May 4, 2005
Jumat, 6 Mei 2005 para personil Sheila on 7 bakal merayakan ulang taonnya yang ke-9. Seperti taon-taon sebelumnya, para personil Sheila ini merayakan tanpa hura-hura melainkan dengan perenungan bersama.
Udah menjadi tradisi kalo di hari jadinya Duta, Eross, Adam dan Sakti ini merayakannya bareng para sama fans serta membagi keceriaan dengan beberapa anak yatim piatu. Perayaan itu digelar di markasnya Atmosukarto 17 Kotabaru, Yogyakarta.
Meski udah jadi band yang besar tapi di setiap hari jadinya ini anak-anak Sheila cukup merayakannya dengan kesederhanaan. “Sudah biasa kalau setiap ulang tahun anak-anak Sheila pada ngumpul merayakannya dengan syukuran. Mereka memang tak ingin ada pesta yang mewah,” kata Anton, manager Sheila saat dihubungi KG.
Apa dalam acara nanti Anton, bekas drumernya Sheila juga diundang? “Diundang tapi dia lagi di Surabaya,” jawab Anton.
Pada acara nanti selain menghibur fansnya dengan acara manggung, para personil Sheila juga akan memutar video klip perdana mereka yang bertajuk Bertahan Disana.
Sebagai informasi, Sheila on 7 yang 28 April lalu menggelar konsernya di Melbourne, Australia berkesempatan membuat video klipnya yang kedua “Sekali Lagi”. Saat ini video klip tersebut masih dalam tahap proses editing.
Source : KG
April 5, 2005
ADA kabar gembira dari Adelia Lontoh, istri vokalis Sheila on 7, Duta. Adelia dikabarkan sudah hamil tujuh minggu. Kabar gembira ini didengar Duta saat baru pulang dari Yogyakarta. Apa reaksi Duta? “Ya, kaget,” ungkap pria ini dengan logat Jawa medok.
Ditemui usai syuting video klip album terbaru grupnya Ahad kemarin, Duta tak dapat menutupi keriangan hatinya. “Yang pasti, sekarang aku sedang berdoa-berdoanya pengin [anak] laki-laki gitu,” ucap ayah Aisyah Duta Tiara.
Menurut Duta, Adelia juga tak bertingkah aneh layaknya orang ngidam.”Belum sih,” ujar Duta sambil menggelengkan kepalanya. Sejauh ini, mereka cuma keluar untuk mencari makanan kecil seperti asinan atau goreng-gorengan.
Source : SCTV
January 9, 2003
Erwin Gutawa ikut terlibat penggarapan album terbaru Sheila On 7 yang diberi judul 07 Desember, yang bakal dirilis oleh Sony Music Indonesia, 18 Maret mendatang. Kepiawaian Erwin Gutawa dalam menata aransemen dengan setting orkestra ternyata sangat dibutuhkan untuk mendandani beberapa buah lagu yang ada dalam album ke 3 grup asal Yogyakarta ini.
Pilihan atas Erwin rasanya tepat untuk setting orkestra, apalagi jika melihat hasil maksimal yang diperlihatkan Erwin ketika mendukung sejumlah rekaman dengan setting orkestra mulai dari Chrisye, Nicky Astria hingga grup Dewa.
Ada yang pantas dicatat dalam album terbaru Sheila On 7 kali ini, karena dominasi Eross atas penulisan komposisi lagu seperti yang tampak pada dua album sebelumnya kini mulai pupus.
Personel lainnya seperti Duta, Sakti atau Adam kini mulai terjun menulis lagu sendiri. Ini sudah barang tentu perkembangan yang menggembirakan bagi kualitas musik Sheila On 7 sebagai grup yang solid.
Apa judul album dan lagu yang dijagokan? “Wah…..jangan dulu deh. Tunggu aja,” tukas Duta dengan dialek Jawa yang medok.
December 21, 2002
Menurut beberapa organizer, ada pembagian kelas untuk band dalam konteks tarip main di acara Tutup Tahun 2002.
Sheila on 7 termasuk band kelas 1, sekelas Dewa, Jamrud, dan Slank.
Honor band kelas 1: Rp 300 juta.
Yang kelas 2 ada, Jikustik, Naif, The Groove, dll, bayarannya Rp 120 juta.
Meski hingga saat ini belum ada tawaran untuk manggung di Old & New, namun jauh-jauh hari Anton Kurniawan, Manajer So7, sudah mencanangkan harga Rp 300 juta untuk mendatangkan Eross cs.
“Harga segitu sama dengan tahun kemarin. Tahun lalu kami main di Bali. Tahun ini mungkin pentas di Bandung. Sheila nggak ngoyo kok. Ada yang nanggap syukur, nggak juga tak jadi masalah. Malah anak-anak Sheila bisa rehat saat tahun baru, yang sudah-sudah mereka tak pernah merayakan tahun baru bareng keluarga dan teman dekat” papar Anton.
Source: Minggu Pagi
Menurut Anton, Rp 300 juta itu hanya untuk pembayaran artis. Tidak termasuk transportasi, akomodasi, dan pajak. Perolehan uang hasil manggung tahun baru dibagi menjadi 30 persen untuk manajer dan biaya operasional, 15 persen untuk honor kru, dan 55 persen untuk artis.n abp
December 20, 2002
KONSER musik Voice of Stars di kompleks Hotel Discovery Kartika Plaza, Kuta, Bali, Minggu (15/12), punya arti tersendiri bagi grup musik asal Yogyakarta, Sheila On 7, yakni kembali bergabungnya Anton (21), penggebuk drum. Selama tiga bulan terakhir, Anton memang absen dari sejumlah konser grup yang digandrungi komunitas anak baru gede (ABG) ini. Hal ini sempat menimbulkan spekulasi telah terjadi perpecahan di grup tersebut. Bahkan, tersiar kabar bahwa Anton mendirikan grup baru.
Anton tidak bersedia menjelaskan ihwal absennya tersebut. “Yang pasti, kehadiran saya bukan cuma untuk konser di Bali ini. Saya akan terus di Sheila. Konser ini kami pakai untuk mengklarifikasi bahwa Sheila tidak bubar,” kata Anton. “Benar, Anton tetap di Sheila. Kami kompak, kok,” timpal Duta, vokalis Sheila.
Ketika ditanya soal keberangkatannya ke Bali tidak bersama dengan anggota Sheila yang lain, Anton tidak menjawab terus terang. “Soalnya teman-teman naik bus. Ya, bus udara ha-ha-ha…,” katanya sambil tertawa.
Anton memang naik pesawat sendiri dan tiba belakangan, sementara anggota Sheila yang lain berangkat bersama-sama lebih dulu. Mereka satu hotel. Pergi maupun makan bersama-sama. Tampak akrab dan kompak. Sama sekali tidak terkesan ada kerenggangan, apalagi keretakan di antara mereka. (ANO)
Source: Kompas
November 6, 2002
GARA-GARA absen di sejumlah pementasan di Jakarta, Anton, dramer Sheila on 7 dikabarkan dipecat dari grup ini. Sayangnya, Eross-Duta-Sakti-Adam-Anton Kurniawan tak memberi keterangan pasti perihal absennya Anton dramer.
Sekadar flash back, itu waktu Eross bilang, sangat sulit menghubungi Anton. Baik lewat ponsel maupun disambangi ke rumahnya, seputaran Purwomartani. “Jangankan aku, Anton Kurniawan, manajer kami pun kesulitan menghubungi Anton.
Dia seolah-olah menghilang” kata Eross. “Anton memang pernah bilang, dia kecapekan manggung terus. Apalagi, Anton juga sering didera sakit. Dia kan mengidap tifus? Tapi sampai kapan dia absen, Anton tak memberi batas waktu. Itu masalahnya.”
Komentar Duta lebih keras lagi. Ada deadline untuk Anton. “Kalau sampai proses album keempat Anton nggak datang, yaa sudah…”
Yaa sudah maksud Duta, tak pelak adalah pemecatan penabuh bedug Inggris itu. Padahal, proses album keempat Sheila bakal berjalan di bulan Ramadan ini. Sementara belum jua muncul.
Konon dikabar, antara Duta dan Anton punya clash pribadi. Keduanya sama-sama berwatak keras. Bahkan menurut orang-orang terdekat Sheila, Duta-Anton pernah bentrok fisik, usai manggung. Di parkiran mobil mereka berkelahi. Dilerai. Ternyata keduanya masih emosi. Di hotel, perkelahian itu dilanjutkan kembali.
NAMUN semua gosip ini ditepis. Ketika personel Sheila on 7 akan melakukan Kampanye Anti Pembajakan Kaset dan CD, Senin (28/10) kemarin, Anton muncul.
Setelah ber-say hello dengan personel lain, Anton langsung memeluk Duta.
“Kalau sudah begini, siapa bilang kami pecah?” kata Eross.
“Aku memang lagi capek. Aku pengin istirahat total. Nggak tahu kenapa, sewaktu tur 30 kota kemarin staminaku drop. Awalnya sih nggak terasa, tapi memasuki pertengahan tur baru rasa capek itu datang. Permainan dramku jadi ngaco. Yaa sudah, daripada nggak enak sama yang lain mendingan kuputuskan istirahat” papar dramer berambut gondrong itu.
Anton mengaku, selama vakum ia banyak melakukan kegiatan di luar musik. Utak-atik motor Ducati kesayangannya. Ngendon di usaha bengkelnya di Jl Bantul, lalu pergi ke Bali.
“Sempet juga sih aku coba-coba bikin lagu. Eh, yang keluar model-model musik tekno gitu. Kalau cocok bakal kusumbangin ke album Sheila mendatang” kata Anton. “Setelah Lebaran mungkin aku akan balik lagi ke Sheila. Sekarang aku mau menikmati masa istirahat yang indah” tandasnya. n abp
Source: Minggu Pagi
PRIHATIN dengan makin merajalelanya pembajakan, Sheila on 7 kampaye anti pembajakan. Senin (28/10) siang, Sheila didukung 5 band lokal, Joggiest, P@pel, Kintamani, Souva dan Droppy-D, menyebar brosur dan stiker anti pembajakan. Lima personel So7 dipisah. Duta berkampanye di Sleman, Eross di Kulon Progo, Adam di Bantul, Sakti di Gunung Kidul dan Anton di Yogya.
