May 13, 2003

“Jangan Robek Benderaku”: Tak Bawa-bawa Parpol

Akan ada acara yang dikonsep oleh penyelenggaranya, Merah Putih Jaya, sebagai event besar yang mengandung misi. Konser Simfoni Merah Putih: Jangan Robek Benderaku, namanya. Lewat acara yang bakal digelar di Parkir Timur Senayan, Jakarta, pada Minggu (18/5) mulai pukul 14.00 WIB itu, penyelenggaranya bermaksud mengingatkan kita untuk menguatkan lagi rasa cinta kepada Indonesia, yang disimbolkan dengan menjaga eksistensi bendera merah putih.

Karena Ketua Umum Penyelenggara Konser Simfoni Merah Putih: Jangan Robek Benderaku adalah H Audy Tambunan yang orang PDIP dan anggota DPRD DKI Jakarta, munculah dugaan bahwa perhelatan tersebut merupakan bagian dari kegiatan-kegiatan pemanasan PDIP menuju Pemilu 2004.

Dalam jumpa pers di Hard Rock Cafe Jakarta, pada Selasa (13/5) siang, Audy menegaskan bahwa acara itu tidak ada hubungannya dengan partai politik tempatnya bernaung. “Saya tidak melibatkan partai, meskipun ada dukungan materi dan moril dari teman-teman di DPR RI, DPRD DKI Jakarta dan Kabinet Gotong Royong,” ucapnya.

Audy sendiri mengaku mendapatkan gagasan untuk membuat acara itu karena terinspirasi oleh spanduk bertuliskan “Jangan Robek Benderaku” yang dilihatnya di depan Gedung Lemhanas, Jakarta, dua tiga bulan lalu.

Dalam Konser Simfoni Merah Putih: Jangan Robek Benderaku yang akan dipandu oleh Alya Rohali dan Ferdy Hassan, bakal tampil Sheila on 7 dan Cokelat, dua kelompok musik yang punya banyak penggemar dari kalangan muda kita. Cokelat, yang diwakili oleh manajemen mereka, dan Sheila on 7, yang mengutus Duta (vokal) dan Eross (gitar), dalam jumpa pers mengatakan bahwa mereka akan menyajikan sejumlah lagu, bisa sampai belasan, dari album-album mereka.

Menurut mereka, dalam event tersebut, mereka tidak harus membawakan lagu-lagu kebangsaan dan perjuangan untuk membangkitkan rasa cinta Tanah Air. “Kami ingin menghibur dengan lagu-lagu dari album-album kami,” kata Duta. “Lagi pula, dengan bersama-sama menikmati hiburan tanpa bikin keributan, itu juga merupakan contoh rasa cinta kita kepada Indonesia. Enggak perlu kita jauh-jauh ikut demo antiperang (AS-Irak). Kita lakukan saja apa yang nyata-nyata bisa kita lakukan,” lanjutnya tentang pertunjukan gratis tersebut.

Eross menjelaskan bahwa bukan baru sekali Sheila on 7 ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang bermisi sejenis. Pada 2002, Eross mencipta lagu Bendera yang dibawakan oleh Cokelat untuk album soundtrack film Bendera yang disutradarai oleh Nan T Achnas. “Ya, yang kali ini juga merupakan perpanjangan dari keterlibatan Sheila on 7 dalam kegiatan-kegiatan yang punya misi menumbuhkan semangat kaum muda,” kata Eross.

Dalam jumpa pers, baik manajemen Cokelat maupun Eross dan Duta belum bisa memastikan apakah mereka bakal tampil bersama untuk menyuguhkan satu atau beberapa lagu, atau tidak. “Biar jadi surprise saja,” ujar Duta.

Selain pertunjukan Sheila on 7 dan Cokelat, dalam Konser Simfoni Merah Putih: Jangan Robek Benderaku akan dibuka pula sejumlah stand SMU, universitas, sekolah tinggi bahasa, lembaga kursus bahasa dan organisasi pecinta alam. (Ati)

Source: Kompas

November 3, 2002

“Sound System” Buruk Pengisi Acara Kecewa

Filed under: Konser '99 - '02

Tata suara (sound system) yang buruk mengecewakan para pengisi acara Festival Musik Akbar di Lapangan Parkir Timur Senayan, Sabtu (2/11) malam. Mereka yang kecewa umumnya adalah band-band papan atas di Indonesia saat ini.

