September 12, 2005
BANYAK penyanyi dan hebat kita miliki. Mereka berjaya di panggung-panggung festival, masuk dapur rekaman, bahkan berhasil menjual albumnya jutaan kopi di Tanah Air. Namun, berapa banyak yang mampu menembus pasar internasional? Sangat sedikit artis Indonesia yang go international, dalam artian namanya dikenal orang di luar negeri baik lewat album rekaman ataupun pemunculannya di panggung-panggung musik internasional.
Melihat realitas ini, tentulah kita berbangga hati menyaksikan sukses yang diraih Anggun. Debut internasionalnya lewat album Anggun (versi Perancisnya Au Nom de la Lune) yang melejitkan single Snow on the Sahara ternyata menggebrak 33 negara. Satu prestasi yang belum tertandingi artis Indonesia lainnya. Di Amerika, album Anggun terjual 100 ribu kopi dan berhasil duduk di urutan 19 the Billboard Border Breaker Charts. Di Kanada, Inggris, Jerman dan Italia, album dan single Anggun mendapat sertifikat double platinum. Di Spanyol, single-nya berhasil menembus tangga nomor satu.
Diakui Sheila on 7, selain kiprah Anggun tadi, artis Indonesia mungkin baru dikenal di Malaysia dan Singapura. Jika ada artis negeri ini yang diundang ke Amerika atau Australia, misalnya, bisa ditebak pasti yang mengundang adalah mahasiswa yang kuliah di sana.
Menurut Eross, kalau ingin menembus pasar internasional seperti Amerika dan Inggris artis harus punya kemauan kuat. Termasuk harus menetap di negeri tersebut. “Kemauan sih sudah ada. Tapi kalau untuk harus tinggal di luar, kami masih mikir.
Kenapa harus tinggal di sana? Sebab produser-produser internasional sangat jarang ke Indonesia. Kalau kami tetap di sini, kami nggak akan pernah dilirik oleh mereka” begitu alasan Eross.
Bagaimana dengan faktor lirik lagu, apakah pakai bahasa Inggris?
“Itu mungkin juga salahsatu cara. Tapi menurutku, bahasa sepertinya enggak penting. Bahasa itu hanya semacam alat transportasi saja. Yang penting adalah pesan atau tujuannya tercapai. Bagiku, musik itu enggak bisa dibicarain, tetapi kita dengar dan kita apresiasi” kata Eross, yang bareng So7-nya sedang sibuk tur 34 kota.
Pasar Bursa Musik Internasional itu menjadi semacam forum informal bagi para pengusaha hiburan musik untuk bertemu muka, melakukan penjajakan dan melihat berbagai kemungkinan untuk bekerjasama memproduksi kaset atau CD.
Dari Marche internationale de disques et l’Edition Musicale (MIDEM) , menurut Kaka vokalis Slank, mengganjar Slank dengan serentetan tur, yakni Slank Korea Tour dan Slank Japan Tour. Slank juga ditunjuk jadi guest star di acara MTV Asia Music Award 2004 di Singapura. Di Jepang dan Korea, Slank juga sempat merekam album.
“Yaa kalau untuk menyanyi, kita nggak boleh asal. Bermain musik itu memang membuat kita enjoy. Apalagi aku juga tertarik dengan entertainment-nya. Artinya, aku naik panggung dan orang bayar menonton. Jadi Slank harus memberikan kepuasan sebanyak yang dia bayar dong. Bukannya kita senang-senang saja enjoy main tanpa mempedulikan penonton. Filosofis-filosofis ini yang mungkin nggak dimiliki artis kita” papar Kaka Slank.
Yaa, mereka semua tahu betul apa yang menjadi tujuan mereka. Untuk mewujudkannya, tentulah kerja keras diperlukan.
Tampil di manca negara itu gampang. Banyak artis Indonesia yang sudah melakukannya. Namun yang benar-benar go international dalam arti sebenarnya, hampir tidak ada. Jika ada, hanya Anggun. Itu pun harus lewat Perancis terlebih dahulu.
“Tidak gampang menembus musik dunia. Tidak karena kualitasnya, tapi karena masyarakat sana (barat), memandang sebelah mata karya musisi Asia,” kata Krisna J Sadrach, pentolan Suckerhead.
“Karena sulit, mendingan konsentrasi di dalam negeri saja. Bukannya pesimis, tapi karena memang tidak mudah. Pebedaan budaya akan jadi penghalang,” tandas Krisna.
Source: MP
April 8, 2005
ADA cerita menarik dari Sheila On 7. Kemunculan mereka mencuri perhatian. Waktu itu, belum ada band dengan wajah personel selugu mereka, badan dibalut T-shirt produksi distro, khas Yogya yang sederhana, tapi justru menjadikan So7 begitu membumi.
“Secara musik, kita bisa bikin lagu sebagusnya, tapi enggak asyik juga kalau secara visual kita tampil plain” ujar Anton Kurniawan, Manajer So7.
Anton pernah nonton konser The Cure. “Saya cuma bisa tahan nonton sepuluh lagu, setelah itu boring banget”.
Band panggung = entertainer. Maka penampilan sangat perlu. Di samping atraksi, juga kostum.
Di So7 tak ada desainer khusus merancang baju atau kostum. Memang ada yang distro yang support So7, namun kalau pas kepepet, yaa Eross cs belanja baju di mall.
“Artis itu akan selalu tampil di mana pun. Makanya, mereka harus punya ciri dan karakter yang bisa diingat. Bayangan mereka muncul saat nama band itu disebut. Jadi ada identitas, gitu” jelas Anton.
Superman Is Dead (SID), band asal Bali, muncul dengan tampang bandel dan kostum bertema Suicide Glam. Mereka menyatakan diri sebagai wakil generasi muda saat sekarang.
Tentang ‘penampilan’ ini, enggak jarang recom (recording company/label rekaman) melakukan intervensi. Sering terjadi ‘konflik kecil’ akibat campurtangan itu.
“Visualisasi sebuah band bukan hanya di panggung. Bisa juga muncul lewat video klip. Bahkan lewat pakaian sehari-hari. Kadang para artis itu sendiri tidak terlalu memikirkan bagaimana caranya membangun image karena pencitraan itu terbangun dengan sendirinya. Biasanya, apa yang mereka pakai memang beda. Terkadang dari kostum ini terbentuk keeksentrikan” papar Rudolf Dethu, Manajer Superman Is Dead.
Kostum, menurut Dethu, merupakan sebuah paket dari gaya dandan. Dan itu bukan bentukan, melainkan muncul dari diri sendiri.
Shaggydog tampil ala kadarnya. Band ska asal Yogya yang melejit lewat lagu Kecoa dan Anjing Kintamani ini mengenakan pakaian sehari-hari tiap naik panggung. Kaus oblong atau baju biasa.
“Tidak ada busana khusus untuk pentas,” ujar Memet, manajer Shaggydog.
Di pentas manapun, band yang berawal dari komunitas Kampung Sayidan ini selalu bangga dengan baju ‘kerakyatannya’ itu. Menurut Memet, lagu-lagu yang diangkat Shaggydog berkisah tentang keseharian. Karena itu, kostum panggung pun mengacunya. “Jadi pilihan kostum ini bukan karena tidak punya konsep. Justru kita menyesuaikan dengan segmen. Kalau pakai busana glamour, mungkin malah tidak akan masuk. Tidak sesuai tema,” paparnya.
Meski tampil seperti itu, Doggies (penggemar Shaggydog) tak kecewa. Termasuk ketika beberapa personel telanjang dada di atas pentas. “Lha kalau gerah karena panas, Heru (vokalis) dan Yoyo (drummer) sering telanjang dada. Toh penonton juga tak ada yang protes,” tambah Memet.
Shaggydog pernah tampil dengan pakaian resmi. “Tapi itu dulu. Di sebuah acara fomal. Kini, di mana pun anak-anak tampil apa adanya,” tandas Memet.
Lain dengan Seurieus, band indie yang sedang naik daun dengan lagu Rocker Juga Manusia. Band asal Bandung ini sangat mengutamakan kostum. Dandanan rocker 80-an mereka jadikan pijakan. Maka penampilan Seurieus sangat semarak. “Kita kan band rock. Harus tampil menarik. Konsep kita rock 80-an. Kostum pentas kita sesuaikan dengan konsep itu” ujar Rindhan, Management Seurieus.
Beda dengan band rock sekarang, Seurieus berpakaian seperti rocker era Van Halen, Kiss, Cinderella dan lainnya. Kaos bermotif, dipadu celana loreng atau hitam, dengan aksesoris bertabur di tubuh, Candil, vokalisnya pun selalu pakai wig. Dengan aksi itu, penampilan Seurieus jadi lebih total.
Ada anggaran khusus kostum Seurieus?
“Tergantung situasi. Tak bisa dikatakan berapa anggaran pastinya. Yang jelas, bagi kami, kostum itu salah satu daya tarik di panggung,” tukasnya.
(abp/lat)
Source: Minggu Pagi
February 1, 2005
SAMPAI akhir tahun kemarin, musik yang mampir di telinga selain hiphop/R&B, masih didominasi pop. Yang berkutat dengan balutan musik tiga jurus, serta hook-hook yang terbangun dari riff-riff sederhana tapi catchy dan langsung nonjok kuping. Tapi di sela-sela semua itu, satu tren baru mengintip. Nggak baru benar sih. Dulu sempat merajalela, namun ditinggalkan begitu saja lantaran dianggap terlalu mengkultuskan sosok musisi di mata penggemarnya.
Perlahan tapi pasti, di sepanjang 2004 kemarin, sosok gitaris mulai tak sungkan lagi mempertontonkan kelihaian menarikan jemari di atas fret gitar. Entah siapa yang awalnya memanasi mereka untuk ikut tampil begitu. Tapi yang jelas mereka seperti kompak untuk menimbulkan lagi gelombang pendekar gitar.
Simak aja permainan Nic Cester dan Cameron Muncey-nya Jet. Dave ‘Brownsound’ Baksh-nya SUM 41. Mark Tremonti-nya Alter Bridge. Slash-nya Velvet Revolver. Band Indonesia pun tak mau kalah, ada Eross So7, Piyu Padi, Lukman Peterpan, Abdee Slank, Andra Dewa…
“Aku sudah nggak berkutat lagi dengan strumming standar. Licks-licks penuh manuver harus aku pamerkan di setiap lagu” kata Eross, Jumat 21/1 lalu.
“Oleh personil Padi yang lain, saya memang diberi ruang lebih banyak untuk bereksplorasi dan bicara sebagai seorang gitaris” ungkap Piyu, dihubungi lewat telepon Sabtu 22/1.
“Selama ini aku sudah bosan berkubang dengan gitar berseteman drop-D, di lagu Bendera Setengah Tiang aku dapat kesempatan main solo gitar sepanjang lebih dari satu bar” beber Abdee Slank.
Sadar atau tidak tren guitar-heroes juga mulai menulari Dewa. Simak betapa riuhnya album teranyar mereka, Laskar Cinta, dengan besetan gitar. Hampir tiap lagu yang ada selalu dihiasi solo gitar, atau setidaknya licks-licks gitar yang cukup menantang. Jujur saja, sudah lama betul rasanya, Andra tak bermain model begitu lagi.
Masih banyak lagi contoh yang bisa dijadikan alasan kenapa tahun ini tren guitar-heroes ini bakal menjamur. Peterpan, misalnya. Begitupun, Seurieus. Peterpan, meski terbilang memainkan pop progesif dan ditunjang pula oleh kibor, namun duo gitar tampil lebih garang. Menyelipkan berbagai licks yang terbangun dari teknik permainan yang tak boleh dianggap sepele di beberapa lagu di album teranyar mereka, Bintang di Surga. Lalu jangan dilupakan polahnya Seurieus.
Boleh-boleh saja lirik dan aksi panggung mereka bebodoran. Namun secara musik, polah mereka tak boleh dibilang main-main. Dibantu Abdee Slank, tiap komposisi di Rocker Juga Manusia boleh dibilang coba memajukan lagi unsur guitar-heroes yang mungkin sudah lama dilupakan.
Tentu saja hal ini tak boleh dilepaskan dari Ian Antono dan Eet Syahrani, pendekar-pendekar gitar dari God Bless dan Edane, yang susah payah menularkan rock di bumi Indonesia. Lewat keduanya seakan pengin bilang, kalau yang namanya rock itu kudu identik dengan guitar heroes.
