Dari toko kasetnya, Jan merekam lagu-lagu barat dari koleksi piringan hitam pribadinya ke kaset. Mula-mula puluhan, ratusan, hingga kemudian ribuan kaset. Melihat omzet penjualannya meningkat, Jan merasa perlu bekerja sama dengan rekannya dan mendirikan perusahaan rekaman Star Cemerlang sebagai programer untuk new-music. Menyeleksi grup musik dan penyanyi baru mancanegara waktu itu.
“Bersama sejumlah perusahaan rekaman lagu barat lainnya seperti Saturn, Top, Hins, Aquarius, Elite, dan King’s, kami sempat bergabung dalam Perina. Tetapi, gabungan ini tidak bertahan lama. Saturn dan Top lalu bergabung dengan Prambors Cassette membentuk Team Records.”
Dari Team Records inilah, Jan mulai memperlihatkan tajinya sebagai penemu bintang baru berkat pengalamannya mendengar new-music selama di Star Cemerlang.
“Selama di Team Records saya memproduksi Sersan soundtrack film Catatan Si Boy dari satu sampai lima. Kemudian Yana Julio dan Lita Zein dalam lagu Emosi Jiwa, Indonesia Enam, Spirit Band, serta Elfa’s Singers.”
Dari seorang temannya, Jan memperoleh pita demo Kla Project. Untuk waktu itu, musik yang diperlihatkan Katon Bagaskara dan kawan-kawan menurut Jan, bisa dikatakan baru.
“Potensi mereka saya lihat ada pada lagu. Kami produksi album pertama mereka Rentang Asmara tahun 1989 dan mendapat sambutan luar biasa. Dengan album debutnya itu Kla memperoleh BASF Award 1990,” kata Jan, bapak tiga anak; Lia, Angelika, dan Barry.
***
SETELAH itu grup dari Surabaya, Dewa 19, membawa contoh lagunya ke beberapa perusahaan rekaman termasuk Team Records. Ternyata Jan juga yang jeli melihat kemampuan Dhani Manaf, kini dikenal sebagai Ahmad Dhani, dan teman-temannya Erwin Prast, Wawan Abi, Andra, dan Ari Lasso.
“Memang yang menarik perhatian saya waktu itu adalah kemampuan Dhani. Dia berani membuat musik yang baru dengan ciri vokal yang sama sekali berbeda dengan gaya penyanyi waktu itu. Memproduksi grup atau penyanyi baru dengan penyanyi yang sudah dikenal sebenarnya sama saja. Modal pertama adalah lagu. Kalau lagunya bagus, siapa pun mereka kami berani memproduksikannya.”
Itulah yang mungkin dilakukan Jan ketika bergabung dengan Sutanto Hartono (kini Managing Director Sony Music Entertainment Indonesia) tahun 1997. Dia langsung memproduksi grup /rif dari Bandung yang sama sekali baru, ketika ditugasi mencari musisi lokal.
Sebagai produksi pertama penyanyi lokal Sony Music, /rif termasuk sukses dan melejit dengan lagunya Radja. Disusul grup Bima, Arwana, Padi, Wong, Cokelat, dan So7. Dari awal tahun 1999 hingga kini, Sony Music menerima contoh lagu dari sekitar 900 penyanyi dan grup baru dari seluruh penjuru tanah air.
“Entah mengapa ketika pertama kali mendengar lagu contoh yang disodorkan Duta, Eross, Adam, Anton, dan Sakti, feeling saya mengatakan ini adalah grup yang harus dicermati.”
Menurut Jan, So7 tidak langsung diterima. Mereka bahkan diminta menambah lagu-lagunya. Permintaan ini sekaligus menguji, apakah anak-anak Yogya ini serius atau tidak.
“Kalau mereka memang mampu, akan terlihat juga nanti. Benar saja, ketika mereka kembali, lagu Dan dan Anugerah Terindah baru termasuk di antaranya. Setelah mendengar semua lagu-lagu itu baru kami sodorkan surat kontrak,” ujar Jan, yang suka lari pagi dan makan malam di kafe sambil mendengar musik bersama keluarganya.
Keberhasilan album debut So7, agaknya akan diikuti album keduanya Kisah Klasik untuk Masa Depan, yang sejak dirilis akhir September lalu sampai pertengahan Oktober ini sudah terjual lebih dari 300.000 kaset. Tetapi, mengapa musikalitas So7 tidak menunjukkan kemajuan dalam album kedua ini, meski Erwin Gutawa dilibatkan sebagai penata string untuk lagu Sephia dan Tunjuk Satu Bintang.
“Sebelum sampai album Revolver, lima atau enam album The Beatles musiknya sama. Bahkan Rolling Stones sampai sekarang masih dengan musik yang tidak berbeda. Mungkin nanti, pada album ketiga, keempat atau kelima, So7 baru bisa memberikan kemajuan yang kita harapkan,” kelit Jan yang memperoleh penghargaan sebagai producer of the year Anugerah Musik Indonesia 1999 berkat keberhasilannya sebagai produser So7. (Theodore KS, penulis masalah industri musik dan hiburan )