Dalam kampanye anti pembajakan kaset dan CD di Kulon Progo yang diwakili Eross Chandra meliputi Pasar Wates, Pertokoan di Jl Sutijab, dan Terminal Wates. Dalam membagikan stiker, selebaran dan kaos, Eross bahkan rela memasuki hingga ke dalam Pasar Wates. Sebagian penjual di pasar tak mengetahui apa maksud kampanye ini. Tapi dengan lugas Eross, didampingi personel band lokal, Jogiest, menerangkan secara singkat bahwa sebaiknya masyarakat tak membeli kaset bajakan.
Di sebuah toko kaset, Eross kaget karena yang dijual di situ tak ada kaset dan VCD asli. Semua palsu. Begitu pula penjual kaset dan VCD yang menggelar jualannya di trotoar, tak ada produk asli yang dijual disitu.
Menurut Eross, kampanye ini memang baru sekadar imbauan. Untuk memberantasnya jelas sangat sulit. “Apalagi jika kampanye hanya dilakukan secara insidental begini, akan sulit diketahui hasilnya. Tapi ini kan upaya, dan mudah-mudahan ada pihak lain yang terkait mau menindaklanjuti. Mungkin kampanye bisa dilakukan oleh grup band lain secara bergiliran. Sekarang Sheila, bulan depan dilanjutkan Jikustik. Jadi setiap bulan selalu ada kampanye,” papar Eross.
Adam yang bertugas di wilayah Bantul, menyebar brosur dan stiker di Perempatan Gose, Perempatan Manding dan Perempatan Dongkelan. Sama seperti di tempat lain, Adam yang dibantu anak-anak Kintamani Band, mendapat sambutan meriah dari masyarakat setempat. Kedatangan Adam yang sangat dikenal pecinta So7 di lokasi tersebut, tak pelak membuat remaja yang mengidolakan memburunya. Serombongan pelajar yang memergoki Adam, langsung minta tanda tangan. Dalam kampanye itu, Adam juga sangat aktif. Tak segan-segan ia datangi rumah-rumah dan kios-kios, sekadar untuk memberikan selebaran anti pembajakan.
Meski hasilnya belum tentu efektif, namun kampanye anti pembajakan tersebut perlu dilaksanakan sebagai gerakan moral. Memang tak semua masyarakat menyambut kampanye positif ajakan So7 untuk tidak membeli kaset dan CD bajakan. Jika bajakan dilarang, ada yang mengaku akan kehilangan mata pencaharian. Sebab profesinya memang pedagang CD dan VCD bajakan.
Jika ada yang diuntungkan dari kampanye tersebut adalah para tukang becak. Mereka mendapat kaos gratis dari So7. Sayangnya, tulisan di kaos tersebut tidak bertema anti pembajakan. Tapi judul lagu So7, Pria Kesepian. Mungkin, para abang becak itu termasuk kategori pria kesepian.
n prass/latief
Source: MP
November 5, 2002
Kelompok musik asal Yogyakarta, Sheila on 7 (SO7), untuk kesekiankalinya tampil tanpa pemain drum Anton Widyastanto. Sebelumnya, dalam tur ke beberapa kota, posisi Anton selalu diisi oleh Kiki, pemain drum dengan rambut pilin-pilin gaya Bob Marley.
Ada pergantian personel?
Akhdiyat Duta Modjo (22), yang seringkali bertindak selaku juru bicara kelompok yang berdiri tahun 1996 ini, mengakui bahwa Kiki sudah seringkali menjadi penyelamat pentas-pentas SO7.
“Sampai detik ini yang jelas kita main tanpa Anton,” ujar Duta, seusai pentas dalam acara Soundrenaline, akhir pekan ini, di Parkir Timur, Senayan, Jakarta.
Duta sendiri tak bisa memastikan sampai kapan mereka harus bermain tanpa Anton. Bahkan, baru beberapa hari terakhir ini, ujarnya, mereka bisa berkomunikasi dengan Anton.
“Untuk selanjutnya bagaimana, itu masih akan diselesaikan oleh Anton dan pihak manajemen sendiri,” katanya. Kelompok musik yang penggemar utamanya para ABG ini pada rekaman perdananya tahun 1999 berhasil menjual kaset lebih dari satu juta kopi. Padahal, sebelumnya, mereka hanyalah kelompok band pembuka untuk musisi-musisi yang sudah tenar di Tanah Air.
Menurut Duta, ia berharap agar masalah antara Anton dan SO7 mendapatkan penyelesaian yang terbaik buat mereka masing-masing. “Terakhir sudah ada komunikasi. Mudah-mudahan ini membuka jalan terang…,” ujar Duta. Harusnya saling terus teranglah! (CAN)
Source: Minggu Pagi
August 25, 2002
SIAPA tidak kenal dengan kumpulan rock terkemuka dari Indonesia, Sheila On 7 (SO7). Aksi lima anak muda dari tanah seberang itu ketika di pentas mampu membuatkan peminat menjadi setengah gila. Ada yang menjerit, ada yang menangis, tidak kurang juga yang pengsan setiap kali menyaksikan persembahan mereka.
Begitulah kehebatan kumpulan SO7 yang dianggotai oleh Duta (penyanyi), Eross (gitar utama), Adam (bass), Sakti (gitar kedua) dan Anton (deram).
Namun di sebalik kehebatan dan populariti yang dikecapi, mereka juga tidak terkecuali daripada mematuhi peraturan.
Untuk menyeberangkan album terbaru mereka Des 07 ke Malaysia, SO7 terpaksa merakamkan semula lagu Seberapa Pantas daripada album tersebut.
Lirik asal lagu itu yang menggunakan perkataan `celaka’ dikatakan tidak sesuai dan kasar untuk dinyanyikan di Malaysia.
“Justeru, kami terpaksa merakamkan semula lagu itu dan menggantikannya dengan perkataan `oh sayangnya’ untuk pasaran Malaysia,'’ kata Eross.
Selain itu, penyanyi SO7 Duta juga khabarnya terpaksa mengetepikan identitinya untuk penggambaran klip video terbaru kumpulan itu.
Duta yang sebelum ini sering memakai anting-anting di kening terpaksa menanggalkannya atas arahan syarikat rakaman.
“Saya cuma mengikut aturan di sini. Pada saya ia sama sekali tidak menjejaskan identiti saya malah saya lakukan ini demi peminat,'’ katanya.
SO7 yang baru-baru ini berada di Kuala Lumpur untuk promosi album Des 07 turut melahirkan kesyukuran kerana diberi sambutan hangat di sini.
“Alhamdulillah, setakat ini sambutan yang diterima amat baik. Kami percaya peminat di Malaysia dapat menerima muzik kami kerana kita datang daripada rumpun yang sama,'’ kata Eross.
Sambil menganggap rahsia kejayaan mereka bersandarkan pada keikhlasan menghasilkan muzik yang bermutu, Eross turut mengakui ramai pihak mencemburui kejayaan mereka.
Tahun lalu, album kedua SO7 berjudul Kisah Klasik Untuk Masa Depan terjual sebanyak 100,000 unit di Malaysia.
Pencapaian itu sekali gus mengetepikan beberapa artis popular tempatan yang terpaksa akur kerana tewas di gelanggang sendiri.
Album Des 07 yang mula dipasarkan Mac lalu kini mencatatkan jualan sebanyak satu juta unit di Indonesia dan 40,000 unit di Malaysia.
Menurut Eross, sama ada SO7 kini berada di kemuncak kerjaya, itu bukanlah persoalan yang penting bagi mereka.
“Populariti bukan perkara pokok buat kami. Yang lebih utama ialah kami terus mencipta muzik,'’ katanya.
Dia menambah, setiap lagu yang dicipta lahir daripada apa yang dirasai oleh mereka. Dengan cara itu, ia bukan sahaja dapat memberikan kepuasan malah mesej lagu mudah diselami oleh setiap anggota kumpulan itu.
Sementara itu, lagu lama SO7 berjudul Sephia yang masih menjadi siulan peminat khabarnya telah dirakamkan dalam versi Mandarin.
SO7 yang menyedari perkembangan itu amat terharu walaupun lagu versi Mandarin itu dinyanyikan oleh seorang penyanyi dari Taiwan.
Menyentuh tentang gandingan dengan artis-artis wanita Malaysia, lima anak muda itu amat menyenangi penyanyi Sarimah.
“Kalau diberi peluang, kami suka sekali berganding dengan Sarimah. She’s cool!'’ kata Duta yang mencelah perbualan.
June 25, 2002
SA’UNINE adalah nama kelompok kwartet string. Mulanya terdiri Oni Krisnerwinto (biola I), Prima (biola II), Surtihadi (alto biola) dan Wawan (cello). Berdiri 1989, sekarang grup string itu beranggotakan 25 orang/ Bukan lagi kwartet melainkan string ansamble.
Siapa nyana, kelompok yang awalnya cuma ‘tongkrongan’ mahasiswa (ISI Yogyakarta), belakangan muncul di balik sukses grup-grup nasional (GIGI, Sheila On 7) dan artis ibukota (Titi DJ, Mayangsari) ?
Mulanya memang berdasar pertemanan antara Oni dan Dewa Bujana sebelum gitaris itu gabung GIGI. Begitu Oni bikin Sa’unine, isian string untuk album 2X2 GIGI dipercayakan Bujana kepada teman lamanya itu.
Lima lagu dalam album kedua Sheila On 7 juga dipoles Oni dan kawan-kawan. Aransemen string dan bas lagu Khayalan The Groove pun akhirnya digarap Sa’unine. “Saya sendiri solist saxofon di album itu” ujar Oni yang juga consert master di Twillite Orchestra ini.