Nah, siap-siap saja Anda dihujani sayatan gitar tahun ini! (abp)
November 15, 2003
OBYEK yang paling sering dipotret adalah manusia. Ketika berwisata bersama keluarga, sekadar kumpul bareng teman, atau ketika lulus kuliah, kamera menjadi alat utama untuk mengabadikan saat-saat indah. Di dinding rumah pun foto manusia banyak dipajang, sementara berbagai media cetak sangatlah janggal kalau sama sekali tidak menampilkan foto manusia di dalamnya.
DEMIKIANLAH, memotret manusia adalah hal yang sangat biasa dan mudah dijumpai sehari-hari. Namun, memotret manusia punya banyak sekali tingkatannya, dari yang sekadar bisa dilihat sampai yang banyak persyaratannya
Semakin serius sebuah pemotretan, berarti semakin serius pula persiapannya. Sebuah pemotretan model gaya ABG di studio-studio foto tentu tak seberat sesi pemotretan model untuk iklan produk. Lebih serius lagi jikalau model yang di-casting adalah model terkenal yang dibayar mahal.
Bisa pula sangat serius jika model foto adalah pejabat tinggi negara atau pengusaha kaya yang hendak ditampilkan anggun, gagah, berwibawa, chic (elok) dan mewah. Di luar semua itu, unsur fun tetap lebih banyak dan lebih dinikmati ketimbang peluh yang bercucuran untuk menyiapkan kostum dan setting tempat. Terlebih lagi jika seluruh kru pemotretan dan model bisa berkomunikasi dengan akrab.
Namun bagaimana pun, unsur-unsur teknis tetap tak bisa disepelekan pada setiap pemotretan. Sedap tidaknya sebuah foto dipandang tetap dibangun oleh unsur-unsur teori dasar fotografi. Tak perlu rumit-rumit, cukup dengan bermain-main dengan komposisi dan pencahayaan, maka sebuah foto model bisa dibuat dengan benar. Selebihnya, tinggal bagaimana cara fotografer mengarahkan pose dan ekspresi sang model.
Pose dan ekspresi
Kemampuan model berpose dan berekspresi tetap menjadi unsur yang tak terpisahkan dari keberhasilan sebuah foto model. Mengarahkan model yang bukan profesional lebih menantang daripada model profesional. Tapi, bisa jadi lebih menarik dan menantang jika memotret tokoh dalam pose-pose yang lain dari biasanya. Istilah gampangnya tampil unik, tapi menarik; nyeleneh tapi jenaka; pose tak biasa, tapi tetap sedap dipandang.
Pose-pose tersebut membutuhkan kemampuan non-fotografis yang kental, seperti pendalaman pribadi, kedekatan emosional, dan kemampuan berkomunikasi. Resep utamanya adalah menggali hal unik yang menjadi pencerminan khas tokoh dan model yang hendak dipotret.
Memotret Sheila On 7, yang notabene kerap bertemu muka di sebuah radio, di Yogyakarta, menjadi tantangan tersendiri. Akrab karena sering bertemu tidaklah otomatis membuat pemotretan terhadap mereka menjadi mudah. Komunikasi yang dibangun kerap kali menjadi bercanda yang kebablasan bercanda terus, atau malah sebaliknya serius yang bablas menjadi kaku.
Ketika itu sekitar tahun 1998, Sheila On 7 baru menyelesaikan album pertama dan dipotret untuk kepentingan materi iklan sebuah perusahaan t-shirt. Hari berikutnya, mereka ingin difoto untuk kepentingan manajemen mereka dan koleksi pribadi. Jadilah, pose-pose yang nyeleneh, jenaka, dan unik yang tak terencanakan sebelumnya.
Foto “Sheila On 7’s Free Style” akhirnya dihasilkan dari modal komunikasi akrab. Ketika itu, kamera medium format fokus manual memaksa tangan terus-menerus melekat di gelang fokus lensa dan tombol pelepas rana agar momen ekspresi yang muncul hanya untuk beberapa detik tak luput dari rekaman.
Lain halnya dengan pose-pose yang tidak terlalu dinamis bergerak atau berekspresi. Fotografer bisa dengan perlahan mengeset kamera dan pencahayaan serta berhati-hati memilih angle. Misalnya saja, pada foto “Terkulai” yang dibuat pada set indoor dengan pencahayaan artifisial dan sentuhan akhir di komputer untuk memberi pewarnaan berkesan lembut dan hangat.
Perlu pendekatan personal
Keberhasilan merekam pose-pose menarik memang tak berhubungan langsung dengan segi teknis fotografi. Tapi, keberhasilan secara teknis fotografi tak ada artinya dalam kancah memotret model dan tokoh tanpa pose yang sedap dipandang mata. Terlebih lagi jika ingin mengeksplorasi seorang tokoh dalam pose-pose yang unik dan ekspresif. Bisa jadi pose-pose tersebut adalah pose-pose tampak seperti apa adanya meski sebenarnya diarahkan oleh fotografer.
Ketika memotret seorang aktor teater dan seniman serba bisa Butet Kertarajasa, misalnya. Tak ada pembicaraan khusus sebelumnya, selain berbincang ringan di ruang tunggu bandara pada suatu pagi. Lantas, niat untuk membuat suatu sesi foto kemudian muncul yang dilanjutkan dengan beberapa perencanaan sederhana, seperti soal lokasi dan kostum.
Memang penting untuk membuat tokoh sebagai model tetap nyaman berpose di depan kamera dan menyiapkan berbagai perlengkapan pencahayaan. Memutuskan kediaman pribadi tokoh itu sendiri sebagai lokasi pemotretan tentu bukanlah suatu syarat yang sulit.
Perencanaan yang cerdik dibutuhkan untuk berhasil membuat foto-foto bagus. Mengenali diri seorang tokoh, berikut keseharian dan karier tokoh tersebut sama pentingnya dengan merencanakan kostum yang hendak dikenakan. Pemanfaatan properti pun jangan disepelekan demi menciptakan suasana yang mencerminkan pribadi sang tokoh.
Lokasi dan properti
Kebutuhan akan properti dalam memotret manusia tak perlu berlebihan, dengan cara memanfaatkan properti yang sudah ada di lokasi. Kebetulan Butet pernah menulis di Kompas perihal koleksi kotak rokoknya. Maka, pose yang wajar jika Butet kemudian difoto sambil merokok di depan koleksi kotak-kotak rokoknya, seperti pada foto “Butet dan Koleksi Kotak Rokoknya”.
Membuat foto model dan foto tokoh bisa disebut berhasil jika fotografer berhasil mengkomunikasikan ide di benaknya kepada para pemirsa foto. Jika pemirsa foto mengernyitkan dahi pertanda bingung atau memicingkan mata pertanda tak nyaman memandang, maka bisa dibilang pemotretan belum berhasil sepenuhnya.
Lain halnya jika pemirsa foto mengangguk-angguk pertanda paham atau diam untuk merenung lantaran berhasil meresapi makna dan rasa dari foto yang dilihatnya. Keberhasilan itu menjadi lebih berguna lagi tatkala muncul inspirasi-inspirasi baru di benak pemirsa foto setelah melihat karya-karya seorang fotografer.
Kristupa W Saragih Fotografer dan co-admin Fotografer.net
Source: Kompas
October 21, 2003
“DI BANYAK kota kami sering mendapat perlakuan keras. Paling parah di Surabaya. Baru main setengah lagu, benda-benda beterbangan ke atas panggung. Waktu itu kami sempat bingung, kenapa tindakan mereka seperti itu? Usut punya usut, katanya kami rasialis, pernah memukuli orang Surabaya yang datang ke Bali. Kata mereka pula, aku punya tato bertuliskan F*uck J**a di dada. Kami jadi kaget. Soalnya kami tak pernah berbuat seperti itu. SID tegaskan, kami anti rasialisme!” kata Jerinx, dramer SID.
Ia menduga, kenyataan bahwa banyak band indie pindah jalur ke major label, mendorong kekerasan itu terjadi. Karena penggemar indie menganggap, band pindah jalur merupakan pengkhianatan. “75 Persen mailist masuk ke email kami, isinya hujatan tentang kepindahan kami ke major. Tadinya itu kami anggap kerjaan orang iseng. Ternyata, merembet pula ke konser SID. Upaya proteksi di setiap pentas? Nggak ada, dan kami tetap akan meneruskan konser, sepanjang kami tak celaka dibuatnya” tegas Jerinx, diangguki dua rekannya : Eka Rock dan Boby Cool.
ADA rumus yang masih perlu dikaji : grup pop pentas bareng grup rock, maka yang pop itu jadi korban!
Seperti dialami Seventeen di Semarang. Itu waktu, Seventeen manggung bareng Boomerang. Skedulnya, Seventeen muncul persis sebelum kelompok rock kondang itu. “Gelagat bakal terjadinya kerusuhan sudah tampak di awal. Baru nyetem alat, penonton sudah menunjukkan jari tengah kepada kami. Lalu, saat nggenjreng satu bait lagu, botol air mineral dan sandal pun beterbangan. Sepanjang lima lagu yang kami bawakan, suasana chaos seperti itu” ujar Doni, vokalis Seventeen.
Doni bilang, penonton musik sejauh ini belum bisa menghargai satu sama lain. Maka, pop yang mereka anggap musik cengeng, jadi sasaran. “Tapi, kesalahan tak seratus persen bisa ditimpakan ke penonton. Event organizer harusnya jeli mengemas acara. Di samping itu, barisan keamanan juga diperketat. Kalau perlu ada alat detektor untuk menghindari penonton membawa benda keras” kata Doni, yang bersama grupnya lagi naik papan itu.
FANATISME itu heboh : Sheila on 7 mengaku sering ketanggor sial jika manggung bareng Slank dan Iwan Fals. Slankers (fans berat Slank) dan OI (komunitas penggemar Iwan), konon fanatik banget.
“Bisa dipastikan, Sheila akan jadi korban. Tidak cuma Sheila sebenarnya. Tapi semua grup band yang manggung sebelum Slank dan Iwan Fals pasti kena batunya. Batu di sini bukan arti kiasan, tapi batu beneran. Jadi, bisa menyelesaikan set list lagu yang dibawakan, itu sudah prestasi. Namun belakangan ini fans Iwan sudah agak jinak. Kalau aku menduga, mungkin gara-gara aku ciptain lagu Senandung Lirih buat Iwan” jelas Eross, gitaris Sheila.
Sebenarnya, kata Eross, penonton yang bertindak keras cuma beberapa gelintir. Namun akhirnya yang lain ikut-ikutan. Kontrol dari pihak penyelenggara yang menggelar even harusnya juga cermat. “Aku sendiri sebetulnya masih trauma dengan tragedi penonton di Lampung, yang menewaskan enam jiwa itu. Hal tersebut membuktikan bahwa panitia nggak jeli melihat permasalahan. Bisa jadi, mereka cuma mau mengeduk untung saja, tanpa mempedulikan keselamatan penonton atau artis” terang Eross, yang barusan menyelesaikan soundtrack film 30 Hari Mencari Cinta.
KESIMPULANNYA : Kekerasan yang terjadi di seputar panggung musik belakangan ini adalah langkah mundur. Nuansa tahun ‘90-an, pentas-pentas musik dihajar berbagai kerusuhan. Dan ujungnya, sejumlah grup tak diijinkan manggung.
“Kalau hal itu terjadi lagi di era sekarang, siap-siap saja musisi dan penggemar musik rugi” kata Bongki, personel BIP. “Rugi, karena mereka tak bisa menyaksikan grup kesayangannya manggung. Sial juga bagi kelompok musik, karena mereka tak bisa mengekspresikan diri di pentas. Siapa sih yang mau pentas sambil dilempari botol dan air kencing? Kalau manggung jadi ajang pembantaian musisi, ya mending nggak usah main”
Menurut Bongki, temperamen penonton di Indonesia itu masih labil. Datang ke venue dalam keadaan mabuk, maunya gratisan, dan merasa benar menganiaya jika grup yang sedang pentas tak sesuai dengan musik yang digandrunginya.
Kalau begini terus, kan repot? n abp
Source: MP
August 10, 2003
Di tengah berkembangnya lagu pop Bali, hadirnya lagu-lagu dengan lirik yang cenderung “nakal” merupakan sisi lain kreativitas pencipta lagu. Nakal, karena pilihan tema dan kata yang dipakai sebagai lagu merupakan masalah-masalah yang dikategorikan masalah privacy semisal sisi menarik wanita. Masalah lainnya yang sering diungkap adalah masalah seks, contoh masalah yang “cukup laris” dipakai selama ini dalam media hiburan. Ada keterbukaan dalam diri penulis untuk mencoba melagukan kata-kata yang tak lazim digunakan dalam lirik lagu. Belakangan malah lirik-lirik nakal yang cenderung konyol, jenaka dan vulgar disukai pasar. Apakah ini bagian dari keterbukaan dalam musik?