Acara yang diselenggarakan A Mild Live Production dan Deteksi Production itu rencananya berlangsung dua hari, sampai Minggu (3/11) ini. Jumlah peserta seluruhnya hampir 40 band. Hari pertama, Sabtu, menampilkan sekitar 20 band, sepuluh di antaranya adalah band papan atas. Sebut saja Sheila on 7, Wayang, Naif, Jikustik, Gigi, T-Five.

Panitia menyediakan dua panggung, satu panggung utama seluas 342 meter persegi untuk band-band populer dengan kekuatan tata suara 200.000 watt, dan panggung tambahan hanya 40.000 watt. Selain itu, panggung memiliki kekuatan tata cahaya 500.000 watt.

Beberapa peserta yang menyampaikan keluhannya di antaranya Yudi (vokalis Wayang) dan Eros (gitaris Sheila on 7). Menurut Eros, seharusnya mereka membawakan 14 lagu, tapi karena kondisi sound system buruk, Sheila 0n 7 hanya menyanyikan 12 lagu dan malas melanjutkannya.

Sementara David (vokalis Naif) malah secara blak-blakan dari atas panggung pertunjukan mengatakan sound system jelek. “Sebentar-sebentar, mike mati,” keluhnya. Menurut Manajer Naif, Bga, mengatakan, untuk panggung sebesar itu, seharusnya tidak terjadi kesalahan teknis semacam itu. “Seharusnya, panitia sudah menyiapkan secara matang,” katanya.

Band-band yang manggung dalam acara itu mengeluh soal ini. Yang paling parah, Base Jam. Baru naik panggung dan menyanyikan satu lagu, Pujangga, mike sudah ngadat.

Menurut Manajer TIC-Band, Puguh Ardiwibowo, dam Manajer Naif, Bga, pada waktu gladi resik, mereka diberi kesempatan cek tata suara, tapi waktunya hanya singkat. Tidak lebih dari satu jam. Padahal menurut mereka, idealnya, cek tata suara 2,5 jam sampai 3 jam.

Tata cahaya juga banyak kekurangan karena beberapa penampilan band, sosok vokalisnya malah gelap. Tiga layar raksasa di panggung tidak terlihat jelas, padahal layar itu menayangkan videoklip band yang manggung. Dari kapasitas 50.000 orang, yang datang sekitar 20.000 orang.

Sementara Commucation Executive A Mild Live, Djoko Adnan yang ditanya soal ini mengatakan, pihaknya tidak tahu menahu soal pengaturan tata suara, tetapi pihak Deteksi Production. Sedangkan pihak Deteksi Production tidak tampak di sekitar panggung.

Salah satu misi acara ini adalah menyuarakan perdamaian. Untuk itu, panitia melepas 2.500 ekor burung merpati pada hari Sabtu, dan jumlah yang sama pada hari Minggu ini. (yus/ksp)

Source: Kompas

July 9, 2002

Sheila on 7 Dapat Sandal

Filed under: Konser '99 - '02

JEPARA - Ada-ada saja ulah penggemar grup Sheila on 7 (So7) pada pergelaran musik di Stadion Kamal Djunaidi, Senin (8/7) sore kemarin. Mungkin tidak mau kalah dengan yang lain -yang melempar topi dan memberikan bunga kepada Duta, vokalis So7- ada penonton yang nakal melemparkan sandal jepit.

‘’Mau entuk kembang, saiki Swallow (Tadi mendapat bunga, sekarang Swallow -sebuah merek sandal jepit-Red),'’ ucap Duta sambil memegang sandal jepit yang dilempar penonton ke atas panggung.

Konser di Jepara merupakan rangkaian tur 30 kota di Tanah Air yang dimulai sejak 1 Juni lalu dari Kota Palembang. Dua kota di Jateng yang telah disinggahi, Semarang (4/7) dan Pekalongan (6/7). Besok Rabu (10/7), mereka di Solo.