Ada lagi empat lagu di album Wanita milik Romeo yang stringnya dikerjakanbocah-bocah Yogya ini. Lalu album Tasya, Sa’unine kiprah bersama Dian HP Orchestra. Ohya, dua-tiga tahun lalu Oni pernah dipercaya mengiringi konser Kla Project.
Kelompok belakang layar? Itulah memang Sa’unine sampai hari ini.
“Waktunya yang tak ada. Kami semua sibuk main di orchestra. Sebenarnya pingin banget bikin konser, tapi ya itu tadi, waktu! Di samping beayanya juga tak sedikit” tutur Oni sambil menceritakan pengalamannya beberapa tahun silam gelar pentas di kampus ISI, “Per orang keluar duit sekitar satu juta!”.
DI JAKARTA, nama Sa’unine cukup dikenal artis dan musisi. Addie MS mempercayakan Twilite Fantasy untuk mereka pegang. “Nggak tahu, apa maksud Addie. Untuk mengantisipasi job dengan dana terbatas? Seperti kemarin ketika Memes menggelar konser tunggal di sebuah cafe di Jakarta, bukan suaminya yang mengiringi, tapi Twillight Fantasy”
Ansamble Sa’unine juga mengiringi konser raya Padi beberapa bulan lalu. Saat ini Sa’unine dipesan Rika, vokalis The Groove, untuk mengisi string-nya dalam mempersiapkan album ke tiga Shanty VJ MTV, dimana Rika bertindak sebagai pencipta lagu.
Artinya?
Nama Yogya makin “sip” dong! n ana
Source: MP
June 18, 2002
Sejak dirilis pada Maret 2002 lalu, penjualan album terbaru dari Sheila on 7, 07 Des langsung melesat. Hingga kini, album tersebut terjual mendekati angka 1 juta copy. Angka ini jauh melampaui pencapaian album Dewa “Cintailah Cinta” dan Jamrud dengan “Sydney 090102″. Padahal album mereka dirilis pada waktu yang hampir bersamaan.
Saat ini, menurut pihak rekaman, Sony Music Indonesia, Album ketiga dari kelompok musik asal Yogyakarta itu telah terjual 950 ribu keping lebih. Angka tersebut juga kuatkan oleh manajer SO7, Iraz. “Bahkan, bila angka penjualan itu mencapai angka 1 juta keping pada bulan Juli ini, SO7 mungkin akan terima penghargaan platinum award dari Sony,” jelasnya kepada detikcom, Selasa (18/6/2002).
Angka penjualan album yang luar biasa seperti ini, tampaknya memang sudah menjadi langganan bagi Duta (vokal), Eross (gitar), Adam (bass), Sakti (gitar) dan Anton (dram). Lihat saja, album-albumnya yang terdahulu, semuanya mencapai angka penjualan diatas satu juta dalam waktu yang cukup singkat.
Album pertama mereka, “Sheila on 7″ dengan lagu andalannya, Dan dan JAP yang diluncurkan pada Maret 1999 lalu terjual sebanyak 1,3 juta keping dalam waktu sekitar satu tahun. Sedang, album kedua yang berjudul “Kisah Klasik untuk Masa Depan” lebih fantastis lagi. Album tersebut terjual sebanyak 1,7 juta dalam waktu kurang dari satu tahun.
Atas kesuksesan kedua album itu, SO7 pun meraih Multi Paltinum Award dari Sony Music. Namun, tak hanya itu saja. Selain laris dalam penjualan albumnya, single-single SO7 juga diincar oleh para produser sinetron atau film. Salah satunya adalah lagu, Sephia, yang diangkat menjadi sinetron dengan judul yang sama.
SO7 selalu laris bak kacang kulit. Kesuksesannya tak terhenti saat single-singlenya yang menjadi soundtrack banyak sinetron. Malah, semakin menjadi incaran. Para penyanyi pun antre minta buatkan lagu oleh Eross, yang merupakan otak dari lagu-lagu hits SO7. Dan itu dibuktikan dengan terpilihnya Eross sebagai penerima royalty tertinggi dari YKCI (Yayasan Karya Cipta Indonesia).
June 17, 2002
Menggandeng Rizal Mantovani, Sheila on 7 (SO7) garap video klip ketiga untuk album “07 Des”. Namun ada yang lain dalam video klip kali ini. Konsep video klipnya sama sekali tidak menggambarkan isi dari lagu “Pria Kesepian”.
Alur cerita dari video klip “Pria Kesepian” ini agak lain dari biasanya. Karena, tidak menggambarkan cerita dari orang yang benar-benar sedang dilanda kesepian. “Video klip kan nggak harus nempel dengan lagunya. Yang penting jiwa lagu itu tergambar dalam video klip yang ditampilkan,” ujar sang sutradara, Rizal Mantovani saat berbincang dengan detikcom di studio 33 Mampang, Jakarta Selatan.
Menurutnya, dalam klip ini, Rizal sengaja menggambarkan sosok seseorang yang senang akan khayalan. “Jadi, nanti akan ada ada adegan SO7 dengan fans, model dan juga ada khayalan SO7 main sinetron segala,” cerita Rizal.
Jangan-jangan SO7 ingin main sinetron? “Ya, kepingin juga sih,” Eross mengaku. Tapi menurut Eross, Adamlah yang paling kepingin main sinetron. “Apalagi Adam tuh mbak, dia tuh suka ikut casting,” katanya sambil menunjuk Adam. Namun yang ditunjuk hanya cuek, acuh tak acuh sambil terus mengutak-atik bidak-bidak catur
yang ada dihadapannya, enggan berkomentar.
“Iya, Adam sering ikut casting, mbak. Kemarin dia ikut casting Scooby-doo, ha ha ha,” timpal sang vokalis, Duta.
Dengan kesibukan seperti ini, apa mungkin SO7 punya waktu untuk main sinetron? Kayaknya, nggak mungkin deh. Apalagi saat ini mereka akan menggelar tur di 30 Kota mulai 20 Juni 2002 nanti. Dan lagi karir mereka di musik sudah cukup sukses. Buktinya album terbarunya, “07 Des” sudah terjual hampir 1 juta keping. Wah!
POPULARITAS grup band asal Yogyakarta Sheila On 7 (SO7) di Malaysia memang sudah tidak diragukan lagi. Bahkan keberadaan SO7 mampu mengalahkan musisi asal Malaysia sendiri, hal ini terbukti dengan penjualan album SO7 yang sangat laku di Malaysia bila dibanding dengan band-band lokal. Bahkan, musisi Malaysia dikabarkan mulai membuat lagu-lagu seperti lagu SO7.
Dengan adanya pengakuan dari musisi Malaysia yang meniru lagu-lagu SO7, maka pihak SO7 mengaku sangat berterima kasih dan tidak melarangnya. Hal ini dibenarkan oleh Duta (personel SO7). “Saya bangga lagu-lagu Sheila On 7 dijadikan rujukan dalam bermusik,” kata Duta yang juga sebagai vokalis.
Namun di sisi lain, personel SO7 lainnya, Sakti mengatakan alangkah baiknya jika setiap grup band memiliki ciri khas tersendiri. “Kami tidak melarang. Tapi jangan lantas meniru Sheila On 7, cukup jadi rujukan saja,” ujar Sakti.
Lagu-lagu SO7 sendiri kebanyakan ciptaan Eross yang juga personel SO7. Lantas bagaimana tanggapan Eross mengenai hal ini? Menurut Erros, dengan mengambil musik SO7 sebagai rujukan, diharapkan para musisi tersebut dapat menghasilkan musik yang lebih baik. “Tapi, kalau musik yang dihasilkan sama dengan Sheila On 7, maka hal itu tidak akan baik bagi perkembangan musik dan juga bagi grup itu sendiri,” ungkap Eross.
Memang Sabtu (11/5), grup yang baru saja meluncurkan album terbarunya 07 Des ini akan tampil di hadapan penggemarnya di Malaysia, yakni di Stadium Putra Bukit Jalil. Kemungkinan besar, konser SO7 kali ini akan dikunjungi oleh musisi Malaysia yang memang ingin meniru lagu-lagu mereka
SOurce: Disctarra
March 22, 2002
BULAN Maret ini kelompok musik Sheila on 7 memasuki tahun ketiga, sejak mereka meluncurkan album musik pertama tahun 1999. Album pertama bertajuk Sheila On 7 dan album kedua yang berjudul Kisah Klasik untuk Masa Depan dicatat oleh industri musik, masing-masing membukukan penjualan lebih dari satu juta copy kaset. Bilangan yang tergolong besar untuk pasar negeri ini. Anda tentu masih ingat baris lagu mereka Selamat tidur kekasih gelapku….
Album ketiga yang diluncurkan hari Rabu (20/3) lewat konferensi pers di sebuah kafe di kawasan Menteng, berjudul “07 Des” diinformasikan sudah mendapat angka penjualan sampai 400.000 copy. Kelima personel Sheila On 7: Eross, Duta, Adam, Sakti, dan Anton, para pemuda asal Kota Yogyakarta, menegaskan, musik mereka tidak dibikin untuk memenangi kompetisi pasar.
“Kami bermusik untuk memperkaya musik kita. Boleh jadi temanya, pilihan nadanya, mirip dengan grup musik lain, juga grup musik dunia. Tapi, saya kira itu sesuatu yang wajar karena para pemusik bermain di wilayah yang berdekatan, yaitu musik. Sebutlah misalnya tema tentang cinta, yang seolah diulang. Sebenarnya tidak ada peniruan. Musik kami berusaha memperkaya dengan cara kami,” tutur Eross, menjawab sejumlah pertanyaan wartawan seputar mengapa chord di lagu tertentu atau syair di lagu tertentu mirip dengan karya pemusik lain sebelumnya. (ody)
February 1, 2002
Sahabat, belum bosan dengan Sheila On 7 kan?