BELAKANGAN, beberapa lagu yang menjadi hits dalam blantika lagu pop Bali adalah lagu-lagu sederhana yang tembangkan tema-tema jenaka. Ringan dan menggelikan. Lagu-lagu itu tak melulu suarakan cinta atau keindahan belaka, namun tema-tema sederhana keseharian pergaulan manusia. Walau masih mengambil tema seputar cinta, cinta tak lantas dilagukan puitis, melankolis dan mendayu, tapi dilagukan secara kocak, sederhana dan humoris dan tetap kedepankan unsur musikalitas. Buktinya, mereka juga mencuri perhatian pecinta lagu Bali.
“Teh, kopi, susu di duur mejane/ Beli teka nganggur/ Tehne siup beli/ Kopi cicipin beli. Susune gading anget buin kentel/ Bukak malu adi beli lakar ngidih/ Aduh jaen gati/ Susune gae adi”. Apa yang ada di benak orang saat mendengar lagu ini? Kocak, geli, sedikit vulgar dan nyerempet masalah “kewanitaan” yang sangat pribadi. Silakan asosiasikan apa yang dimaksud dalam lirik berjudul “Teh Kopi Susu” yang dilantunkan penyanyi Bali Tut Asmara itu. Tapi, di sanalah letak keistimewaan lagu yang diciptakan Komang Raka itu, kejenakaan dan acapkali “nyeleneh” yang bikin pendengar menyimpan pertanyaan, penasaran dan kegusaran.
Apakah itu lagu porno? Sepertinya terlalu cepat untuk mengatakan lagu-lagu yang nyerempet masalah fisik wanita ini ke dalam kategori lagu porno. Pun jika lantas dikatakan sebagai pelecehan terhadap simbol kewanitaan, rasanya juga terlalu jauh. Simak petikan lagu Yong Sagita bertajuk “Nenggel”. Penilaian pun tertuju pada sisi-sisi fisik wanita. Yong tentunya tak bermaksud melecehkan. Pengungkapan sisi menarik wanita masih merupakan tema komunikatif yang bisa menarik perhatian audiens musik pop Bali. Kemungkinan, ini hanya sebuah strategi menarik pasar.
Di tengah berkembangnya lagu pop Bali, hadirnya lagu-lagu dengan lirik yang cenderung “nakal” ini merupakan sisi lain kreativitas pencipta lagu. Nakal, karena pilihan tema dan kata yang dipakai sebagai lagu merupakan masalah-masalah yang dikategorikan privacy semisal sisi menarik wanita. Masalah lainnya, seks — contoh masalah yang cukup laris dipakai selama ini dalam media hiburan. Simak saja beberapa kesenian tradisional seperti drama gong, lawak dan bondres, humor-humor yang bersentuhan dengan seks merupakan bumbu yang manjur mengundang tawa penonton. Lewat kesenian, masalah seks bukanlah masalah yang “terlarang” untuk dimasuki, tapi masalah yang cair dan komunikatif.
Normatif
Dalam musik nasional juga bisa dilihat hal serupa. Simak lirik lagu Jamrud seperti ini, “Jangan nangis terus/ Beri waktu seminggu/ Biar kucari, kupilih pengganti ibumu/ Tapi harus janji setelah dapat ibu/ Kau minum susu dari botol plastik/ Karena punya ibu hanya untuk aku.” Lirik lagu ini memang di luar kebiasaan penulis lagu yang kreatif dalam pilihan kata untuk hasilkan kalimat yang indah. Lirik lagu kerap ditulis dengan kaidah sastra dan kalimat normatif. Tapi Jamrud mencoba lain, lirik lagu yang ditulis mengalir sederhana, apa adanya, jenaka dan vulgar. Kevulgaran misalnya juga masih terlihat pada hits Jamrud lainnya, “Telat Tiga Bulan”, “Hei/ Salahkah aku/ yang jadi mau/ Karena melihat isi dalam rokmu. Hei/ Mengapa kau mau/ Saat kurayu/ Dan kita berguling bergerak bebas di atas pasir”.
Kalimat-kalimat lagu semacam ini bisa dikategorikan kalimat yang berada pada wilayah pribadi, yang rasanya “sungkan” untuk ditulis sebagai lirik lagu. Penulis mulai berani memasukkan kata-kata yang sebelumnya berada pada wilayah pribadi masuk ke wilayah publik. Terpatri sebelumnya pranata kesantunan dalam pembuatan lirik lagu. Idealnya, lirik atau lagu memang dibuat indah, sopan dan normatif jika hendak dipublikasikan ke masyarakat. Pasalnya, lagu tersebut dipublikasikan lewat radio dan televisi yang masih merupakan media edukasi kepada masyarakat.
Sepintas, Jamrud seakan tak berupaya memilih kata lebih manis. Kesan yang muncul, lirik lagu terasa kurang sopan dan kurang normatif. Tapi Jamrud mencoba menisbikan penilaian-penilaian ini. “Kreativitas” inilah yang justru mampu melambungkan Jamrud sebagai kelompok musik papan atas di Indonesia. Ketidakbiasaan penulis dalam pilihan tema yang cenderung alternatif dengan lirik yang nakal merupakan sisi lain perkembangan industri musik di Indonesia. Dari sini pula terlihat, lagu dengan penulisan lirik nonpuitis pun mampu menjadi hits. Justru terkadang penulisan lirik yang sederhana cenderung tanpa unsur sastra dan lagu dengan cord-cord sederhana banyak yang jadi hits. Ada keterbukaan dalam diri penulis untuk mencoba melagukan kata-kata yang tak lazim digunakan dalam lirik lagu. Inikah bagian dari keterbukaan dalam musik?
Kesantunan
Berbeda dengan Jamrud, kelompok musik Sheila On 7 (SO7) dan Naif mengambil tema fenomena sosial sebagai tema lagu. “Kenakalan” grup musik ini terbaca lewat tema-tema “dewasa” seperti perselingkuhan dan waria. Namun mereka lebih santun menuliskannya dalam lirik lagu, meski tetap mencirikan kenakalan. Banyak yang mengatakan melejitnya SO7 karena memiliki kekuatan pada kesederhanaan lirik dan lagu. Kesederhanaan itu mampu menjadikan lagu dan lirik mewakili semangat anak-anak remaja.
Dalam kesederhanaan itu, SO7 malah sempat membuat lirik lagu yang oleh banyak orang dikatakan sebagai lirik nakal. Dengarkan lagu “Sephia”-nya. Sephia bahkan menjadi personifikasi perilaku perselingkuhan — menceritakan ihwal kekasih gelap yang belakangan melanda kehidupan masyarakat. SO7 cukup pintar membungkusnya, cukup santun. Kata selingkuh tak diucapkan eksplisit.
Sementara Naif membungkus rapat lirik lagu perihal wanita pria (waria) dalam lagu “Possesif”. Satupun kata waria tak muncul dalam lirik lagu. Tapi dengan imajinasi mereka visualisasikan waria dalam klip lagu “Possesif” lewat sosok waria yang diperankan Stavia (Avi) — seorang waria tulen. Seandainya Naif tak tampilkan sosok waria dalam klip lagu itu, pendengar mungkin tak bakalan tahu lagu itu bercerita tentang waria. Kehadiran lagu ini dinilai cukup menyejukkan, karena saat lagu ini dilempar, kontroversi keberadaan waria di kegelapan jalan di kota-kota besar tengah ramai digunjingkan.
Dalam tema yang sama tentang waria, Dik Doank juga mencoba mengeksploitasi waria. Ia lebih gamblang kenakalannya, tak saja nakal dalam lirik, tapi juga tema-tema lagu. Malah kenakalan itu, beberapa tahun lalu, membuat ia menuai protes dan berurusan dengan subjek lagunya, para waria. Rupanya kenakalan juga harus diimbangi dengan sikap kehati-hatian. Penulis lagu juga harus pertimbangkan perangai masyarakat dalam mengekspresikan “kenakalan” lagu. Sebab, jika terlampau nakal, orang harus siap menuai badainya.
* Jung Iryana
Source: BaliPost
May 18, 2003
JAKARTA pukul 22.30. Di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, tempat berada tak kurang dari 70-an kafe dan rumah hiburan, kehidupan malam baru dimulai. Mobil berdatangan, jalanan mulai macet.
KETIKA peristiwa itu terjadi di salah satu malam tahun 1999, halaman parkir Kafe Salsa sudah sejak petang dipenuhi kendaraan pengunjung. Ketika itu kafe ini belum setahun beroperasi, berlokasi di salah satu sudut jalan utama kawasan situ.
Tiba-tiba saja puluhan atau mungkin lebih dari seratus orang berdatangan. Mereka menumpang Metromini dan berbagai kendaraan angkutan umum. Banyak dari mereka menghunus kelewang, pedang panjang, dan golok.
Kemudian, tanpa permisi, tanpa bertanya, apalagi dialog, rombongan itu menyerbu masuk Kafe Salsa lantas menghancurkan segala apa yang tampak. “Mula-mula mereka menenggak minuman keras langsung dari mulut botolnya, baru kemudian mulai merusak,” tutur Teges Prita Soraya (32), pengelola sekaligus pemilik Kafe Salsa.
Waktu itu memang sedang musim rumah-rumah hiburan malam diserbu pengunjuk rasa. Pada kasus rumah hiburan malam, unjuk rasa itu langsung diwarnai kekerasan. Tak ada aparat kepolisian mencegah. Salah satu zaman out of law dari banyak zaman seperti itu dalam sejarah negeri ini. Bertumbanganlah para korbannya. Termasuk Kafe Salsa malam itu. Anak buah Teges sempat memindahkan mobil-mobil pengunjung sehingga kerugian hanya menimpa pihak Teges seorang.
“Tapi meja, kursi, perlengkapan layanan pengunjung hancur lebur tak tersisa. Seluruh usaha saya luluh lantak. Saya bahkan tidak bisa menangis ketika mereka membuat rusuh. Baru paginya, setelah segalanya dibereskan para karyawan, baru kemudian saya terduduk menangis,” kata Teges, mengisahkan periode paling gelap dalam perjalanan bisnisnya.
Perlu waktu tiga bulan untuk memulai kembali bisnisnya. Kemampuannya untuk bangkit dari kerugian material, tidak kapok dan mengumpulkan kembali semangat, memulai kembali operasi usaha, menarik kembali kepercayaan pelanggannya termasuk para korban peristiwa perusakan malam itu, membuktikan betapa Teges tidak menjalani usahanya sebagai kegiatan angin lalu. Kafe Salsa kemudian bisa menarik konsumen keluarga.
“Bagaimana sebuah keluarga bisa mengadakan acara ulang tahun mama di kafe, pada malam hari, tanpa timbul perasaan jengah, tanpa khawatir nanti kepergok teman, tanpa khawatir dituduh keluyuran malam oleh teman-temannya. Itu adalah salah satu semangat saya dalam menumbuhkan bisnis ini. Saya dan suami benar-benar ingin menyelenggarakan sebuah usaha yang bermasa depan dan berkelanjutan, bukan usaha musiman sekadar pelarian dari krisis,” katanya, dengan mimik serius.
SUTANTO Hartono tak kalah inovatif. Direktur PT Sony Music Entertainment Indonesia itu menjalankan bisnis perusahaan rekamannya (recording) yang berbendera perusahaan internasional itu dengan cara-cara yang tergolong baru untuk sejarah industri musik di Indonesia.
Pendekatan yang dilakukannya sesungguhnya bukan hal baru di tengah zaman ketika pencapaian prestasi dalam bisnis dilakukan tidak lagi dengan konvensi-konvensi lama. Namun, bagaimana Sutanto menerjemahkannya dan menemukan momentum keberhasilannya dalam bisnis perusahaan rekaman adalah segi penting yang dapat disebut sebagai salah satu bentuk kecerdasan, atau lebih tepat usaha menemukan jalan keluar di tengah jepitan krisis.
Krisis ekonomi, kata Sutanto, memukul bisnisnya terutama karena merosotnya daya beli konsumen. “Pada masa cari kerja susah ini, tak ada lagi orang yang mau membeli kaset Rp 15.000 sebuah, apalagi membeli CD (compact disc) yang tahun 1998 bisa mencapai Rp 60.000,” kata Sutanto memulai ceritanya.
Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di Asia (dan di dunia) dalam angka penjualan kaset rekaman (ketika itu) lagu. Tahun 1996, angka penjualan copy rekaman lagu (kaset dan CD) bisa mencapai 90 juta unit. Sedikit di bawah pasar Jepang dan Korea. Artinya, daya beli konsumen Indonesia terhadap lagu ketika itu hanya sedikit di bawah kedua negara yang zaman itu sudah disebut sebagai macan-macan Asia.
Namun, krisis telah memerosotkan daya beli membuat angka penjualan kaset merosot drastis, berangsur-angsur 70 juta keping, hingga 50 juta keping hingga akhir tahun 1998. Di tengah situasi yang berat inilah PT Sony Music Entertainment Indonesia (PT SMEI) memulai mengayuh dayung operasinya, tahun 1997.
Tahun 1999 sempat naik sedikit 55 juta keping, namun dekade 2000 kembali merosot hingga tahun 2002 ini hanya tinggal 35 juta keping. Tidak ada tanda-tanda angka ini bisa beranjak naik kembali. Tak terhitung perusahaan rekaman bertumbangan, gulung tikar, angkat koper, tutup warung. Nama-nama perusahaan rekaman yang dulu senantiasa muncul dengan gagahnya dalam video klip artis yang tertayang pada acara Aneka Ria Safari atau Album Minggu Kita di stasiun televisi TVRI, satu per satu berguguran hingga sekarang tinggal 30-an perusahaan.
Kongsi perusahaan rekaman itu dengan perusahaan rekaman besar berdistribusi internasional (istilahnya “major label”) ikut berguguran. Nanti memasuki dasawarsa 2000-an perusahaan label besar internasional itu kembali memasuki pasaran Indonesia, namun di awal krisis itu boleh disebut Sutanto berdiri sendirian di tengah pasar yang tengah hancur lebur.
“Benar-benar masa yang sulit dan berat. Saya memutuskan terus maju dengan pemahaman yang sebenarnya ‘common sense’ saja. Kalau orang-orang pada memilih menutup warung untuk sementara, selagi menunggu perubahan angin, justru saya berusaha maju dan berharap mendapat sesuatu dari pasar yang sepi. Harapan saya, nanti pada saat pasar terbuka kembali saya sudah siap dengan produk-produk saya. Tapi ini bukan pemahaman yang hanya saya miliki, ini pemahaman yang telah menjadi pengetahuan umum. Cuma masalahnya siapa yang berani melangkah seperti itu,” tutur Sutanto.
Di zaman krisis, namun ada produksi album yang meledak dengan nama bintang musik atau grup musik yang baru, maka Sony-lah yang melakukannya. Jika kita ingat potongan syair lagu slamat tidur kekasih gelapku/ smoga cepat kau lupakan aku pada lagu berjudul Sephia karya kelompok musik asal Yogyakarta, Sheila on 7, dialah contoh suksesnya.
Di tangan SMEI, Sheila on 7 menelurkan tiga album lagu, yang masing-masing terjual lebih dari satu juta kopi. Salah satunya 1,7 juta keping. Begitu juga grup musik Padi yang dari dua album lagunya diproduksi masing-masing lebih dari satu juta keping. Juga sukses yang diraih oleh Tasya dengan album lagu Libur Telah Tiba. Ini jelas ukuran prestasi tertinggi dalam angka penjualan kaset (dan CD) di zaman normal, apalagi di zaman krisis.
TAPI sesungguhnya tidak ada “sim sala bim” atau mantra dukun dalam kedua kasus Teges dan Sutanto. Sangat boleh jadi keduanya mewakili cakrawala baru jajaran manusia Indonesia yang berhasil “lahir di tengah kerasnya batu” ekonomi Indonesia.
Tentu patut dicatat bahwa keduanya masih merupakan bagian dari fenomena keberlanjutan generasi bisnis di negeri ini. Teges mendapatkan modal usahanya dari kongsinya dengan seorang anak tentara, bekas Panglima Kodam V Brawijaya di zaman tahun 1970-an, adapun SMEI meskipun perusahaan berbendera internasional yang baru sama sekali, para pengusahanya adalah kelanjutan dari perusahaan rekaman mantan partner lokal Sony di Indonesia, Indo Semar Sakti. Kendati demikian tetap saja sukses harus diukir dari keringat mereka sendiri.
Teges mendapati keterampilan mengelola usaha kafe dari pernikahannya dengan lelaki Italia, Matteo Guerinoni. Mateo sendiri sudah lebih dulu sukses membangun bisnis restoran es krim di Kafe Pisa, seberang Gereja St Theresia, Menteng sejak awal tahun 1990-an.
“Suami saya seorang karyawan perusahaan pabrik es krim dan peralatan pembuatan es krim di Italia. Ia memiliki keterampilan yang cukup dari negerinya sehingga berkali-kali ditugasi membuka cabang- cabang penjualan es krim di berbagai negara, termasuk Vietnam, juga Singapura dan Indonesia. Awal tahun 1990-an dia memutuskan keluar dari perusahaannya, berkeinginan mendirikan perusahaannya sendiri dengan keahliannya itu. Ia punya banyak mimpi tentang restoran es krim,” tutur Teges, perempuan yang lahir dan besar di Jakarta, sementara keluarganya berasal dari pedesaan di kaki Candi Borobudur, Jawa Tengah.
Namun bukan berarti Kafe Salsa lahir semata-mata karena Matteo, tegas Teges. Sebagaimana kebanyakan pengusaha muda idealis ia tegas menerapkan garis bisnisnya. Meski namanya “kafe” dan (joged) “salsa”, sesungguhnya ini bisnis restoran biasa, katanya menguraikan. Sebanyak 70 persen omzet penjualan diperoleh dari “dagang makanan”. Yang membedakan dengan umumnya restoran adalah building concept dalam pencitraan lembaga, sehingga restoran ini kemudian menemukan pasarnya secara khusus, tambahnya.
Konsep kafe yang dibangunnya adalah bagaimana membuat pengunjung bisa menikmati kegembiraan bersama. Bukan cuma salah satu saja yang bernyanyi (seperti dalam karaoke), namun semua bersama-sama. Itu sebabnya ia membuka kelas belajar dansa salsa yang penggemarnya kebanyakan ibu-ibu usia 50-an.
“Kalau para ibu dan mama sudah berani datang berdansa, tak perlu diragukan anak-anak remajanya pasti diajak, bapak dan para suami pun akan ikut serta, restoran saya jadi laris, begitu saja,” tutur Teges.
Mekanisme sukses yang ditempuh Sutanto pun tak kalah sederhananya. “Tidak ada rumusnya. Kami membaca pasar dengan alat-alat pemasaran sederhana, seperti mana yang telah jenuh, mana yang sedang trend, berapa luas pasarnya. Kami lalu membongkar kebiasaan-kebiasaan lama, misalnya dengan tidak ragu memasuki pasar musik dangdut, dengan nama Ikke Nurjanah, termasuk musik religi sebagaimana sukses yang kemudian diraih oleh Haddad Alwi. Memang sangat spekulatif dan unpredictable, tapi pertimbangan yang cukup sebuah album yang meledak bisa menutup investasi dari kegagalan-kegagalan yang lain,” kisah Sutanto.
Pada album ketiga Sheila on 7, misalnya, Sutanto mengaku membuat terobosan pemasaran.
“Kami bisa mencapai penjualan 900.000 kopi, justru pada saat orang belum mendengar lagunya. Lazimnya orang membeli lagu setelah menontonnya di televisi atau mendengar di radio. Kali ini kami tidak, dengan mengandalkan kekuatan Sheila on 7. Tentu ini bukan perhitungan ngawur. Kami membujuk pasar dengan promosi pemasaran, sesuatu yang sebenarnya wajar dan lumrah dalam bisnis. Tapi sejauh yang kami amati, kami berusaha membongkar tradisi,” kisahnya.
Apa yang dilakukan Teges dan Sutanto, niscaya memberi pencerahan betapa setiap zaman, telah melahirkan generasinya. Generasi yang menjawab pertanyaan zamannya.(ODY)
Source: Kompas
December 14, 2002
TEGANG! Suasana itu terasa saat memasuki paruh awal 2002. Bagaimana tidak? Tiga band papan atas Indonesia, yang dalam perjalanan karir masing-masing sudah sukses membukukan angka penjualan album jutaan kopi, saat itu tengah bersiap-siap melemparkan album teranyar mereka.
Yaa, dengan modal talenta, materi, serta strategi masing-masing, Dewa, Jamrud, dan Sheila on 7 (So7), kayak sepakat untuk merilis album mereka dalam waktu yang nyaris berbarengan.
Hasilnya? Ternyata biasa saja!
Jauh berbeda dengan hype yang tercipta sebelumnya, sambutan pasar setelah ketiganya dirilis ternyata tak terlalu antusias. Bahkan cenderung adem ayem. Alhasil, tidak ada satupun dari ketiga album tersebut yang sukses mengungguli lainnya untuk urusan perolehan medali, eh, angka penjualan!
Sampai catatan ini dibuat, konon, album 07 Des milik So7 masih berkutat di angka 800 ribu kopi. Sementara Dewa, yang sempat sesumbar bakal meraih tiga juta kopi lewat Cintailah Cinta, tak tahunya kudu susah payah merayap hanya untuk meraih angka 500 ribu!
Lebih gila, yang dialami oleh Jamrud. Jauh-jauh mereka terbang ke Sydney, Australia, untuk rekaman di studio yang canggih. Soal materi juga dirancang sekomersil mungkin. Mulai dari musik hingga lirik. Bahkan lima buah klip pun langsung dibesut demi kebutuhan promo nantinya. Angka dua juta kopi pun dipatok sebagai target untuk album bertitel Sydney 090102 itu. Namun, apa daya. Begitu dirilis, mereka mesti struggle dan berkeliling 50 kota lebih dulu untuk bisa sekedar menikmati jumlah di atas 500 ribu. Uh!
Memang, akhirnya banyak excuse yang bisa dipakai kemudian untuk ‘kegagalan’ tersebut. Banjir besar yang sempat menenggelamkan sebagian Jakarta di awal tahun dan Piala Dunia 2002, adalah dua buah alasan yang paling sering muncul. Sementara khusus buat Dewa, ‘bonus’ ganjalan muncul dari Yudhistira Massardi, yang mengklaim bahwa judul singel Arjuna Mencari Cinta adalah miliknya. Biarpun masih terus berlangsung hingga saat ini, namun bisa saja dibilang kalau hasil akhir dari clash of the titans (baca: Pertarungan para dewa, pen) ini benar-benar tidak seru! n abp
Source: MP
October 20, 2002
HANYA beberapa album rekaman penyanyi dan grup musik yang pernah menembus penjualan satu juta kaset. Sebut saja Dian Pieshesa (Tak Ingin Sendiri, 1985), grup Bill & Brod (Madu dan Racun, 1986), Nining Maeda AS (Kalangkang, 1988), atau Joshua (Air, 1998) dan sekarang kaset debut Sheila on 7 (So7) terjual sebanyak 1,2 juta dan CD-nya 20.000 keping.Terus terang, ketika pertama kali memutuskan untuk memproduksi So7, saya hanya mematok angka penjualan 150.000 kaset,” ungkap Jan N Djuhana, artist and repertoire senior director Sony Music Entertainment Indonesia.
Jan, begitu dia dipanggil sehari-hari, adalah orang di balik hadir dan suksesnya sejumlah grup seperti Kla Project, Dewa 19, Bayou, penyanyi Yana Julio, /rif dan So7. Menelusuri perjalanan karier laki-laki bertubuh semampai yang tinggi/bobotnya 170 cm/60 kg ini berarti membedah riwayat industri musik sejak tahun 1970-an.
***
LAHIR di Jakarta 24 Agustus 1948, Jan sempat menjadi mahasiswa elektro Universitas Kristen Djakarta. Tetapi, keasyikannya menjadi pemetik gitar bas grup musik yang dimulainya sejak SMA dan mengelola sebuah toko kaset di Glodok, menyebabkan kuliahnya telantar.
“Pada waktu itu setelah selesai ngamen, meski waktu sudah dini hari, kami nongkrong sambil makan roti bakar sampai menjelang subuh baru pulang,” kenang Jan.