Aksi panggung band asal Yogyakarta itu sangat komunikatif. Tampil dengan dandanan sederhana dan apa adanya, kelompok musik itu mampu menyihir sekitar 20.000 penonton yang memadati lapangan sepakbola. Duta sang vokalis yang mengenakan kaus oranye, justru tampak ‘’lebih hidup'’ saat berjingkrak-jingkrak di panggung.

Kelihatannya, lima personel band papan atas -yang kemarin didampingi dua cewek backing vokal, Mia dan Annisa- itu benar-benar meresapi tema tur musik yang disponsori Star Mild tersebut. Yakni sederhana dalam sikap dan kaya dalam karya. Penampilan dan sikap mereka wajar-wajar saja dalam pandangan masyarakat awam.

Karena itu, bukan hanya para ABG putri saja yang gandrung melainkan para ibu dan bapak pun rela menemani anak-anak mereka yang masih berusia SD hingga SMU/SMK menyaksikan konser tersebut. Di depan panggung terlihat gadis kecil yang duduk di pundak ayahnya ikut bergoyang mengikuti alunan musik.

Sebelum Duta naik panggung dan membuka pertunjukan dengan lagu ‘’Sahabat'’, ribuan penonton yang sudah berjejal di depan usrek. Beberapa kali mereka mengeluarkan teriakan, ‘’Wuuuuu…!'’ ketika serombongan orang masuk pintu ke lapangan stadion yang terletak di belakang panggung. Mereka mengira yang datang adalah para personel So7.

Sikap mereka dapat dimaklumi, sebab sesuai jadwal seharusnya pementasan sudah dimulai pukul 15.00, namun baru dimulai setengah jam kemudian. Berbeda dengan konser Jamrud Kamis pekan lalu -yang didahului sejumlah band pendamping- So7 tampil sendirian.

Dua pendukung vokal, Mia dan Annisa, lebih dulu naik pangggung disusul lima personel So7: Anton (drum), Adam (bas), Sakti (gitar), Eross (gitar), dan Duta (vokal). Tak lama kemudian meluncurlah nomor ‘’Sahabat'’, disusul ‘’Terima Kasih'’, ‘’BPK'’, dan ‘’P.O'’.

Pada saat nomor-nomor itu meluncur, sekelompok kecil penonton membuat ulah dengan berjoget sambil memutar dan meloncat ke sana-kemari. Buntutnya terjadi tawur, antarpenonton saling pukul dan tendang. Untuk melerai yang tawur, serempak penonton mencibir dengan teriakan, ‘’Ndesa… ndesa… ndesa….'’ Duta yang masih memegang mikrofon pun ikut menambahi,'’Lo, zamane wis merdeka kok isih gontok-gontokan.'’

Semprot Air

Untuk mendinginkan emosi penonton, petugas ‘’hujan buatan'’ pun diminta menyemprotkan air untuk mengguyur ribuan pengunjung di depan panggung. Tak lama kemudian, penonton pun larut lagi dalam hentakan-hentakan musik. Lalu, berturut-turut meluncur lagu ‘’Tunggu Aku + Tunjukkan'’, ‘’Tentang Hidup'’, ‘’Percayakan Pria'’, dan ‘’Pagi'’. Di sela-sela itu, muncul aksi gontok-gontokan antarpenonton sehingga musik dihentikan sambil menunggu keributan berhenti.

Untuk mengalihkan perhatian sekelompok kecil penonton yang masih berulah, Duta menyelingi lagu-lagunya dengan dialog-dialog singkat. ‘’Kebahagian kami yang terbesar adalah saat bersama Anda di sini. Terima kasih Jepara yang telah menyambut kami dengan baik.'’

Lagu selanjutnya, ‘’Pagi'’, ‘’Kita'’, ‘’Buat Aku'’ mengalun syahdu. Penonton memberikan tepuk tangan dan turut berolah vokal saat vokalis So7 itu menyanyikan hits album pertama mereka, ‘’Dan'’ disusul ‘’Sephia'’. Aksi jingkrak-jingkrak semakin seru ketika bergulir ‘’Kusah + Temani'’.

Sebelum menutup aksi panggungnya, Duta memperkenalkan dua personel tambahan yang baru sekali itu di ajak manggung.