Nah, Tasya sempat menemui 2 orang personelnya yaitu Kak Duta dan Kak Eross di sela-sela acara Peluncuran album terbaru Tasya kedua. Wartawan ciliknya juga spesial lho, yaitu si Imut Tasya yang mewawancarainya.

Tasya : Bagaimana ceritanya bisa ketemu dengan teman-teman?
Kak Eross : Sebelum di Sheila aku memang sudah punya band. Teman-teman lain juga. Lalu oleh satu teman kita saling diperkenalkan. Ketika band mereka masing-masing bubar barulah saling membicarakan bagaimana kalau kita bikin band baru.
Tasya : Kenapa sih bandnya dinamakan Sheila On 7?
Kak Eross : Awalnya dari Adam. Ketika ketemu saya, langsung bilang Sheila ya?. Rupanya yang dimaksud adalah teman sekolah saya yang juga teman Adam. Sedangkan On 7 maksudnya di dalam musik ada 7 nada.
Tasya : Apakah setiap ada show Sheila On 7 latihan dulu?
Kak Eross dan Kak Duta : Tentu saja, kita pasti latihan dulu.
Tasya : Suka duka menjadi artis?
Kak Eross dan Kak Duta : Sukanya Ya…banyak. Dukanya apa yah? Serba salah deh harus bersikap (maksudnya terhadap fans), takutnya kita dianggap sombong.
Tasya : Kenapa sih Sheila On 7 lebih suka tinggal di Yogya?
Kak Eross sambil memandang Kak Duta : Gimana Ya..soalnya Yogya tempat kita dari lahir sih. Lagipula kotanya enak gitu, sehingga banyak inspirasi lagu-lagu dari situ.
Tasya : Siapa artis idola kakak?
Kak Eross : Kalau luar negeri John Lenon, kalau dalam negeri Iwan Fals dan Bimbim dari grup Slank
Kak Duta : Banyak
Tasya : Bagaimana ceritanya bisa bernyanyi bersama Tasya di album “Jangan Takut Gelap ini” ?
Kak Eross : Pertama kita ditawarin dari pihak Tasya….
Tasya : (menyambung Kak Eross) Iya, soalnya Tasya ngefans dengan Sheila On 7
Kak Eross : Lalu aku pikir mengapa tidak. Dan mulailah aku menciptakan lagu untuk Tasya.
Tasya : Bagaimana ceritanya bisa tercipta lagu “Jangan Takut Gelap” untuk Tasya?
Kak Eross : Ya..itu sih dari pengalaman kecil saja. Karena aku juga pernah mengalami gimana sih jika berada di tempat gelap, pasti takut.
Kak Duta : Emang begitu kok. Waktu mau Shoting saja tidak sempat di make up jadi pas di shot aku berkeringat. Kelihatan ya… di video klipnya. Jadi apa adanya.
Tasya : : Bagaimana kesannya sewaktu bikin Video klip bersama Tasya?
Kak Eross : Wah asyik. Kayanya hasilnya hidup ya…(sambil melihat ke Tasya) tidak di buat-buat.
Tasya : Apakah nantinya Kak Eros akan menciptakan lagu anak-anak ?
Kak Eross : Waduh, belum tahu tuh…
Source: Tasya Online
November 24, 2001
Hampir semua orang tahu bahwa Yogyakarta adalah kota budaya. Kota ini juga sering dijadikan barometer sosial-politik. Ada anggapan awam bahwa meskipun kota-kota di Indonesia sudah bergolak, kalau Yogya masih tenang maka jangan harap terjadi perubahan sosial yang berarti.
Banyak seniman dan intelektual besar yang dilahirkan dari interaksi budaya di kota ini. Di antara mereka ada yang memilih tinggal di Yogyakarta atau hijrah ke Jakarta dalam rangka mewujudkan karya-karyanya. Sebut saja nama besar seperti Saptohudojo, WS Rendra, Sapto Rahardjo, Emha Ainun Najib, Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, Didik Nini Thowok, dan lain-lain. Juga grup musik seperti Kiai/Nyai Kanjeng, Sheila On 7, Jikustik, Swara Ratan, Jenaka KR, serta pehumor-pehumor individual.
Semua akan semakin berbangga kalau kota ini kedepan tidak kehilangan pesona sebagai pusat perkembangan budaya, terbuka, dan demokratis. Namun ini memerlukan fasilitas dari semua pihak, terutama pemerintah daerah dan aparat keamanan, yaitu kondisi kondusif bagi kebebasan berkesenian. Prosedur administratif politik, dan keamanan, jangan sampai memasung kegiatan berkesenian.
Ironisnya, ketika kota ini sedang menyongsong era kebebasan politik dan pelaku budayanya sedang berjuang untuk memperoleh tempat berekspresi agar sejajar dengan kota-kota budaya di dunia seperti Berlin, Sydney, London, terjadi pengingkaran terhadap kebebasan berkesenian. Pada tanggal 30 Oktober 2001, sebuah pentas band nasional yang berasal dari Yogyakarta Sheila on 7 (So7) dihentikan secara paksa oleh aparat kepolisian dengan alasan ada sejumlah penonton yang pingsan. Menurut polisi ada 27 orang pingsan, sedangkan panitia hanya mencatat 17 orang.
Aksi sepihak penghentian konser So7 mengundang komentar dan kritik dari pelaku budaya atau pengamat sosial. Mereka sepakat bahwa tindakan ini masuk dalam kategori “kekerasan terhadap ekspresi budaya”. Penghentian konser secara sepihak merupakan sikap tidak profesional dan tidak proporsional dari aparat. Mengapa aparat tidak mengamankan penyebab pingsannya banyak penonton dengan membiarkan penonton tanpa karcis menggedor-gedor dan memaksa masuk ke stadion? Mengapa solusinya justru stadion dibuka untuk penonton tanpa karcis? Di manakah perlindungan penonton berkarcis yang jelas-jelas membayar pajak ke pemerintah?
Hikmah dari penghentian konser tersebut adalah justru menjadi pemicu bagi pengungkapan rasa ketidakpuasan oleh para pelaku budaya terhadap berbelitnya perizinan penyelenggaraan konser.
Bersamaan dengan peristiwa itu muncul kontroversi sebab pihak kepolisian membuat pernyataan normatif, “untuk apa polisi melarang pentas seni?”. Meskipun demikian dalam praktik izin pentas sulit sekali keluar. Bahkan kalau kita baca outline draft yang dibuat oleh organiser konser So7 yang digunakan sebagai bahan dengar pendapat di DPR, nampak bahwa tidak terbitnya izin konser So7 dipandang oleh aparat karena berbagai alasan keamanan yang belum kondusif di DIY akibat dari pemilihan Wagub dan Sidang Tahunan MPR. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi kalau kita baca secara seksama dalam draft itu terkesan adanya “tawar menawar” biaya keamanan yang mencoreng perwujudan clean goverment di DIY.
Dalam era yang semakin bebas dan terbuka, sejalan dengan globalisasi, argumen yang mengedepankan bahwa demi keamanan kreativitas seni harus terpasung sudah tidak populer lagi. Sebab dalam masyarakat yang demokratis seni sudah merupakan bagian dari politik, ekspresi seni merupakan pengungkapan ide politik dan ekspresi politik bisa tersembunyi melalui kesenian. Namun hal yang paling penting adalah seyogyanya kita mengeksplorasi lebih lanjut adakah motif ekonomi-politik dibalik penghentian paksa konser So7 pada khususnya dan sulitnya perizinan konser di Kota Yogyakarta ini pada umumnya.
Oleh karena itu yang paling bertanggung jawab atas penghentian konser So7 dan sulitnya perizinan pentas seni adalah pemerintah daerah. Institusi keamanan bukan merupakan lembaga yang terpisah dan berjalan sendiri bagaikan enklave kekuasaan tetapi merupakan bagian dari sistem kekuasaan pemerintah daerah. Ia merupakan aparat pemerintah sehingga keberadaannya dalam kontrol kebijakan Gubernur. Alangkah lebih bijaksana dalam kasus ini kalau Gubernur tidak hanya berkomentar di media “Lha bagaimana komunikasinya?”, tetapi bertindak lebih kongkret, yaitu mensinkronkan kebijakan pemda dengan aparat keamanan. Semuanya ini demi menjaga dan mempertahankan Yogyakarta tetap sebagai senter, dinamisator dan barometer perkembangan seni, budaya dan intelektual.
(Heru Nugroho, Direktur Center for Critical Social Studies/CCSS di Yogyakarta)
November 16, 2001
Yogyakarta, Kompas - Sebagai puncak kekecewaan atas dibubarkannya konser The Big, Bigger & Biggest di Stadion Mandala Krida Yogyakarta tanggal 30 Oktober 2001, kelompok musik “Sheila on 7″ (So7) menyatakan kapok pentas lagi di Yogyakarta. Dengan berat hati, kelompok musik remaja dari Yogya tersebut minta penggemarnya di kota ini sudi menyaksikan pentas mereka di kota lain, seperti Magelang, Semarang, dan Solo.
Pernyataan itu dikemukakan juru bicara So7, Diky Wirawan, dan personel So7, Adam M Subarkah, Kamis (16/11), di depan Komisi A dan E DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Rapat yang dipimpin Wakil Ke-tua DPRD DIY, Totok Daryanto SE tersebut dihadiri Wakil Ke-pala Kepolisian Daerah (Polda) DIY, Komisaris Besar (Kombes) Drs Totok Suminto dan Kepala Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Yogyakarta Kombes Drs Ibnu Sudjak Mahfudz, serta Butet Kartaredjasa selaku seniman.
Konser itu dibubarkan polisi saat personel So7 baru tampil sekitar 15-20 menit dari rencana hampir dua jam, di depan 10.000-an penonton yang rata-rata remaja.