Dari toko kasetnya, Jan merekam lagu-lagu barat dari koleksi piringan hitam pribadinya ke kaset. Mula-mula puluhan, ratusan, hingga kemudian ribuan kaset. Melihat omzet penjualannya meningkat, Jan merasa perlu bekerja sama dengan rekannya dan mendirikan perusahaan rekaman Star Cemerlang sebagai programer untuk new-music. Menyeleksi grup musik dan penyanyi baru mancanegara waktu itu.
“Bersama sejumlah perusahaan rekaman lagu barat lainnya seperti Saturn, Top, Hins, Aquarius, Elite, dan King’s, kami sempat bergabung dalam Perina. Tetapi, gabungan ini tidak bertahan lama. Saturn dan Top lalu bergabung dengan Prambors Cassette membentuk Team Records.”
Dari Team Records inilah, Jan mulai memperlihatkan tajinya sebagai penemu bintang baru berkat pengalamannya mendengar new-music selama di Star Cemerlang.
“Selama di Team Records saya memproduksi Sersan soundtrack film Catatan Si Boy dari satu sampai lima. Kemudian Yana Julio dan Lita Zein dalam lagu Emosi Jiwa, Indonesia Enam, Spirit Band, serta Elfa’s Singers.”
Dari seorang temannya, Jan memperoleh pita demo Kla Project. Untuk waktu itu, musik yang diperlihatkan Katon Bagaskara dan kawan-kawan menurut Jan, bisa dikatakan baru.
“Potensi mereka saya lihat ada pada lagu. Kami produksi album pertama mereka Rentang Asmara tahun 1989 dan mendapat sambutan luar biasa. Dengan album debutnya itu Kla memperoleh BASF Award 1990,” kata Jan, bapak tiga anak; Lia, Angelika, dan Barry.
***
SETELAH itu grup dari Surabaya, Dewa 19, membawa contoh lagunya ke beberapa perusahaan rekaman termasuk Team Records. Ternyata Jan juga yang jeli melihat kemampuan Dhani Manaf, kini dikenal sebagai Ahmad Dhani, dan teman-temannya Erwin Prast, Wawan Abi, Andra, dan Ari Lasso.
“Memang yang menarik perhatian saya waktu itu adalah kemampuan Dhani. Dia berani membuat musik yang baru dengan ciri vokal yang sama sekali berbeda dengan gaya penyanyi waktu itu. Memproduksi grup atau penyanyi baru dengan penyanyi yang sudah dikenal sebenarnya sama saja. Modal pertama adalah lagu. Kalau lagunya bagus, siapa pun mereka kami berani memproduksikannya.”
Itulah yang mungkin dilakukan Jan ketika bergabung dengan Sutanto Hartono (kini Managing Director Sony Music Entertainment Indonesia) tahun 1997. Dia langsung memproduksi grup /rif dari Bandung yang sama sekali baru, ketika ditugasi mencari musisi lokal.
Sebagai produksi pertama penyanyi lokal Sony Music, /rif termasuk sukses dan melejit dengan lagunya Radja. Disusul grup Bima, Arwana, Padi, Wong, Cokelat, dan So7. Dari awal tahun 1999 hingga kini, Sony Music menerima contoh lagu dari sekitar 900 penyanyi dan grup baru dari seluruh penjuru tanah air.
“Entah mengapa ketika pertama kali mendengar lagu contoh yang disodorkan Duta, Eross, Adam, Anton, dan Sakti, feeling saya mengatakan ini adalah grup yang harus dicermati.”
Menurut Jan, So7 tidak langsung diterima. Mereka bahkan diminta menambah lagu-lagunya. Permintaan ini sekaligus menguji, apakah anak-anak Yogya ini serius atau tidak.
“Kalau mereka memang mampu, akan terlihat juga nanti. Benar saja, ketika mereka kembali, lagu Dan dan Anugerah Terindah baru termasuk di antaranya. Setelah mendengar semua lagu-lagu itu baru kami sodorkan surat kontrak,” ujar Jan, yang suka lari pagi dan makan malam di kafe sambil mendengar musik bersama keluarganya.
Keberhasilan album debut So7, agaknya akan diikuti album keduanya Kisah Klasik untuk Masa Depan, yang sejak dirilis akhir September lalu sampai pertengahan Oktober ini sudah terjual lebih dari 300.000 kaset. Tetapi, mengapa musikalitas So7 tidak menunjukkan kemajuan dalam album kedua ini, meski Erwin Gutawa dilibatkan sebagai penata string untuk lagu Sephia dan Tunjuk Satu Bintang.
“Sebelum sampai album Revolver, lima atau enam album The Beatles musiknya sama. Bahkan Rolling Stones sampai sekarang masih dengan musik yang tidak berbeda. Mungkin nanti, pada album ketiga, keempat atau kelima, So7 baru bisa memberikan kemajuan yang kita harapkan,” kelit Jan yang memperoleh penghargaan sebagai producer of the year Anugerah Musik Indonesia 1999 berkat keberhasilannya sebagai produser So7. (Theodore KS, penulis masalah industri musik dan hiburan )
August 24, 2002
Kebyar-kebyar itu sepertinya lagu perjuangan terakhir yang populer. Ada sejumlah lagu berlirik dengan nuansa nasionalisme. Tapi ditelan oleh ombak besar lagu cinta pria-wanita yang pasang belakangan ini. Kenapa para penulis lagu sungkan menyentuh lagu perjuangan?
Dhani Achmad
Susah Mood-nya
“BUKAN aku nggak mau mencipta lagu perjuangan. Tapi susah dapat mood-nya. Setting kehidupan kami juga berbeda dengan masa perjuangan dulu. Aku takut, kalau terlalu dipaksain malah jelek keluarnya” kata pentolan Dewa itu.
“Kalau kita nggak hidup di jaman perjuangan, bagaimana kita bisa dapat nyawanya? Lagipula, lagu perjuangan atau nasionalisme itu nggak perlu yang berapi-api. Cinta lingkungan, tentang kemanusiaan, itu juga bisa dibilang nasionalis” papar Dhani.
Dhani bilang, sangat tidak relevan jika kita selalu berkutat pada lagu perjuangan seperti dulu. Ia malah pernah dicap ‘sok nasionalis’ ketika dalam album Achmad Band, Dhani berdandan ala Bung Karno. Tuduhan mendompleng nama BK begitu menohok Dhani.
“Itu baru berdandan. Dan aku memang penggemar berat beliau. Tapi tudingan masyarakat sangat memojokkanku. Apalagi jika aku kemudian mencipta lagu dengan semangat 45, bisa-bisa mereka lebih sinis terhadapku” jelas suami Maia, yang dikaruniai tiga putra ini.
Rahadian Romulo
Produser Sungkan
“MENCIPTA lagu perjuangan? Wah terlintas aja enggak tuh. Tapi bukannya gue nggak nasionalis. Bisa dibilang, gue malah Indonesia banget. Jangan bandingkan kami dengan WR Soepratman, Mochtar Embut, Taufik Ismail, Kusbini atau H Mutaha. Iklim bermusik dan situasi kami beda dengan mereka” kata Lilo.
Ia juga takut, kalau mencipta lagu perjuangan, nantinya malah tak ada yang mendengarkan. Bisa ia bikin, tapi bisa dipastikan lagu tersebut tak akan monumental.
“Kendalanya nggak itu saja. Pihak produser, yang notabene bergerak di industri musik, sepertinya sungkan dengan lagu-lagu model begitu. Jadi balik lagi” lanjut mantan gitaris KLa Project ini.
Banjir lagu cinta-cintaan?
“Sah-sah saja itu. Asal nggak menghasut, mengadu domba, atau SARA. Dan kita kembalikan tujuan kita mencipta lagu : Tembang-tembang yang beredar sekarang kan tujuannya menghibur? Bukan untuk membangkitkan semangat perjuangan?” ujar Rahadian Romulo.
Eross Chandra
Bendera Cokelat
Ku pertahankan kau demi kehormatan bangsa. Ku pertahankan kau demi tumpah darah. Sumpah pahlawan-pahlawanku, Merah Putih teruslah kau berkibar. Di ujung diangkat tinggi Indonesiaku ini. Ku kan selalu menjagamu
Reffrain lagu berjudul Bendera yang dilantunkan grup band Cokelat itu diciptakan oleh Eross Chandra, mastermind Sheila on 7. Di situ memang kental nuansa nasionalismenya.
“Aku memang coba-coba nulis lagu kayak gitu. Aku lihat, sekarang ini jarang banget pencipta lagu nulis lagu perjuangan. Kata orang sih, lagu Bendera lumayan dapat sambutan. Yaa, syukurlah. Tapi jangan bandingin dengan lagu perjuangan tempo dulu ya? Masih jauh!” ujar Eross merendah.
Eross mencipta lagu itu bukan tanpa alasan. Pihak Sony Music, label Sheila on 7, menawari Eross bikin lagu yang akan dijadikan soundtrack sebuah sinetron. “Setelah baca skrip naskah sinetron itu, aku setuju untuk bikin lagu. Isinya memang tentang nasionalisme. Terus, yang nyanyiin Kikan Cokelat. Diaransemen sedikit rock. Biar semangat, gitu. Mungkin kalau yang nyanyiin Duta agak nggak cocok. Soalnya, warna vokal Duta kan ngepop?” jelas Eross, sebelum promo album S07 ke Malaysia.
Mengaku sulit mencipta lagu perjuangan, maka ia menyatakan salut pada almarhum Gombloh yang bisa melahirkan lagu perjuangan monumental meski negeri kita sudah merdeka. “Mungkin, kalau aku kemarin nggak disodori skrip naskah itu, nggak bakalan tercipta lagu Bendera” pungkasnya.
n abp
SOurce: MP
April 29, 2002
DUNIA hiburan di Indonesia tak bisa lepas dari perkara jiplak-menjiplak. Tak hanya di blantika musik. Juga di sinetron dan film serta kesenian lainnya. Kasus Dhani Achmad yang dituduh mencuri judul Arjuna Mencari Cinta dari karya Yudistira ANM Massardi untuk judul lagunya, membuhul belakangan ini, mengingatkan kita pada perkara abadi soal copyright yang bisa melahirkan pro-konrtra. Anda punya komentar? Tapi sebelum itu, pendapat sejumlah orang kita dengarkan.
Eross Sheila Nada Itu Kan Cuma Tujuh?
Sebagai musisi, hingga saat ini Eross Chandra mengaku belum tahu dan tak ada yang memberi tahu tentang hukum jiplak-menjiplak lagu. Sheila on 7 memang pernah tertimpa masalah, ketika lagu Anugrah Terindah yang Pernah Kumiliki dituding meniru Father and Son-nya Cat Steven.
“Tak ada niat memplagiat lagu bule itu ketika Anugrah… lahir. Aku mencipta lagu karena instink. Beberapa not bisa saja sama, wong yang namanya nada kan cuma tujuh?” kata mastermind So7 ini.
Dalam konotasi Eross, penjiplakan terjadi jika sebuah lagu mentah-mentah ditransfer, lalu ada orang mengklaim sebagai karyanya. “Saya juga mengutuk orang yang hanya menerjemahkan lirik dari bahasa Inggris ke Indonesia. Ini banyak terjadi di kasanah lagu Indoensia. Tanpa perubahan lirik sama sekali. Kenapa begitu sih? Padahal perbendaharaan kata kita kan banyak? Kalau yang diambil itu maksud atau tujuan lagu lain, nggak apa-apalah. Tapi mereka meniru plek!” kata Eross.
Songs writter muda itu bilang, kalau pun ia ambil ide lagu seniman lain, pasti akan dicantumkannya nama pemilik ide itu dan dibayarnya royalti sesuai aturan yang berlaku. Tapi, mengambil ide atau apa pun namanya, menurut Eross bukan “tipe dia”. Sejelek apa pun, Eross lebih bangga dengan karya asli miliknya.
Yuana Arifin dan Adi Woodle tentang Karya
Jiplak-menjiplak lagu menurut sarjana musik tamatan ISI ini sudah terjadi lama di Bumi Pertiwi. Tak pernah ketahuan. Hingga tahun 80-an soal itu muncul ke permukaan. Meski banyak musisi berkilah bahwa lagu ciptaannya bukan jiplakan, namun ketika kepadanya disodorkan lagu yang mirip toh mereka gelagapan juga.
