OBYEK yang paling sering dipotret adalah manusia. Ketika berwisata bersama keluarga, sekadar kumpul bareng teman, atau ketika lulus kuliah, kamera menjadi alat utama untuk mengabadikan saat-saat indah. Di dinding rumah pun foto manusia banyak dipajang, sementara berbagai media cetak sangatlah janggal kalau sama sekali tidak menampilkan foto manusia di dalamnya.
DEMIKIANLAH, memotret manusia adalah hal yang sangat biasa dan mudah dijumpai sehari-hari. Namun, memotret manusia punya banyak sekali tingkatannya, dari yang sekadar bisa dilihat sampai yang banyak persyaratannya
Semakin serius sebuah pemotretan, berarti semakin serius pula persiapannya. Sebuah pemotretan model gaya ABG di studio-studio foto tentu tak seberat sesi pemotretan model untuk iklan produk. Lebih serius lagi jikalau model yang di-casting adalah model terkenal yang dibayar mahal.
Bisa pula sangat serius jika model foto adalah pejabat tinggi negara atau pengusaha kaya yang hendak ditampilkan anggun, gagah, berwibawa, chic (elok) dan mewah. Di luar semua itu, unsur fun tetap lebih banyak dan lebih dinikmati ketimbang peluh yang bercucuran untuk menyiapkan kostum dan setting tempat. Terlebih lagi jika seluruh kru pemotretan dan model bisa berkomunikasi dengan akrab.
Namun bagaimana pun, unsur-unsur teknis tetap tak bisa disepelekan pada setiap pemotretan. Sedap tidaknya sebuah foto dipandang tetap dibangun oleh unsur-unsur teori dasar fotografi. Tak perlu rumit-rumit, cukup dengan bermain-main dengan komposisi dan pencahayaan, maka sebuah foto model bisa dibuat dengan benar. Selebihnya, tinggal bagaimana cara fotografer mengarahkan pose dan ekspresi sang model.
Pose dan ekspresi
Kemampuan model berpose dan berekspresi tetap menjadi unsur yang tak terpisahkan dari keberhasilan sebuah foto model. Mengarahkan model yang bukan profesional lebih menantang daripada model profesional. Tapi, bisa jadi lebih menarik dan menantang jika memotret tokoh dalam pose-pose yang lain dari biasanya. Istilah gampangnya tampil unik, tapi menarik; nyeleneh tapi jenaka; pose tak biasa, tapi tetap sedap dipandang.
Pose-pose tersebut membutuhkan kemampuan non-fotografis yang kental, seperti pendalaman pribadi, kedekatan emosional, dan kemampuan berkomunikasi. Resep utamanya adalah menggali hal unik yang menjadi pencerminan khas tokoh dan model yang hendak dipotret.
Memotret Sheila On 7, yang notabene kerap bertemu muka di sebuah radio, di Yogyakarta, menjadi tantangan tersendiri. Akrab karena sering bertemu tidaklah otomatis membuat pemotretan terhadap mereka menjadi mudah. Komunikasi yang dibangun kerap kali menjadi bercanda yang kebablasan bercanda terus, atau malah sebaliknya serius yang bablas menjadi kaku.
Ketika itu sekitar tahun 1998, Sheila On 7 baru menyelesaikan album pertama dan dipotret untuk kepentingan materi iklan sebuah perusahaan t-shirt. Hari berikutnya, mereka ingin difoto untuk kepentingan manajemen mereka dan koleksi pribadi. Jadilah, pose-pose yang nyeleneh, jenaka, dan unik yang tak terencanakan sebelumnya.
Foto “Sheila On 7’s Free Style” akhirnya dihasilkan dari modal komunikasi akrab. Ketika itu, kamera medium format fokus manual memaksa tangan terus-menerus melekat di gelang fokus lensa dan tombol pelepas rana agar momen ekspresi yang muncul hanya untuk beberapa detik tak luput dari rekaman.
Lain halnya dengan pose-pose yang tidak terlalu dinamis bergerak atau berekspresi. Fotografer bisa dengan perlahan mengeset kamera dan pencahayaan serta berhati-hati memilih angle. Misalnya saja, pada foto “Terkulai” yang dibuat pada set indoor dengan pencahayaan artifisial dan sentuhan akhir di komputer untuk memberi pewarnaan berkesan lembut dan hangat.
Perlu pendekatan personal
Keberhasilan merekam pose-pose menarik memang tak berhubungan langsung dengan segi teknis fotografi. Tapi, keberhasilan secara teknis fotografi tak ada artinya dalam kancah memotret model dan tokoh tanpa pose yang sedap dipandang mata. Terlebih lagi jika ingin mengeksplorasi seorang tokoh dalam pose-pose yang unik dan ekspresif. Bisa jadi pose-pose tersebut adalah pose-pose tampak seperti apa adanya meski sebenarnya diarahkan oleh fotografer.
Ketika memotret seorang aktor teater dan seniman serba bisa Butet Kertarajasa, misalnya. Tak ada pembicaraan khusus sebelumnya, selain berbincang ringan di ruang tunggu bandara pada suatu pagi. Lantas, niat untuk membuat suatu sesi foto kemudian muncul yang dilanjutkan dengan beberapa perencanaan sederhana, seperti soal lokasi dan kostum.
Memang penting untuk membuat tokoh sebagai model tetap nyaman berpose di depan kamera dan menyiapkan berbagai perlengkapan pencahayaan. Memutuskan kediaman pribadi tokoh itu sendiri sebagai lokasi pemotretan tentu bukanlah suatu syarat yang sulit.
Perencanaan yang cerdik dibutuhkan untuk berhasil membuat foto-foto bagus. Mengenali diri seorang tokoh, berikut keseharian dan karier tokoh tersebut sama pentingnya dengan merencanakan kostum yang hendak dikenakan. Pemanfaatan properti pun jangan disepelekan demi menciptakan suasana yang mencerminkan pribadi sang tokoh.
Lokasi dan properti
Kebutuhan akan properti dalam memotret manusia tak perlu berlebihan, dengan cara memanfaatkan properti yang sudah ada di lokasi. Kebetulan Butet pernah menulis di Kompas perihal koleksi kotak rokoknya. Maka, pose yang wajar jika Butet kemudian difoto sambil merokok di depan koleksi kotak-kotak rokoknya, seperti pada foto “Butet dan Koleksi Kotak Rokoknya”.
Membuat foto model dan foto tokoh bisa disebut berhasil jika fotografer berhasil mengkomunikasikan ide di benaknya kepada para pemirsa foto. Jika pemirsa foto mengernyitkan dahi pertanda bingung atau memicingkan mata pertanda tak nyaman memandang, maka bisa dibilang pemotretan belum berhasil sepenuhnya.
Lain halnya jika pemirsa foto mengangguk-angguk pertanda paham atau diam untuk merenung lantaran berhasil meresapi makna dan rasa dari foto yang dilihatnya. Keberhasilan itu menjadi lebih berguna lagi tatkala muncul inspirasi-inspirasi baru di benak pemirsa foto setelah melihat karya-karya seorang fotografer.
Kristupa W Saragih Fotografer dan co-admin Fotografer.net
Source: Kompas