Dalam rapat bersama Komisi A dan E, Kamis kemarin, Kepala Poltabes Yogyakarta, Ibnu Sudjak menjelaskan, pihaknya mengambil langkah pembubaran mengingat massa yang terus mengalir dan memadati stadion Mandala Krida, sehingga tercatat 27 orang pingsan berdesak-desakan. Untuk menghindari kondisi yang lebih parah, dia memilih menghentikan konser.
Menurut Diky, jumlah orang yang pingsan, sengaja dibesar-besarkan polisi. Sebab menurut laporan Tim Pertolongan Per-tama Pada Kecelakaan (P3K) Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kota Yogyakarta, jumlah penonton yang pingsan hanya 15. Ini berarti, tidak adanya etos kerja profesional dari aparat.
Dilindungi Sultan
Diky dan Adam menilai, penghentian konser itu sebagai tindakan sepihak polisi. Persoalan utamanya, sebenarnya bukan karena ada orang yang pingsan, tetapi tidak adanya itikad aparat Polda DIY dan Poltabes Yogyakarta untuk memberikan izin terhadap konser tersebut. Padahal, Sultan Hamengku Buwono X, dalam suratnya tanggal 27 Oktober 2001, memberikan restu dan bersedia menjadi pelindung konser.
Diky menguraikan, sejak awal pengurusan permohonan izin, muncul gelagat aneh dari jajaran kepolisian. Semula konser direncanakan tanggal 25 Oktober 2001, namun Poltabes tidak memberikan rekomendasi dengan berbagai alasan keamanan, di antaranya isu sweeping anti AS, dan menjelang pemilihan Wakil Gubernur (29 Oktober). Panitia bisa memahami alasan itu, lalu mengajukan permohonan izin untuk konser tanggal 30 Oktober 2001. Namun hingga tanggal 27 Oktober, belum ada kejelasan dari Poltabes dan Polda DIY tentang keluarnya izin.
Berhubung tempat konser dan perangkat acara telanjur disewa, panitia tetap menggelar konser tanggal 31 Oktober 2001. Apalagi, Sultan sudah menyatakan melindungi. Pertimbangan lainnya, Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Ne-geri dan Kepala Polri tahun 1995 menegaskan, paling lambat tiga hari menjelang acara, polisi sudah harus memberikan jawaban terhadap permohonan izin. “Karena tidak ada jawaban penolakan, ya kami jalan terus,” ujar Diky.
Diky juga mencatat pada saat pengurusan izin, Poltabes menyatakan siap menurunkan 1.000 personel. Untuk itu, panitia diminta menyedikan uang lelah Rp 15.000 untuk tiap personel, atau total Rp 15 juta. Panitia hanya menyanggupi Rp 5 juta, belum termasuk untuk komandan lapangan.
Preseden buruk dan Perda
Pemain teater Butet Kertaredjasa mengemukakan, pembubaran konser So7 di Yogya, menjadi preseden buruk bagi pertunjukan seni budaya di masa datang. Sebagai kota seni-budaya, Yogyakarta sepantasnya memiliki Peraturan Daerah (Perda) tentang izin pementas-an, tanpa bergantung pada aturan normatif dari Kepolisian. Paradigma yang dianut polisi terlalu general, sehingga tidak layak diterapkan di Yogyakarta.
Butet mengusulkan agar jawaban memberi atau tak memberi izin pentas dari polisi diperpanjang jaraknya dari hari H pertunjukan, dan tidak terpaku pada tiga hari. Kepastian jawaban dari polisi hendaknya diperpanjang sampai 2-3 pekan, sebelum hari H pergelaran, karena menyiapkan sebuah pertunjukan butuh waktu beberapa pekan.
Wakil Ketua DPRD DIY Totok Daryanto menyambut baik gagasan itu. Namun, untuk kasus kali ini, dia menyarankan So7 tidak sampai kapok atau mutung (patah arang) pentas di Yogya
Konser yang dibubarkan itu dirancang untuk menghibur penggemar So7 di Yogyakarta, sebelum mereka masuk dapur rekaman album yang baru. (nar)
November 4, 2001
EMPAT jam lamanya kelompok musik pop terkenal asal Yogya, Sheila On 7 “terdampar” di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Kamis (1/11). Pasalnya, ketika semua penumpang Royal Brunei Airlines sudah bersiap duduk di dalam kabin dan pesawat semestinya sudah siap diterbangkan ke Bandar Seri Begawan, tiba-tiba terdengar suara pilot dari kokpit: semua penumpang diminta turun, karena ada kerusakan pesawat.
Sejumlah penumpang, mengaku melihat ada cairan mengucur dari sayap pesawat berbadan lebar Boeing 767 33AER. Pesawat bernomor penerbangan BI 732 yang sudah mulai ditarik mundur bersiap ke landas pacu, tiba-tiba ditarik kembali ke tambatan keberangkatan. Para penumpang bergegas turun dengan pikiran masing-masing, tanpa protes. Masih untung bisa selamat. “Daripada-daripada,” kata mereka.
Empat jam menunggu perbaikan kemungkinan bocornya bahan bakar pada salah satu sayap pesawat, tentu bukan waktu yang singkat. Rombongan Sheila: Duta, Adam, Eros, Sakti dan Anton bersama enam kru teknisi, maupun manajer dan mitra kerjanya dari De ‘fountain yang markas pusatnya di Brunei Darussalam, lalu menghabiskan waktu sambil bergeletakan di ruang tunggu. Setelah kecapaian, mereka keluar dari ruang tunggu, menuju galeri pertokoan dan minum di kedai kopi di bandara.
“Ini pentas pertama kami di Brunei,” ujar Duta, vokalis utama Sheila yang laris diminta foto bareng pramugari-pramugari Royal Brunei. Rupanya orang Brunei mulai kenal siapa Sheila, yang di Indonesia pernah meraih dua penghargaan AMI Awards ini.
Menurut Anton Kurniawan, manajer Sheila, sebelum ini Sheila tiga kali pentas di Malaysia pada Februari, Juni dan Oktober baru lalu. Di Singapura, dua kali pentas bulan Januari dan September.
“Sheila terakhir pentas Desember nanti. Setelah itu, Sheila masuk rekaman. Mereka baru akan keluar lagi Maret tahun depan, usai rekaman,” ungkap Anton yang mantan kru Radio Geronimo Yogyakarta, tentang kiprah anak-anak muda Studio 17 dari Jalan Atmo Sukarto di Yogya ini. (sha)
Source: Kompas
November 1, 2001
Bintang cilik Tasya Shafa Kamila, Rabu (18/10) malam, tampil memikat dan bikin gemes hadirin, dalam acara malam amal ( charity night) yang digelar di Graha Sabha Pramana UGM, Yogya. Tak heran bila puisi ciptaannya ketika dilelang bareng dengan sebuah gitar milik Erros Sheila On-7, laku Rp 30 juta.
Puisi Tasya itu berisi antara lain tentang simpatinya terhadap anak-anak yang bernasib tidak baik karena tidak sempat mengenyam bangku sekolah.
Acara malam amal — diselenggarakan oleh Yayasan Anak Bangsa (YAB) — yang dipandu MC ternama, Koes Hendratmo dan penyiar Radio Geronimo Yogya, Lusy Laksita, itu berlangsung cukup meriah melibatkan penonton. Tasya tampil perdana menyanyikan lagu dan setiap kali aktif berkomunikasi dengan penonton. Menyusul setelah Tasya adalah Rossa dan terakhir Yuni Shara. Koes Hendratmo juga menyumbangkan beberapa lagu yang setiap lagu diselingi oleh acara lelang.
Yuni Shara melantunkan beberapa lagu hits lama di antaranya yaitu Kisah Sedih di Hari Minggu, dan Mencintaimu. Yuni juga melantunkan lagu berjudul Dinda Bestari berduet dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Selain menyanyi, Sri Sultan juga membaca puisi lelang bersama Tasya.
Yang unik ketika anggota Sheila On-7, yaitu Adam, Sakti, dan Erros tampil untuk menyerahkan gitar lelang, saat didaulat menyanyikan lagu terbaru dari album kedua grup Sheila, mereka malah menyanyikan lagu anak-anak Balonku Ada Lima.
Malam Amal itu akhirnya berhasil menggalang dana sebesar Rp 181.560.000,00. Jumlah sebesar itu diperoleh dari hasil lelang foto Sri Sultan Hamengku Buwono X dan permaisuri GKR Hemas pada 1988, lukisan Padi koleksi Sri Sultan dan lelang gitar Erros Sheila On-7 beserta puisi ciptaan Tasya.
Harga lelang tertinggi dipegang oleh Luis dari YAB dengan membeli foto Sri Sultan seharga Rp 50 juta. Lukisan Padi berhasil menggaet dana senilai Rp 45 juta. Dana Perolehan transfer rekening YAB sebesar Rp 52.465.000. Donatur secara cash sebesar Rp 3.100.000.
Seluruh perolehan dana itu akan disalurkan pada seluruh anak bangsa yang membutuhkan, melalui kerja sama UGM dengan Kagama.
“Kami mempercayakan pada UGM untuk menyalurkan bantuan hasil lelang tersebut. Penerimanya akan ditentukan oleh UGM. Mereka memiliki data base anak bangsa yang membutuhkan bantuan.” tutur ketua panitia YAB, GRAj Nurmalitasari.
Source: Kompas
August 9, 2001
Grup musik Sheila On 7 yang namanya belakangan meroket di blantika musik pop Indonesia, merahasiakan asal-usul atau latar belakang terciptanya lagu bertitel “Sephia” yang menjadi salah satu hits album keduanya.
“Yang jelas, Sephia itu nama wanita yang hingga kini masih misteri,” kata salah satu pentolan personil Sheila On 7, Eross menjawab pertanyaan wartawan di Sanur (Bali), Kamis malam.
Saat ditanya lebih jauh, gitaris kelompok musik asal kota Gudeg itu terkesan mengelak untuk menjelaskan panjang lebar, mengenai latar belakang terciptanya lagu `Sephia` yang mendapat tempat di hati para penggemarnya.