“Soalnya mereka tak punya bukti bahwa lagu itu memang benar-benar ciptaannya. Kalau hanya dengan secarik coret-coretan di atas kertas disertai akor-akor, itu sih nggak bakalan kuat untuk bukti otentik,” kata Yuwono. “Seorang musisi sebelum bikin lagu, harusnya punya konsep untuk menguatkan. Dan konsep bunyi, hanya bisa dituangkan dalam not balok. Inilah yang tak dipunyai banyak musisi.”
Tentang penjiplakan lagu memang tertuang dalam Convention Bern yang menyebutkan bahwa sebuah lagu bisa dikatakan meniru jika dalam 8 bar nadanya menyamai lagu lain. Belakangan, mengenai aransemen lagu juga mulai dibahas untuk diberlakukan aturannya.
“Sejauh ini, orang dituduh menjiplak kalau ada yang menuntut. Jika tak ada yang memperkarakan, ya….dia bisa enak saja menikmati hasil jiplakannya,” kata Adi Rianto dari YKCI.
Adi menyarankan kepada para musisi, agar mereka mendaftarkan lagu karyanya ke lembaga karya cipta. Untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan. Wong cuma Rp 7500 per lagu. n abp
Source: MP
April 5, 2002
EROSS, Duta, Sakti, Adam, dan Anton masih seperti dulu. Terkesan kurang serius bila tak sedang menyandang alat musiknya masing-masing. Jawaban yang diberikan Eross dalam jumpa pers peluncuran album 07 Des, Rabu dua pekan lalu, juga terasa ringan, santai, sedikit mendekati jawaban asal-asalan. Tapi, faktanya, anak-anak muda asal Yogya yang tergabung dalam kelompok Sheila On 7 (SO7) itu adalah kartu as bagi Sony Music Indonesia. Dari tangan kelima pemuda itu telah lahir dua album (Sheila On 7, 1999, dan Kisah Klasik untuk Masa Depan, 2000), yang masing-masing terjual lebih dari 1,5 juta keping.
Dalam tempo tiga tahun, nama SO7 melangit. “SheilaGank” –sebutan untuk fans SO7– tersebar dari Sabang sampai Merauke, bahkan Malaysia dan Singapura. Semua yang diimpikan anak umur 19-22 tahun –usia rata-rata personel SO7– ini sudah mereka miliki. Koleksi gitar Eross, Sakti, dan bas Adam bertambah dalam tempo singkat. Bahkan Eross bisa lebih leluasa memenuhi keinginannya mendapatkan gitar elektrik kuno. “Saya sedang kepincut Rickenbocker kepala 60 (buatan 1960-an),” katanya. Anton, drummer, sekarang menjadi bagian komunitas pemilik motor gede Ducati Jakarta. Duta? Stereotipe frontman band ternama yang jadi idola wanita menjadi bagiannya.
Tapi, di album ketiganya, mereka kedodoran. Bukan dari sisi penjualan, karena Sony Music tahu betul jurus melariskan jualannya. Pada jumpa pers tadi, Jan Djuhana, Manajer A&R Sony Music, mengklaim bahwa album anyar itu sudah laku 400.000 keping hanya dua hari sesudah diluncurkan, 18 Maret. Ketika artikel ini ditulis, angka penjualan sudah mencapai 500.000 keping lebih. Namun, klaim SO7, bahwa mereka menawarkan warna baru di album ketiga ini, agaknya melenceng dari kenyataan. Eross memang tidak menyebut genre apa yang didekati mereka kali ini. Tapi, ada kesan, mereka berusaha menjadi minimalis dari sisi musik, dan mencoba mengeksplorasi sisi lagu dan lirik.
Cita-cita ini tentu bagus, walau dalam penggarapannya SO7 kurang matang menggoreng ide itu. Masuknya aransemen string karya Erwin Gutawa cukup menolong. Namun, sepertinya, SO7 kehabisan waktu (mereka masuk studio pada 7 Desember 2001, dan merampungkan “tugas” 16 Maret 2002, setelah diselingi tragedi banjir di studio rekaman) untuk memasak ide-ide yang berkembang. Memang ada peningkatan produktivitas: SO7 melepas 14 lagu –dari biasanya 10-12 lagu– dengan harga jual sama, Rp 18.000. Soalnya, SO7 kini lebih demokratis. Sakti, Adam, Anton, dan Duta sudah ikut menyumbang satu karya mereka, hasil gumaman selama bertualang dari satu panggung ke panggung lain.
Tapi, kalau ditelisik lebih dalam, yang bercita rasa tinggi hanya setengahnya. Dan kebanyakan karya Eross, seperti Tunjukkan Padaku, Terima Kasih Bijaksana, Seberapa Pantas (lagu ini sempat dicekal di Malaysia karena memasukkan kata “celakanya”, yang dianggap tak senonoh), dan Waktu yang Tepat untuk Berpisah. Sayangnya, samar-samar masih terdengar nada identik dari dua album mereka sebelumnya. Bedanya hanya pada pemilihan sound. Kesan mirip ini makin terasa, karena Duta kurang berani mengeksploitasi kemampuannya menjangkau nada-nada tinggi dan memanfaatkan teknik falseto. Duta masih tampil dengan tambahan lantunan “wooh”, atau “hoho”, untuk mendapatkan ketepatan nada pada bait berikutnya.
Karya Sakti pada lagu Buat Aku Tersenyum hanya nyaman di telinga pada tiga birama pertama. Selebihnya terkesan berusaha mencari chord yang sedikit njelimet saja. Nakalnya Adam, lewat karyanya yang diberi judul Bapak-bapak, mestinya tidak sekadar dalam konteks lirik. Kepiawaiannya mencabik empat senar bas sebenarnya bisa menambah nuansa nakal dari sisi musik. Secara keseluruhan, album ini kehilangan jiwa muda SO7, yang sebelumnya penuh keceriaan. Album ini penuh kemurungan.
Ingat, SO7 punya kesempatan belajar lewat dua albumnya terdahulu. Namun, kali ini, SO7 seperti band yang baru pada tahap membuat demo untuk ditawarkan ke produser. Ketimbang mengajak para “SheilaGank” beranjak dewasa, SO7 malah mengebiri mereka dalam atmosfer yang membosankan itu. Langkah seperti ini bisa menjadi bumerang di kemudian hari, karena pilihan di luar warna musik SO7 saat ini beragam. Dalam konteks grup domestik, ada Cokelat, Tic Band, dan Tiket, untuk menyebut beberapa. Belum lagi gempuran band luar yang seakan tak habis-habisnya menghipnotis pendengar muda kita. Maka, ada bagusnya kalau SO7 segera melupakan beberapa kealpaan mereka di 07 Des, dan mulai mempersiapkan konsep album keempatnya. Sebab waktu, bagi SO7, saat ini adalah sebuah kemewahan.
December 27, 2001
Komisi A DPRD DIY menargetkan pembentukan Perda mengenai perizinan pentas hiburan di DIY dalam waktu secepatnya. Jika perlu, justru setiap pertunjukan seni dan hiburan yang notabene menampilkan kreasi dari para seniman, harus dibebaskan dari perizinan. Sebab, selama ini perizinan menjadi salah satu faktor yang sering menimbulkan kasus-kasus pada beberapa pertunjukan.
Hal itu merupakan salah satu poin penting dalam audiensi antara JAP Production dengan Komisi A DPRD DIY di ruang lobi lantai I Selasa (4/12). Saat itu hadir JAP Production Dicky Wiryawan dan beberapa rekan. Namun, tak seorang pun personel Sheila on 7 yang tampak, karena baru rekaman di Jakarta. Audiensi dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD DIY yang juga koordinator Komisi A Totok Daryanto SE dan dihadiri 4 orang anggota Komisi A.
Dalam kesempatan itu, Dicky Wiryawan masih menyayangkan sikap arogansi dari aparat keamanan, yang pada puncaknya menghentikan pentas Sheila on 7 di Stadion Mandala Krida 30 Oktober lalu. Hal itu, menurut dia, merupakan preseden buruk bagi pentas-pentas serupa di wilayah DIY.
Dalam salah satu paparannya, dia juga menjelaskan bahwa pihak panitia telah menyerahkan uang keamanan kepada Kasat IPP Kompol Drs Y Marjuki sebesar Rp 5 juta, tapi ternyata tidak ada jaminan keamanan yang memuaskan, dan justru penghentian paksa.
Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi A Markaban Fakkih mengatakan, kebanyakan kasus-kasus dalam pertunjukan seni, terletak pada faktor di luar faktor seni itu sendiri. “Kebanyakan kasus sering muncul karena faktor tiket, penyeleggaraannya, manajemennya, dan sebagainya yang unsurnya dari luar seni itu sendiri. Karena seni itu sifatnya selalu cocok terhadap semua orang,” ujarnya.
Untuk itu, Markaban mengusulkan untuk membentuk Perda mengenai perizinan pertunjukan seni, dan dia akan minta dukungan pada semua fraksi untuk menggolkan masalah tersebut. Bahkan, kalau perlu setiap pertunjukan seni itu tidak perlu membutuhkan izin.
Immawan Wahyudi mengatakan, sudah sepantasnya Provinsi DIY menarik pelajaran dari Provinsi Bali. Di Bali, menurut dia, unsur budaya dan pariwisata menjadi satu pusat sentra andalan, yang konsekuensinya memperoleh dukungan positif dari berbagai sektor.
“Tapi keadaannya, di DIY ini justru saling menjegal antara sektor satu dengan yang lain. Iklim seperti ini jelas-jelas tidak kondusif,” paparnya.
Sementara itu, anggota yang lain, Herman Abdurrachman SH mendesak Dewan untuk melakukan klarifikasi dalam bentuk Rapat Kerja (Raker) dengan memanggil Kapolda DIY dan Kapoltabes Yogyakarta disertai juga dengan Kasat IPP Poltabes Yogyakarta mengenai dana keamanan yang telah diterimanya dari panitia Sheila on 7 tersebut. Menurut Herman, polisi sampai selama ini tidak memiliki visi mengenai budaya, di kota budaya ini.
“Dulu, waktu Kapoldanya Pak Logan Siagian sama saja, lalu Pak Saleh (Saleh Saaf-red) kemarin, keadaan sudah sedikit membaik. Tapi, begitu Kapoldanya ganti yang sekarang, kondisinya malah makin runyam,” kritik Herman.
Di akhir pertemuan, Dicky Wiryawan mengatakan bahwa pihaknya siap menunggu perkembangan pembahasan soal tersebut. Pihaknya juga siap bila sewaktu-waktu diajak berdialog mengenai hal itu. Dikatakan juga bahwa sebetulnya Sheila on 7 juga masih ingin pentas di Yogya kembali untuk bertemu dengan penggemar-penggemarnya.
Sedangkan Totok Daryanto mengatakan bahwa pentas pertunjukan itu merupakan hak seluruh rakyat untuk mendapatkan informasi termasuk dalam hal seni, maka itu harus dilindungi. Yogyakarta sebagai kota budaya dan pariwisata, menurut dia, harus mendapat dukungan, termasuk salah satunya dari faktor perizinan.
“Kami segera akan melakukan raker. Dan raker itu nanti khusus membahas soal perizinan, tidak akan direcoki masalah-masalah lain,’ tuturnya. (sun)
Source: Kompas
December 7, 2001
“ADA pelange di bola matamu
seakan memaksa diri ‘tuk bilang aku sayang padamu”
SEPOTONG lirik lagu Pelangi di Matamu dari Jamrud itu sangat populer di tahun 2001. Lagu yang dibawakan dengan suara serak-serak kasar oleh Krisyanto itu hampir setiap saat muncul di radio dan televisi.
Anak-anak di kampung pun fasih melantunkan lagu bercorak rock ballad itu. Lagu-lagu lain semisal Sephia dari Sheila on 7, Kasih Tak Sampai dari Padi, atau Roman Picisan dari Dewa juga memeriahkan halaman industri musik pop Tanah Air tahun ini.
Orang-orang di jagat industri musik pop negeri ini boleh menepuk dada karena mereka masih menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Di tengah gencarnya pasokan penyanyi atau grup musik dari luar, seniman lokal masih digemari publik negerinya. Album mereka laku di pasar. Konser mereka pun dibanjiri penonton. Kreativitas untuk menyuguhkan musik yang lebih baik juga terasa. Tahun 2001 ini nama-nama seperti Jamrud, Dewa, Padi, Sheila on 7, Slank, sampai Kris Dayanti (KD) boleh dibilang meraja di blantika musik Indonesia.