Menyinggung kehadirannya di Pulau Dewata, Erros mengatakan, dia dan rekan-rekannya akan tampil dalam sebuah konser bertema “Tentang Persahabatan Sejati” sebagai rangkaian tur mereka di Lombok dan Bali.
Setelah sukses mengguncang stadion Turide Cakranegara, Mataram-Lombok, kini giliran Sheila On 7 akan tampil di Art Centre, Denpasar pada Sabtu dan Minggu (11-12 Agustus 2001).
Mereka direncanakan akan tampil `all-out` dengan membawakan sejumlah lagu yang pernah menduduki anak tangga lagu-lagu pop di beberapa radio swasta seperti, Sephia, Sahabat Sejati, Bangunkan Aku, Just For Mom, serta Tunggu Aku di Jakarta.
Selain itu, Sheila On 7 yang tampil dengan personil lengkap yaitu Duta (vokal), Adam (bass), Eross (gitar), Sakti (gitar) dan Anton (drum), juga akan membawakan beberapa lagu kondang lain dari album pertamanya seperti, Kita, Anugrah Terindah Yang Pernah Kumiliki, Dan, Jadikan Aku Pacarmu.
Sheila On 7 sendiri berharap konser mereka di Pulau Seribu Pura kali ini dapat mengobati kerinduan pada fans-nya yang ada di Bali, khususnya kota Denpasar.
Untuk mengantisipasi kejadian yang tak diinginkan, keamanan konser akan dikawal ratusan aparat keamanan yang dibantu puluhan pecalang (petugas keamanan desa adat). Selain itu, panitia juga mengasuransikan semua penonton yang membayar tiket seharga Rp25.000.
July 2, 2001
PENYANYI cantik kita Titie DJ (35) hari Kamis (28/6) menjelang tengah malam tiba-tiba nongol di Gallery 4 Concorde Hotel, Kuala Lumpur, Malaysia. Galeri tersebut adalah tempat di mana grup band Sheila on 7 sedang berlatih bersama Hanafie Imam ‘Strings’ Orkestra.
Untuk apa ia ke situ? Nonton pentas Sheila on 7?
“Aku lagi minta dibikinin lagu sama Eross. Tapi karena enggak dibikin-bikinin, aku uber aja dia ke sini,” gurau Titie. Eross, pencipta sebagian besar lagu-lagu Sheila on 7 cuma senyum-senyum saja mendengar gurauan Titie.
Usai melihat latihan Sheila on 7, Titie dan sejumlah rekan pun meluncur ke Hard Rock Cafe di samping Concorde Hotel. Grup band yang sedang tampil di kafe tersebut ialah NRG, sebuah band dengan lagu-lagu top 40 atau lebih cenderung lagu-lagu hard rock yang mengentak-entak.
Namun, nyatanya irama yang mengentak itu pun tetap saja tak mampu menahan laju kantuk Titie. Maklum hari sudah berganti Jumat (29/6), masuk dini hari. Melihat Titie “meredup”, sejumlah rekan “mengomporinya” untuk menyanyi. Maka tepat pukul satu pagi, Titie pun menyumbang satu lagu diiringi NRG, I Will Survive. Pengunjung pun bergoyang bersama Titie.
“Aduh, tadi ngantuk banget, tapi sekarang abis nyanyi, nyala lagi…ha-ha-ha. Band-nya bagus banget mainnya,” puji Titie setelah turun dari panggung. (lok)
Source: Kompas
April 1, 2001
>Minggu, 1 April 2001
Grup-grup Musik Berusia Muda
Yang Baru, yang Mendulang Sukses
KETIKA empat remaja putri tewas saat acara Meet & Greet dengan boysband asal Inggris, a1, di toko kaset Tarra Mega Stores Mal Taman Anggrek Jakarta, Minggu (18/3), orang pun terhenyak. Orang dewasa, para orangtua, jadi bertanya-tanya: Siapa a1? Kenapa para anak baru gede (ABG) yang jadi penggemar a1 begitu histeris sampai harus saling dorong dan saling injak demi mendapatkan tanda tangan empat cowok idola mereka itu: Ben Adams, Mark Read, Christian Ingebrigtsen dan Paul Marazzi?
Beberapa bulan sebelum tragedi a1 terjadi, 19 November 2000, Konser Sheila on 7 di GOR Saburai Enggal Bandarlampung juga memakan empat korban tewas. Pasalnya gedung olahraga yang berdaya tampung sekitar 4.000 orang, disesaki ABG hingga 10.000 orang. Mereka tewas karena kekurangan oksigen, berdesakan dan terinjak-injak. Orang tak habis mengerti, mengapa itu bisa terjadi? Mengapa mereka begitu fanatik pada sebuah grup band dan rela berjubel-jubel untuk menonton aksi grup band yang mereka sukai?
Masyarakat awam memang kurang mengenali grup-grup band yang kini tengah digandrungi para remaja ini. Ikuti kisah mereka yang belum lama menapaki dapur rekaman industri musik dan sukses menggaet sejumlah besar penggemar. Siapa saja mereka? Sebut saja Sheila on 7, Base Jam, Naif, Jikustik, dan /rif. Ini hanya sebagian dari banyak grup band yang belakangan ini meramaikan layar kaca kita.
***
SHEILA on 7. Sebelumnya mereka hanyalah sekelompok remaja yang rumahnya sebagian besar saling berdekatan di Jalan Kaliurang Yogyakarta. Mereka adalah Adam Subarkah (bass), Anton Widiastanto (drum), Saktia Ari Seno (gitar), Eross Candra (gitar), dan Akhdiyat Duta Modjo (vokalis). Mereka suka nongkrong di tempat tukang tambal ban di daerah Kaliurang itu, kemudian membentuk grup musik yang tampil di acara-acara sekolah.
Tanpa diduga album perdana mereka Sheila on 7 (1999), meledak di pasaran. Di tengah ngos-ngosan bisnis kaset di mana untuk lagu-lagu pop mencapai angka penjualan 100.000 saja susah, penjualan perdana Sheila on 7 mencapai angka 1,2 juta kopi.
Momentum emas telah lahir. Segera album kedua diluncurkan September 2000 lalu berjudul Kisah Klasik Untuk Masa Depan, yang kini telah terjual lebih dari 1,5 juta kopi.
Dari sisi bisnis kaset, Sheila on 7 menjadi fenomenal. Terlepas dari segi musikalnya, Sheila on 7 sebenarnya hanya mengungkapkan sebuah dunia yang biasa diekspresikan komoditas industri pop, yakni kehidupan dan impian-impian remaja. Simak saja lagu-lagunya.
Saat ini semua remaja tengah demam lagu-lagu Sheila on 7. Banyak sinetron remaja di televisi menggunakan lagu-lagu Sheila on 7 sebagai theme song-nya. Di mana-mana, di radio-radio, di layar kaca, pengamen-pengamen di atas bis kota selalu melantunkan lagu Sephia, salah satu hits Sheila on 7.
Kisah hidup mereka telah berbalik 180 derajat. Dari semula hanya menjadi band pembuka dari sebuah acara yang menampilkan grup-grup band terkenal apabila mereka tengah manggung di Yogyakarta, misalnya GIGI, kini Sheila on 7 selalu dielu-elukan di setiap konsernya. Bahkan, sempat terjadi “tragedi” di Bandarlampung. “Hal seperti itu tak kami inginkan,” kata Duta dalam sebuah kesempatan.
***
….. Yg lain baca di sini
March 27, 2001
Pertunjukan musik Sheila on 7 di Gedung Olahraga (GOR) Bima, Cirebon, Minggu (25/3) siang, diwarnai kerusuhan sehingga belasan penonton luka-luka. Peristiwa itu terjadi ketika pengunjung berdesak-desakan di akhir acara pertunjukan.
Menurut informasi yang didapat Kompas, korban luka-luka itu antara lain Tapsir (22), warga Cirebon yang kena tembak pada betis kanannya, Karno (21) dan Gusur (18), keduanya luka-luka akibat terkena sabetan sehingga mengalami lebam-lebam. Para korban dilarikan ke Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon.
Hingga kemarin belum diketahui peluru pihak mana yang bersarang di kaki Tapsir dalam kerusuhan tersebut. Menurut pihak rumah sakit, peluru yang bersarang di kaki korban akan dioperasi Selasa pagi ini. Korban masih terbaring di rumah sakit dalam kondisi lemah.
“Kami berharap pengusutan pelaku penembakan dilakukan secara serius. Bayangkan bagaimana jika peluru ini bersarang di bagian tubuh yang vital,” kata salah seorang keluarganya.
Belum ada keterangan resmi yang menyangkut peristiwa ini. Aipda Bahaji, petugas piket Polresta Cirebon pun tak tahu menahu ketika dihubungi. “Kalaupun saya tahu harus menghubungi Kapolres dulu. Bapak Kapolres sejak kema-rin berada di luar kota,” katanya.
Akan tetapi, sejumlah penggemar Sheila on 7 menuturkan, rusuhnya pertunjukan itu akibat tidak memadainya gedung. Kapasitas GOR Bi-
ma diperkirakan 4.000 orang, sedang pengunjung diperki-
rakan mencapai 6.000-an orang. Sementara mereka yang tak dapat karcis dan menerobos masuk kira-kira 1.000 orang.
Semula ratusan petugas berhasil mengamankan massa yang berada di dalam dan di luar gedung. Akan tetapi di akhir pertunjukan, massa di luar gedung tak terkendalikan. Mereka saling mendorong dan pukul sehingga memicu kerusuhan.
Sebagian pengunjung, termasuk para korban, mencoba lari untuk menghindari massa yang berdesak-desakan dan saling pukul, namun, tak terhindar dari aksi itu. Tapsir, misalnya, yang lari hingga depan pintu masuk, tiba-tiba jatuh tersungkur karena kakinya tertembus peluru. Sedang Karno dan Gusur yang juga lari, kena sabetan benda pada wajah mereka. Belasan pemuda lainnya juga luka-luka dalam peristiwa tersebut.