Ilustrasi menarik terlihat di Jakarta pada 20 September silam ketika violis terkenal Vanessa Mae dan penyanyi Kris Dayanti masing-masing menggelar konser di tempat berbeda pada jam yang bersamaan. Dua konser itu sama-sama dipadati penonton. Konser Vanessa di Hotel Grand Melia ditonton sekitar 1.500 orang sedangkan konser KD di Plenary Hall, Senayan, dihadiri sekitar 4.000 orang. Meski mereka berlatar belakang musik yang berbeda, tetapi dari dua konser tersebut bisa dibaca adanya perimbangan massa dan popularitas masing-masing artis. Setidaknya KD tidak keok untuk ukuran massa.
***
DARI sisi pasar terlihat angka-angka yang mengagetkan. Menurut Log Zhelebour dari Logiss Record yang merekam album Jamrud, album Ningrat yang antara lain berisi lagu Pelangi di Matamu dan Surti Tejo itu laku 1,8 juta kopi. Ini lompatan raksasa grup rock asal Cimahi itu. Pasalnya album mereka Nekad (1996) hanya terjual 150.000 kopi.
Dewa, menurut data Aquarius Musikindo, juga mampu menjual album Bintang Lima sebanyak 1,8 juta kopi. Data dari Sony Music mencatat, album Sesuatu yang Indah dari Padi yang dirilis 16 Juni 2001 terjual lebih dari 1,5 juta kopi. Album Padi sebelumnya berjudul Lain Dunia terjual 750.000 kopi. Album Sheila on 7 Kisah Klasik untuk Masa Depan keluaran 2 Oktober 2000, hingga kini terjual lebih dari 1,625 juta kopi. Album Sheila On 7 sebelumnya terjual lebih dari 1,12 juta kopi
Prestasi Jamrud untuk kategori rock lokal, bisa dibilang fantastis. Bandingkan dengan penjualan album rock God Bless Semut Hitam pada tahun 1988 yang cuma 300.000. Untuk eranya, album tersebut tergolong superlaris. Daya jual musisi domestik itu bisa ditangkap sebagai isyarat bahwa musik rock, atau pop yang agak ngerock memang telah mendapat pasar lebih lebar. Menurut estimasi Log, rock mampu meraih 20 sampai 30 persen pasar penikmat di Tanah Air.
Perkiraan Log itu ditunjang data di luar penjualan album, yaitu pergelaran konser musik yang dibanjiri penonton, baik di kota besar atau sampai tingkat kabupaten seperti Sleman (Yogyakarta) atau Bojonegoro (Jatim) yang pada era sebelumnya belum terjamah konser rock. Jamrud menggelar 65 konser di 50 kota. Slank, GIGI, konser keliling Jawa. Dewa juga menggelar konser di delapan kota antara lain Purwokerto, Denpasar, Mataram, Malang, Semarang, Solo, dan Bogor. Festival rock yang digelar Log untuk menjaring grup baru pun diadakan dengan dana tak kurang dari Rp 8 milyar. Itu artinya, rock memang mempunyai pasar yang riil.
Album untuk penyanyi solo seperti Kris Dayanti memang tidak semassal album grup di atas. Album Mencintaimu yang dirilis tahun 2000 masih diburu orang hingga tahun ini. Catatan mutakhir dari Warner menunjuk angka penjualan 350.000 keping untuk album yang mengandalkan lagu ciptaan Melly tersebut. Angka itu memang masih kalah dengan album duet KD dengan Anang Hermansyah berjudul Cinta keluaran tahun 1996 yang hingga tahun ini laku 750.000 kopi. November lalu penyanyi kelahiran Batu, Malang, tahun 1975, itu melempar album Konser KD-Erwin Gutawa Orkestra. yang diambil dari konser KD di Jakarta Convention Center, September 2001.
Meminjam bahasa dagang, “tata niaga” bisnis musik di negeri ini tahun ini terlihat makin tertata. Setidaknya dibanding dekade sebelumnya yang masih dikuasai pedagang dengan tirani selera komersialnya. Kini, paling tidak sejumlah label besar menggunakan sistem seleksi untuk menjaring pendatang baru. Ada pula konser keliling yang biasanya menyertai keluarnya sebuah album. Sistem seleksi via kaset demo setidaknya telah memberi referensi lebih luas bagi pedagang musik.
Mekanisme seleksi sistem demo rekaman juga membuat rasa suguhan musik makin beragam. Dengan sistem itu pula, asal grup pun melebar dan tidak terpusat di tiga titik tradisional: Jakarta-Bandung-Surabaya. Tersebutlah Sheila on 7, Jikustik dari Yogyakarta, Jamrud dari Cimahi, dan Padi dari Surabaya. Mereka sebelumnya tidak terdengar di pentas musik nasional. Ibarat masakan, contoh demo itu akan dicicipi oleh bagian artist and repertoir. Insting musikal dan kepekaan dagang mereka kemudian melahirkan nama-nama seperti Sheila on 7 atau Padi.
Konsumen musik pun sudah mulai selektif. Klip video yang ditayangkan di televisi, menjadi semacam etalase yang digunakan konsumen untuk menilai dagangan musik. Maka, musik berengsek secara alami akan tersisih meski dengan dana besar promosi mereka mampu menawarkan produk di televisi atau radio.
***
URUSAN kualitas dan profesionalitas kini memang tak dapat ditawar-tawar lagi. Nasib musik asal jadi kini hanya tergantung hoki, atau langsung menjadi sampah. Tahun ini banyak penyanyi atau grup yang memaniskan garapan musik dengan sentuhan orkestra, atau polesan seksi gesek. Mereka juga melibatkan instrumen dari pemain luar. Padi meminta kelembutan harpa Maya Hassan untuk lagu Kasih Tak Sampai.
Dewa menggunakan sentuhan orkestra Erwin Gutawa untuk lagu Roman Picisan. Demikian juga Sheila on 7 yang melibatkan orkestra Erwin dalam lagu Sephia dan Tunjuk Satu Bintang. Pada album mereka sebelumnya, sound gesek itu hanya dihadirkan dari keyboards. Menurut Sheila on 7, sentuhan instrumen gesek dihadirkan untuk memperkuat karakter lagu dan bukan sekadar untuk “gaya-gayaan”.
Bagi Dewa, seperti yang pernah dikatakan personelnya, Dhani, dalam wawancara dengan Kompas, mereka memang harus bicara kualitas. Produksi dan aransemen lagu mereka, kata Dhani, dibuat semakin mendekati standar internasional. Untuk itu mereka mengaku belajar dengan lebih banyak mendengarkan karya-karya band legendaris, misal, The Beatles, U2, dan Queen. Album Bintang Lima boleh dikatakan sebagai album termatang dari Dewa selama ini. Harmoni vokal digarap dengan cermat untuk lagu seperti Risalah Cinta atau Roman Picisan.
Untuk penyanyi solo, Kris Dayanti masih memimpin. Di belakangnya memang ada penyanyi yang relatif baru seperti Rossa, Dewi Sandra, atau Shanty. Ada juga deretan penyanyi lokal lainnya seperti Reza Artamevia, Titi DJ, Ruth Sahanaya, bahkan penyanyi “senior” Vina Panduwinata juga masih mempunyai karisma kuat di blantika musik. Namun, pamor KD di mata publik masih kuat. Setidaknya, ia telah menerima sederet penghargaan tahun ini mulai dari gelar The Funkiest Female Singer dan The Funkiest People Choice dari hajatan Clear Top Ten Awards, sampai gelar terbaik oleh Anugerah Musik Indonesia (AMI)-Sharp Awards untuk kategori Penyanyi Solo Terbaik dan Duet Terbaik bersama Anang Hermansyah, suaminya. Album KD Makin Aku Cinta juga dinyatakan sebagai Album Terbaik oleh Anugerah Musik Indonesia (AMI)-Sharp Awards.
KD menjadi salah satu contoh artis yang mampu mengelola diri di bisnis musik, baik di pentas maupun rekaman. KD sebagai penyanyi memang mengakui tidak saja mengandalkan pemasukan dari rekaman tetapi juga panggung. Keduanya saling mengimbas pada “omzet” KD sebagai entertainer. Artinya, penggemar KD versi penampilan konser merupakan konsumen utama albumnya. Itulah mengapa selain menjaga vokal, KD sangat hirau dengan penampilan fisik. “Saya keluarkan untuk penampilan fisik, termasuk untuk kostum,” kata KD.
Tahun ini, Chrisye juga masih membuktikan diri ampuh setelah lebih 25 tahun berkiprah di jagat tarik suara. Vokalnya tak berubah warna dan masih terjaga meski tak seprima seperti ketika ia tampil di album Badai Pasti Berlalu keluaran tahun 1977. Di usia 52 tahun, Chrisye masih mampu merangkul penggemar remaja yang belum lahir saat ia hasilkan album Sabda Alam atau Jurang Pemisah. Lihat penampilan Chrisye pada klip album Konser Tour 2000 yang dikemas begitu segar, muda, dan energetik.
***
SADAR kualitas produk, sadar penampilan, itulah hukum dagang industri musik pop yang tampaknya makin dipahami penyanyi atau grup lokal tahun ini. Klip video yang kini menjadi semacam keharusan sebuah album menuntut para pelaku di industri pop itu untuk mengemas diri sesuai citra yang mereka inginkan. Lihatlah tampilan Jamrud yang bergaya men in black itu. Mereka berpakaian serba hitam, dengan kacamata hitam, dan rambut panjang liar, serta wajah yang tak pernah melempar senyum. Itulah kemasan tampilan yang mereka pilih hingga menjadi brand yang menancapkan citra kuat di benak konsumen musik. Dengan penampilan sangar itu mereka melempar lagu lembut dalam garapan rock ballad, lalu lahirlah prestasi 1,8 juta kopi itu.
Lihat juga penampilan KD dalam konser, klip video, sampul kaset/CD, atau di majalah. Sosoknya selalu tampak seperti putri dari alam mimpi. Mulai dari kuku kaki, telinga, hingga alis mata, sampai bola mata-jangan tanya soal kostum-semuanya terjaga nyaris sempurna dan siap dibidik ribuan mata dan kamera. Klip video oleh karenanya menjadi sangat penting di jagat pop karena penampilan fisik itu sangat menunjang produk yang berupa materi dengaran (auditif). Ingat saja Beatles yang merancang potongan rambut poni, atau Tom Jones dan Engelbert Humperdinck yang sengaja mengumbar cambang bagai kulit durian. Ingat pula Jennifer Lopez yang menjual citra sensualitas latin.
Guru besar soal industri musik pop seperti ini tentu saja Amerika atau Inggris yang mempunyai Madonna, Michael Jackson, Beatles sampai Queen. Siapa yang ditiru Andra gitaris Dewa itu kalau bukan gaya Brian May dari Queen dengan gitar Big Red-nya itu. Siapa pula yang mengajari menggelar AMI Sharp Awards kalau bukan Grammy. Bandingkan saja bagaimana sepasang artis mengumumkan pemenang dengan segala cara membuka amplop itu.
Arah menuju industri pop “standar internasional”-meminjam istilah Dhani Dewa-itu makin jelas belakangan ini. Infrastruktur untuk itu sudah mulai terbangun: ada televisi, radio, dan media cetak yang siap menawarkan produk secara massal dan cepat. Paket itulah yang kemudian menghasilkan angka-angka penjualan yang menjadi ukuran sukses industri pop. Ada pula lembaga pemberi penghargaan semacam AMI-Sharp Awards yang konon lebih berbicara masalah kualitas produk.
Bagaimanapun, kerja keras dan kreativitas seniman-seniman muda di jagat industri musik pop Tanah Air itu tak sekadar memberi penghasilan kepada para pelaku yang terlibat di dalamnya. Mereka juga telah menghibur jutaan rakyat. Karyawan kantor berdasi sampai seorang pengamen cilik pun di atas bus kota dengan gembira melantunkan lagu Sephia: … Selamat tinggal kekasih gelapku/semoga cepat kau lupakan aku … (Frans Sartono)
Source: Kompas
November 5, 2000
“Pacaran yang sehat adalah pacaran yang dilakukan oleh jenis kelamin yang berlainan, tentunya cowok dengan cewek,” demikian definisi Saktia Ari Seno, gitaris kelompok Sheila On 7(SO7) tentang pacaran yang sehat saat menjadi salah satu panelis talk show bertajuk “Problematika Remaja: Pacaran Sehat dan Narkoba” yang digelar Radio Arma Sebelas, di Purna Budaya Yogyakarta, tadi siang.