Pertunjukan itu sendiri sudah berakhir pukul 17.00, namun massa di dalam gedung, termasuk personel Sheila on 7 tertahan hingga pukul 19.00. (zal/top/thy)
Source: Kompas
February 19, 2001
Judul Album: Kisah Klasik Untuk Masa Depan
Artis : Sheila On 7 (SO7)
Penerbit: Jan Djuhana
Edaran:Sony Music (M)
Selamat tidur kekasih gelapku
Semoga cepat kau lupakan aku..kekasih sejatimu
Takkan pernah sanggup untuk melupakanmu
Selamat tidur kasih tak terungkap
Sephia…jangan pernah panggil namaku
Bila kita bertemu lagi di lain hari
Hadapilah ini, kisah kita takkan abadi.
Demikianlah petikan lirik lagu Sephia yang berjaya mempopularkan kumpulan Sheila On 7 (SO7) dari Indonesia di negara ini. Lagu berentak alternatif yang dimuatkan dalam album Kisah Klasik Untuk Masa Depan itu dicipta oleh pemain gitar kumpulan SO7 Eross Chandra.
Selain liriknya yang ringkas, keindahan lagu ini turut terletak kepada iramanya yang sederhana dan memikat pendengar terutamanya di kalangan remaja.
Selain Sephia, Eross turut mencipta tujuh lagu lain dalam album yang mendapat sambutan memberangsangkan di pasaran Indonesia iaitu dijual lebih 1.3 juta unit.
Lagu itu ialah Karna Aku Setia, Sahabat Sejati, Pagi Yang Menakjubkan, Tunjuk Satu Bintang, Sebuah Kisah Klasik, Bila Kau Tak Di Sampingku dan Temani Aku.
Menurut anak muda yang lahir pada 3 Julai 1979 ini, proses kreatif yang ditimba dari pengalaman dalam muzik menyebabkan dia banyak memahami kehendak rakan seusianya.
Bagi Eross, proses penciptaan lagu yang dihasilkannya lahir daripada pengalaman yang pernah dilaluinya sendiri.
Sebagai remaja yang berusia awal 20-an, jelas Eross, dia hanya mampu menulis perkara-perkara yang berkaitan dengan pengalaman sendiri dan rakan-rakan sebayanya.
“Tidak mungkin untuk saya menulis lagu atau lirik berdasarkan pengalaman orang lain kerana kami mahu menyampaikan sesuatu yang lahir daripada idea dan keadaan kami sendiri,'’ ujarnya.
Kerana masih lagi digelar anak-anak, maka proses penciptaan lagu dan lirik juga perlu ringkas tetapi jujur kepada peminatnya.
Anak kelahiran Yogyakarta yang meminati muzik alternatif ini juga amat senang diajak berbicara tentang penghormatannya kepada kaum wanita seperti diketengahkan melalui beberapa lagu di dalam album berkenaan.
“Banyak perkara yang boleh dibicarakan tentang wanita. Seperti saya katakan, kami mahu bebas berbicara tentang sesuatu yang digemari oleh rakan-rakan seusia kami dan itulah yang kami cuba tampilkan,'’ jelasnya lagi.
Malah menurut Eross lagi, nama kumpulan mereka, Sheila juga diabadikan demi menghormati kaum wanita yang pada pandangannya menzahirkan kelembutan dan memberi banyak inspirasi kepada penghasilan lagu dan lirik ciptaannya. Kegawatan politik yang berlaku di negara kelahiran mereka juga jelas Eross, turut memberi kesan yang mendalam kepada industri hiburan.
Bagaimanapun dia melahirkan rasa bersyukur kerana di dalam keadaan hu-ru-hara, masyarakat peminat masih memberikan perhatian kepada album-album yang mereka pasarkan.
Album pertama SO7, Dan pada tahun 1998 terjual melebihi 1 juta unit di Indonesia. Sementara album Kisah Klasik Untuk Masa Depan pula sudah mencatat jualan melebihi 1.3 juta unit.
“Kami muncul ketika keadaan politik negara tidak stabil. Tetapi apabila album-album kami tetap mendapat sambutan ia merupakan rahmat dan anugerah yang paling berharga daripada Tuhan,'’ katanya.
February 4, 2001
LEBIH kurang pukul 2.30 petang ini, Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Lumpur (KLIA) akan menerima kunjungan tetamu istimewa dari Jakarta, Indonesia.
Pesawat Penerbangan Malaysia (MAS) telah menerbangkan kumpulan muzik popular dari negara jiran, Indonesia, Sheila On 7.
Sebaik mereka menjejakkan kaki ke bumi bertuah Malaysia, pastinya peminat seni suara tanah air akan dilanda demam kumpulan itu.
Ini kerana sudah sekian lama, pencinta muzik Indonesia di negara ini merindui untuk melihat sendiri wajah lima anak muda yang menganggotai kumpulan yang cukup popular dengan lagu Dan itu.
Demikian juga rakyat negara yang serumpun dengan Malaysia yang menetap di sini, sudah tidak sabar-sabar untuk bersua muka dengan artis yang mempunyai pengaruh yang cukup besar di negara bekas tanah jajahan Belanda itu.
Sheila On 7 atau ringkas SO7 khabarnya sudah bersiap sedia untuk `menggempur’ industri muzik Malaysia yang sebelum ini telah banyak menerima kehadiran artis seangkatan seperti kumpulan Dewa, Kris Dayanti, Rosa, Reza dan ramai lagi.
Mereka tiba di sini dengan seribu harapan agar muzik dan imej mereka dapat diterima dengan baik.
Selama enam hari di Kuala Lumpur, Duta, Eross, Anton, Saktia dan Adam yang menjadi tunjang kekuatan SO7 berharap muzik akan menyatukan dan mengukuhkan lagi hubungan dua hala antara karyawan muzik kedua-dua negara.
“Seperti juga teman artis negara kami yang lain, SO7 juga tidak mahu ketinggalan `mencuri’ perhatian peminat muzik di Malaysia.
“Kami difahamkan industri muzik di Malaysia turut mengalami perubahan yang besar dan kami mahu berkongsi idea dan pengalaman itu,'’ kata mereka dalam satu kenyataan melalui syarikat rakaman Sony Music (M) Sdn. Bhd.
Berikutan kejayaan SO7 mencipta kejayaan memberangsangkan di negara mereka melalui catatan jualan album melebih 1.3 juta unit untuk album sulung mereka, Sony Music (M) Sdn. Bhd. tidak teragak-agak untuk membawa mereka ke negara ini.
Menurut Pengurus Kanan Promosi syarikat tersebut, Sam Kassim, berikutan itu pihaknya telah menyiapkan jadual yang padat untuk kumpulan itu sepanjang enam hari mereka di sini.
Katanya, selain mengadakan temu ramah dengan pihak media, SO7 juga akan beraksi dalam satu mini konsert yang akan diadakan di pusat hiburan Mcities, Kuala Lumpur pada 9 Februari ini.
“Kunjungan sulung mereka ke Kuala Lumpur dijangka akan mendapat sambutan hebat memandangkan SO7 mempunyai nama dan pengaruh yang cukup besar di Indonesia dan Kuala Lumpur,'’ jelas Sam lagi.
Kunjungan SO7 ini juga bukan sekadar untuk bertemu peminat mereka tetapi juga mempromosikan album kedua Kisah Klasik Untuk Masa Depan.
Kepada peminat setia SO7 jangan lupa mengikuti perkembangan kumpulan itu sepanjang mereka di Kuala Lumpur melalui akhbar dan radio rasmi Era yang akan menghebahkan perkembangan mereka dari semasa ke semasa.
January 12, 2001
GITARIS Gigi, Dewa Bujana (37) diam-diam jadi penggemar kawan sendiri. Di atas panggung “Jamz Matra Jazz” kedua yang digelar di Jamz Cafe, Rabu (10/1) malam, saat ditanya MC, dia berterus terang mengagumi permainan gitar seniornya, Kiboud Maulana, Oele Patiselano, dan rekannya Tohpati. “Saya suka tiga-tiganya,” kata Bujana.
Meskipun menggemari permainan gitar rekannya, bukan berarti Dewa Bujana tak punya penggemar. Dia banyak penggemarnya lho. Buktinya, sebelum pentas, tiba-tiba Dewa Bujana didatangi dua personel Sheila on 7: Eross dan Saktia yang mencarinya di ruang pemain di belakang panggung.
Sheila on 7 dalam satu wawancara dengan Kompas beberapa bulan lalu sempat mengatakan bahwa grup band di Indonesia yang menjadi idola mereka adalah Gigi. Rupanya, ketika tahu Dewa Bujana bakal manggung, dua gitaris Sheila on 7 itu tak mensia-siakan kesempatan untuk menimba ilmu dan informasi dari Dewa Bujana. Mereka bertanya-tanya tentang gitar yang digunakan oleh Bujana tersebut.
Tentang hal ini, lelaki kelahiran Waibubak, Klungkung (Bali), 30 Agustus 1963 berkomentar, “Diskusi tentang alat itu biasa bagi sesama musisi.” Oh, ternyata Bujana tak pelit informasi. Dia dengan suka hati membagi apa yang dia punya.
Di atas panggung “Jamz Matra Jazz” ia membawakan dua nomor dari album pertamanya, Nusa Damai: Bermain dan Lalu Lintas. “Aku sibuk banget soalnya rekaman sebulan penuh,” katanya.
Tak apa, toh dua nomor lamanya itu mampu membuat orang terkesima, sampai-sampai beberapa penonton di deretan belakang pun berteriak-teriak memelesetkan namanya jadi Dewa Ratnasari! (lok)
Source: Kompas
October 19, 2000
Promo album kedua Sheila on 7 (So7) yang bertajuk Kisah Klasik Masa Depan di 10 kota di Jawa dan Sumatera mendapat sambutan hangat dari penggemarnya. Bahkan ketika pentas di Yogyakarta, yaitu di Ra- disson Yogya Plaza penonton membludak.