Talk show yang dipandu oleh Setyawan `Plat AB` dan Santos dari Radio `Arma Sebelas` ini, digelar dalam rangka memperingati tiga tahun `mengudaranya`–pengasuh masalah seksualitas– Lentera-Sahaja. Selain Sakti SO7, hadir pula Dr Inu Wicaksana yang sering mengurusi masalah narkoba, dan Ajun serta Irma sebagai pengasuh di Lentera-Sahaja.
Dr Inu Wicaksana yang angkat bicara masalah pacaran kaitannya dengan narkotika. Maksudnya ia berpesan, sebenarnya peran pacar sangat besar untuk menyembuhkan atau mencegah narkoba. “Pacar menjadi penentu bagi pasangannya yang terkena narkoba untuk bisa menjauhkan dari narkotika,” katanya.
Lain hanya pendapat dari Irma dan Ajun. Bagi mereka, pacaran sehat itu alamiah tidak hanya dari fisiknya saja, tetapi juga mental. “Jika sering menyakiti, secara fisik, buat apa berpacaran?” kata Irma. Irma juga menambahkan bahwa kondisi sosial juga punya peranan penting dalam pacaran, “Ketika sudah masuk tahap pacaran, harusnya juga bisa mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku di masyarakat.” tambahnya.
Kelanjutan komentar Sakti yang tidak setuju mengenai pacaran `sejenis`, rupanya tidak berhenti begitu saja. “Nggak sehat, pacaran dua insan manusia, cowok dengan cowok atau cewek dengan cewek.” tegasnya. Menurut Mahasiswa STIE YKPN angkatan `98 ini, pacaran merupakan kebutuhan manusiawi, setiap orang pasti akan mengalaminya. “Itu kodrat dari sang pencipta,” menambahkan.
Itu kalau pacaran, kalau narkoba? Sakti yang mewakili teman-temannya SO7–hanya Sakti yang hadir, kawan yang lainnya kelelahan setelah sehari sebelumnya manggung di Soemarjo Grand Ballroom Hotel Quality Solo, Sabtu (4/11)–, memproklamirkan diri bahwa SO7, bebas dari narkoba. “Nggak perlu pake imajinasi-imajinasian ketika kita membuat lagu. Eross pun saat mencipta lagu hanya lewat pengalaman sehari-harinya kok,” tegas Sakti. Gitaris kalem yang dalam album keduanya juga membackingi vokal Duta Modjo ini buka rahasia, hanya dengan makanan dan minuman yang sehat dan bergizi, mereka dapat berkarya lewat musik, dan mencipta lagu yang enak didengar. “Memang ada juga sih…di kalangan artis yang selalu menggunakan obat-obatan terlarang, saat mencipta lagu.” ucapnya. Dilain pihak, ia juga mengiyakan kalau ada pula yang menggunakan suplement saat manggung. “Paling minim menggunakan doping..seperti Kratingdaeng… agar staminanya di panggung terlihat bagus,” katanya.
Setelah membagi-bagikan bingkisan kaset, foto dan tanda tangan, stiker serta gantungan kunci, akhirnya “Tunjuk Satu Bintang” dan “Sephia” yang dinyanyikan Sakti–bukan Duta– sekaligus memetik gitar secara akustik, mengakhiri talk show ini. Memang disambut histeris para peserta yang kebanyakan cewek. Tapi setelah Sakti turun panggung, keadaan berbeda. Berangsur-angsur surut para peserta yang hadir. Padahal masih ada pemanpilan dari grup Unit Goyang Dangdut(UGD). Agak malang rupanya penampilan UGD tadi siang, yang menjadi penutup keseluruhan acara ini.
Source: Gudeg.net
January 23, 2000
GRUP band Sheila on 7 (Yogyakarta) termasuk yang beruntung itu, karena mampu menerobos industri rekaman kaset via Sony Music Indonesia. Sheila on 7 berdiri 6 Mei 1996 dengan personel Adam Muhamad Subarkah (bass), Anton Widyastanto (drum), Saktia Ari Seno (gitar rhythm), Eross Chandra (gitar melodi), Akhdiyat Duta Modjo (vokal). Untuk keyboard, Sheila on 7 menambah musisi yang selalu berganti personelnya.
Kompas/mathias hariyadi
Bagaimana awal mula Sheila on 7 atau grup-grup band “ABG” itu terbentuk? Vokalis Sheila on 7, Akhdiyat Duta Modjo menuturkan, “Karena rumah kami berdekatan, maka daripada nongkrong-nongrong, lebih baik main musik saja. Lalu kami membentuk grup band.” Lima remaja yang berasal dari SMU yang berbeda-beda itu pun akhirnya sepakat membentuk grup band Sheila on 7. Setelah itu mereka menambah jam terbang dengan “ngeband” di acara ulang tahun sekolah-sekolah, diundang meramaikan Lustrum kampus, sampai mengikuti festival band SMU.
Grup Jun Fan Gung Foo (JFGF) juga di bawah bendera Sony, berdiri 10 Agustus 1997. Delapan personel JFGF, yakni Dawny Bayu Amianto (vokal), Dicky Rivaldi (gitar), Drian Sandya (bass), Slamet Awalludin “Wally” (drum), Andreas Pardede “Ucok” (trompet), Ibnu Hartanto (trombon), Zendy Bramantya (alto saksofon), dan Wawan Rahardianto (tenor saksofon).
Mereka berangkat dari band SMU Lab School Jakarta. Susunan personel yang terakhir tersebut merupakan formasi ketujuh. Dari “bongkar-pasang” personel tersebut, tersisa tiga orang yang berasal dari satu SMU, yaitu Dawny, Dicky, dan Drian.
Sementara Purpose Tiger Clan terbentuk 1 Januari 1997 gara-gara terlalu seringnya mereka bertemu di sebuah studio musik di kawasan Titiran, Bandung. Setelah melanglang ke berbagai pub di Bandung seperti Ohara, menjadi home band Ubud Cafe selama setahun, lalu di Fame Station; Didin (bass), Willy (gitar), Romy (gitar), Andy dan Lutfi (vokal), Arya (drum), Wiwit (keyboard), Zen (saksofon) dan Imam (trompet) akhirnya menelurkan album perdana Tiger Clan lewat BMG Music Indonesia.
Jika disimak, meski penampilan mereka terlihat apa adanya, kocak, ceria dan terkesan tak serius, mereka serius menguasai alat musik. Yang menarik, penguasaan alat musik mereka lebih banyak secara otodidak. Sebagian bahkan belajar sendiri sejak usia SMP. Hanya beberapa yang mengambil les ataupun kursus musik, seperti Anton Widyastanto, drummer Sheila on 7 yang les drum di Medan sejak Sekolah Dasar.
Sedangkan para peniup trompet, trombon atau saksofon, biasanya berasal dari kelompok marching band. Pemain trompet, trombon, atau saksofon menjadi sangat vital, karena trend musik grup band ABG belakangan ini condong ke ska core.
Ska core yang merupakan perpaduan musik cok, reggae, dan Jamaica, juga pernah mengalami booming pada tahun 1980-an bersama munculnya musik new wave di mana ska adalah bagiannya. Grup band Noin Bullet menawarkan ska yang berbeda.
Personel Noin Bullet: Hadi Irhamsyah (vokal), Chaerul Juliandri (gitar), Sonny Indrawan (bass), Arya Yudistira (drum), Muhammad Arie Mustari (trompet), dan Acep Setiawan (trompet dan trombon) menawarkan pola ska generasi ketiga yang berciri ada dua instrumen tiup sebagai pengganti sound keyboard yang sangat kental pada ska generasi kedua. Selain itu ska Noin Bullet lebih mengarah pada pengandalan distorsi, tanpa harus terjebak pada pola rock alternatif.
“Kami menghadirkan konsep ska dengan ramuan distorsi, tanpa mengabaikan kekhasan ska yang identik dengan pola rhytm guitar bergaya reggae,” kata Hadi, vokalis Noin Bullet. Sebelum masuk dapur rekaman, Noin Bullet telah berkiprah di rimba indie label. Akhirnya, Warner Music Indonesia merekrut mereka dan jadilah Noin Bullet melempar album Bebas di bawah bendera major label.
“Kami suka ska karena musiknya ceria, enak didengar dan sesuai dengan jiwa anak muda. Mendengar ska, kaki dan tangan kita otomatis bergerak lincah. Tetapi kami tak hanya main ska, kami juga main rap dan alternatif,” ujar Didin, pemain bass Purpose Tiger Clan.
Sedangkan Sheila on 7 lebih condong ke pop-rock. Kenapa? “Karena suasana hati kami tidak memadai untuk main ska. Bukannya kami nggak suka ska. Tetapi saya pikir, segala macam yang kami mainkan itu nggak bisa dipaksakan,” kata Duta, vokalis Sheila on 7.
***
SETELAH malang-melintang di panggung sekolah, kampus, festival, pub dan kafe, bagaimana mereka dapat menembus dapur rekaman? Jawaban yang hampir serupa mereka berikan. Umumnya mereka terlebih dahulu membuat kaset demo yang berisi rekaman lagu-lagu ciptaan mereka sendiri dan menawarkannya ke beberapa perusahaan rekaman.
“Setelah kami punya enam lagu, kami membuat proposal dan kaset demo. Langsung kami bawa ke Sony. Eross dan Adam sendiri yang membawanya. Kami cuma menunggu dua minggu. Bulan Oktober 98 langsung rekaman,” kata Duta.
Mengapa industri rekaman kini cenderung mem-blow-up grup-grup band “ABG” dan menjadikannya pendatang baru di dunia rekaman, Marketing Director Local Repertoar and Promotion Sony Music Indonesia, Lala Hamid, menuturkan, pasar “ABG” lebih banyak. Demikian alasannya.
“Pasar remaja menengah ke atas ternyata tetap tinggi, meski krisis masih berlangsung. Membeli kaset bagi ABG adalah suatu kebutuhan. Adik saya rela nggak beli baju baru. Tetapi beli CD atau kaset itu harus,” kata Lala Hamid.
Menurut Lala, merekam sebuah grup band lebih gampang dibandingkan merekam penyanyi solo, karena grup band sudah memiliki lagu-lagu karya mereka sendiri. “Kalau penyanyi solo, kami masih harus mencarikan lagu untuk mereka. Kalau grup band, mereka biasanya sudah matang di panggung,” ujar Lala.
Grup band yang masuk dapur rekaman, tutur Lala, ditampilkan apa adanya. Sony Music tidak membagi atau mengelompokkan mereka. “Mereka tampil sesuai dengan tipe atau sampel lagu yang mereka kirim pada kami. Ada ska, pop-rock, alternatif,” ucap Lala seraya menambahkan, hingga saat ini penjualan tertinggi album Sheila on 7 mencapai 750.000 kaset sejak beredar April 1999. Sedangkan JFGF yang rekaman Agustus-September 1999, kaset mereka yang bertajuk Bruce Lee telah terjual 50.000 kaset.
Julianty Nurdin, Promotion Coordinator BMG Music Indonesia, mengatakan, BMG merekam Purpose Tiger Clan karena mereka memiliki potensi. “Waktu itu kami lihat penampilan live mereka di Bandung. Sebenarnya basic mereka bukan ska. Mereka mainkan rap atau R & B. Karena dari sisi bisnis ska sedang marak, kami tawarkan mereka untuk main ska dan mereka mau karena pasarnya juga bagus,” demikian Julianty. Selama satu setengah bulan peredaran kaset Tiger Clan, telah terjual 40.000 kaset.
Sementara Lily Nurhayati, Senior Local Label Promotion Executive Warner Music Indonesia, Warner tidak pernah mengarahkan konsep musik artis mana pun. “Kami hanya mengarahkan penampilan mereka. Kami melihat pasar mereka bagus. Sampai sejauh ini kaset terjual 50.000 buah. Sebelumnya, di indie label mereka mampu menjual 1.500 kaset. Tetapi bagus itu bukan melulu angka penjualan. Namun, bagaimana pertanggungjawaban profesional mereka. Maksudnya dari padatnya jadwal manggung mereka, itu berarti peminat mereka juga banyak,” kata Lily Nurhayati.
Maraknya grup band baru masuk dapur rekaman kian memperkaya deretan grup-grup band yang telah eksis sebelumnya. Betapapun, kehadiran mereka telah memberikan nuansa lain. Keceriaan remaja yang mereka tawarkan akan tetap dicari para penggemarnya yang ingin lari sejenak dari kepenatan belajar ataupun persoalan besar bangsa yang tak kunjung usai. (elok dyah messwati)
Source: Kompas