Menurut Anton Kurniawan, Manajer So7 kepada Bernas, Rabu (1/11) promo album kedua So7 mendapat sambutan hangat dari penonton di setiap kota yang disinggahi. Penonton kelihatannya sudah menunggu-nunggu So7 tampil di hadapan mereka.
Di setiap kota yang disinggahi, kata Anton, penonton cukup banyak yang hadir sehingga memenuhi tempat pertunjukan. “Bahkan ketika kami tampil di depan publik kami sendiri di Radisson Yogyakarta, penonton berjubel,” kata Anton.
Semenjak merilis album kedua yang diluncurkan awal Oktober lalu, So7 telah melakukan promo album kedua. Ada 10 kota yang telah dan akan mereka singgahh, yaitu Bandung, Sukabumi, Jember, Malang, Kediri, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Solo dan Lampung. Sabtu (4/11) mereka akan tampil di Hotel Quality Solo. Sedangkan promo album kedua ini akan diakhiri di Lampung.
Sambutan hangat dari penonton tersebut, kata Anton, tidak terlepas dari lagu-lagu yang dibawakan setiap kali So7 pentas. Setelah mempunyai dua album, So7 mempunyai perbendaharaan lagu yang cukup banyak. Di setiap pentas mereka bisa tampil selama 1,5 jam dengan menyanyikan 16 sampai 17 lagu yang diambil dari album pertama dan kedua.
So7 sampai sekarang masihdigawangi oleh Anton (drum), Erros (gitar), Sakti (gitar), Adam (bass) dan Duta (vokal). Mereka menjadi kebanggaan kota Yogyakarta sebagai salah satu grup band asal luar Jakarta yang sangat sukses. Bahkan So7 bertekad untuk tetap berhome base di Yogyakarta.
Lagu-lagu macam Kita, Dan, JAP, Perhatikan Rani dari album pertama dan lagu-lagu seperti Sephia, Bila Kau Tak Disampingku dari album kedua relalu mereka tampilkan di atas pentas. Lagu-lagu tersebut pun tampaknya sudah akrab di telinga penonton sehingga ketika So7 tampil mereka turut menyanyikan lagu yang dimainkan.
Kesuksesan So7 di album perdana yang terjual hingga 1,2 juta keping, juga diikuti oleh album kedua ini. Baru sebulan diluncurkan, menurut Anton, album mereka ini sudah terjual hampir 500.000 keping. “Mudah-mudahan album kedua ini bisa menyamai album pertama,” kata Anton.
Sukses album So7 tersebut ternyata tidak hanya di Indonesia tetapi juga merambah ke negeri jiran, Malaysia. Bahkan So7 juga berencana untuk melakukan promo album ke Malaysia setelah bulan puasa nanti.
“Setelah tour promo album kedua selesai So7 akan istirahat sebentar. Apalagi pada saat itu bersamaan dengan bulan puasa. Setelah bulan puasa, rencananya kami akan melakukan promo album ke Malaysia. Sedangkan waktu istirahat puasa akan kami manfaatkan untuk demo-demo lagu,” kata Anton.
October 18, 2000
Lima orang personel grup musik asal Yogya, Sheila On-7, Rabu (18/10) datang sowan kepada Gubernur DIY Sri Sultan HB X di Gedhong Wilis Komplek Kepatihan untuk minta doa restu berkaitan dengan peluncuran album kedua kelompok itu yang berjudul Kisah Kasih Untuk Masa Depan serta tur Sheila On-7 ke 10 kota di Indonesia.
Mereka datang didampingi Produser Sony Music Indonesia, Jan Juhana, serta komposer asal Yogya, Sapto Rahardjo, selaku fasilitator, diterima langsung oleh Sri Sultan HB X.
Dalam rangkaian tur tersebut, saat ini mereka baru melakukan di tiga kota, yakni di Bandung, Sukabumi, dan Jember. “Rencananya 28 Oktober nanti kami akan pentas di Yogya, tapi tempatnya belum kami tentukan,” ujar Duta, vokalis Sheila On-7.
Soal komposisi personel kelompok ini selama tur keliling kota, tidak berubah, yakni vokal Duta, gitar melodi oleh Erros dan Sakti, bas gitar oleh Adam dan drum tetap dipegang Anton.
Menanggapi hal tersebut, Sri Sultan HB X mendukung sepenuhnya rangkaian dan rencana pentas Sheila On-7 di Yogyakarta nanti. Sultan mengharapkan agar acara tersebut menorehkan kesan positif bagi kota Yogya.
“Saya juga berpesan, nanti jangan sampai menghilangkan ciri khas kota Yogyakarta ini,” pesan Sri Sultan.
Kelompok Sheila On-7 yang personelnya adalah anak muda Yogyakarta itu mulai menanjak namanya di blantika musik Indonesia pada 1999 saat mereka menelorkan album perdana di bawah Sony Music Indonesia. Musiknya enak didengar. Lirik yang hampir semua dikerjakan Erros juga mudah dicerna, tidak njelimet dan mengena selera anak muda.
Kelompok musik ini berdiri pada 1996. Beberapa kali ikut festival dan sering menang. Pada awal karier mereka, sebelum sukses meluncurkan album, Sheila On-7 mulai dikenal ketika sering jadi band pembuka band kondang masal Gigi, Pas dan /rif.
Kepada wartawan seusai pertemuan dengan Sri Sultan kemarin, Duta menjelaskan, sejak peluncuran album kedua Sheila On-7 pada 24 September 2000 lalu hingga kini telah laku 400 ribu keping. Dijelaskan pula, selesai melakukan tur 10 kota di Indonesia, Sheila On-7 akan berpentas di negeri jiran, Malaysia.(sun)
Source: Kompas
January 7, 2000
TIDAK pelak lagi Sheila On 7 (SO7) meraup keuntungan jauh lebih banyak ketimbang band-band yang bermunculan di penghujung abad 20. Album mereka tidak kurang dicetak ulang lebih dari sejuta keping. Seperti juga Padi, SO7 tidak pernah membayangkan bisa menangguk angka sebesar itu. SO7 yang menjadi fenomena ini hanya yakin dengan musik yang dimainkan.
Grup yang beranggotakan Duta, Eros, Sakti, Adam dan Anton ini datang dari kota Yogyakarta, kota yang tadinya tidak diperhitungkan di kalangan musisi moderen.
Musik yang disampaikan oleh kelima bujang ini sangat easy listening dan berbau komersial. Ramuan mereka mencampurkan antara manisnya musik pop dengan hentakan rock n’ roll. Walhasil mereka mempunyai lagu-lagu yang langsung diterima oleh pasar. Thema-thema yang diambil tidak seberapa jauh dari kehidupan kebanyakan orang, tentang cinta, persahabatan dan perselisihan. Namun mereka memberi nuansa keriangan pada setiap nomor-nomornya. Khas dan ’sangat Yogya’.
Seperti kebanyakan musisi muda saat ini, mereka sangat yakin dengan musik yang mereka bawakan. Dari serangkaian ujicoba diatas panggung, mereka sangat bisa dibedakan dengan grup-grup lainnya. Mereka mempunyai warna sendiri.
Meskipun SO7 juga memainkan karya-karya musisi lain, namun bukan berarti mereka menjadi pengekor. Kemampuan menjadikan adaptasi sebagai pengkayaan musikalitas tersimak dalam berbagai tembang hit grup yang berada di bawah bendera Sony Music Indonesia.
Pihak label sangat terkesan dengan kemampuan dan warna musik mereka dan SO7 mengantongi kontrak rekaman hingga enam album. Grup yang mempunyai hit seperti ‘Sephia’, ‘Bila Kau Tak Disampingku’, ‘JAP’ atau ‘Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki’ ini tidak bisa menjabarkan warna musik mereka sendiri.
SO7 tidak pernah memproklamirkan jenis musik mereka, meskipun banyak orang yang memberi label warna pada diri mereka. Yang jelas SO7 menampilkan kesederhanaan baik dari musik maupun liriknya.
Dalam setiap nomor yang disajikan tidak pernah ada lompatan-lompatan nada yang membuat pendengarnya mengernyitkan dahi. Begitu juga liriknya yang sangat enak untuk diikuti dan tentunya langsung tertanam di benak pendengarnya.
July 6, 1999
SEPEDA motor punya andil besar dalam perjalanan karier Sheila On-7 (SOS). “Kalau nggak ada motor, album perdana kami tak bakal keluar,” ungkap Duta, vokalis SOS, pada pentas di acara Gudang Garam Ford Euro Asia Cup 2000, sirkuit Sentul, Aha (6/2).
Berkat sepeda motor, aktivitas keluar masuk studio rekaman jadi lancar. “Apalagi jalan-jalan di Yogya padat dan sempit. Ke mana-mana jadi lebih cepat,” ujar lajang yang kerap melantunkan lagu ‘Dan’ serta ‘Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki’. Bahkan saking hobinya naik motor, “Biar hujan kami tak peduli, jalan terus,” sambungnya.
Tidak heran apabila mereka juga tarjangkit virus modifikasi dan selalu berupaya tune-in dengan trend. Contohnya Anton. “Honda Tiger saya suspensi belakang diubah monosok,” ungkap penggebuk drum berambut gondrong ini.
Sedang Duta sang vokalis, lebih senang ‘menelanjangi’ Suzuki RGR 1993 miliknya. Selain itu, ia juga melakukan sedikit modifikasi dengan mengganti lampu depan yang berbentuk bulat.
Waktu belum sesibuk sekarang, lima sekawan yang terdiri dari Duta, Anton, Eross, Adan dan Sakti ini suka jalan-jalan bareng. Namun lantaran order manggung kian gencar, kegiatan bermotor bersama tan pernah lagi dilakukan. er, otomotif
Source: Kompas