‘’Biasanya kami tampil lima orang, sekarang tujuh orang. Yang di belakang itu, Mia dan Annisa. Dua perempuan,'’ ujar Duta memberikan tekanan pada kata ‘’dua perempuan'’ yang disambut teriakan bersemangat dari penonton.

Konser yang berjalan sekitar satu setengah jam itu seluruhnya menampilkan 17 lagu yang ditutup dengan ‘’Saat Aku'’, ‘’Anugerah + Jap'’, ‘’Bila Kau'’, dan terakhir ‘’Seberapa'’.

Berdasarkan pemantauan hingga konser usai, tidak ada korban luka baik karena tawur maupun yang pingsan akibat histeria atau tergencet.

Panitia lokal dari Classic Production Jepara Rizky Edo Prasetyo menuturkan, jumlah karcis seharga Rp 15.000 per lembar, yang terjual lebih dari 9.300 lembar.

‘’Sebelum lagu-lagu terakhir, pintu kami buka untuk memberi kesempatan kepada penonton yang tidak membeli tiket. Kami puas, konser berjalan dengan aman,'’ ungkap Edo, putra pengusaha mebel Classic Furniture H Pawoko.(kar-41j)

Source: Suara Merdeka

October 7, 2001

Konser Terima Kasih Diundur

Filed under: Konser '99 - '02

URUNG, Sabtu 6 Oktober ini Sheila on 7 menggelar Konser Terimakasih Yogya yang rencananya berlangsung di Stadion Mandala Krida Yogya, diharap mencerap penonton 20 ribu orang.

Even itu diplanningkan oleh Adam M Subarkah dan Anton Kurniawan selaku Penanggungjawab Konser dan Manager So7 sebagai The Best Performance of Sheila on 7. Pertunjukan terbaik kelompok musik pujaan jutaan remaja itu.

Maka, disiapkan tiga giant screen atau monitor raksasa yang di samping menayangkan performance-act para personal So7, dalam acara yang diformat tiga kali break itu layar-layar ini juga akan menampilkan funny-video Anton, Adam, Sakti, Duta dan Anton Kurniawan. Plus klip lagu-lagu mereka. Plus komentar dan kesan orang-orang terdekat band Yogya itu. Di samping, iklan.

Cukup mengejutkan, ongkos produksi untuk konser di lapangan terbuka ini lebih Rp 451 juta. Nyaris setengah miliar. Beaya itu termasuk asuransi penonton senilai Rp 4 juta. Padahal tiket cuma Rp 10 ribu per lembar. Walhasil jika sold-out, panitia hanya menerima Rp 200 juta minus pajak minus potongan ini-itu.

Mungkin karena ongkos gede itu Sheila mundur, tak jadi 6 Oktober?

Pentas di Mandala Krida tetap dijalankan. Tapi 30 Oktober 2001. Fasilitasnya sama, giant-screen dan tetek-bengek panggung masih digelar. Keamanan dan asuransi penoton tak dihilangkan. Tapi judul pertunjukan itu ganti.

Konser Pamitan!

Bukan hendak bubar, grup sohor itu, katanya sih hendak vakum beberapa bulan untuk menyiapkan album ketiga yang rencananya rilis Februari 2001.

Rampung itu, baru Konser Terimakasih Yogya digelar.

“Kalau album ketiga belum kelar, rasanya tak pantas kami berterimakasih kepada masyarakat Yogya” kata Adam.

July 7, 2001

Konsert Sheila On 7 mantap tapi hambar

Filed under: Konser '99 - '02

SEHARI sebelum penyanyi nombor satu negara, Siti Nurhaliza mengadakan konsertnya minggu lalu, kumpulan dari seberang Sheila On 7 (SO7) berpeluang menghiburkan peminat mereka di sini.

Bertempat di Stadium Malawati, Shah Alam, SO7 memberanikan diri muncul mengadakan konsert sulung mereka yang ditaja oleh Salem Cool Planet.

Biarpun dianggap masih segar dalam industri muzik Malaysia namun SO7 berjaya menguasai fikiran anak-anak muda sehingga melebarkan pengaruh yang tidak kurang besarnya.

Dalam tempoh yang singkat SO7 mempopularkan lagu-lagu seperti Dan, Bila Kau Tak Di Sampingku dan lagu berhantu, Sephia sehingga melayakkan album kedua mereka Kisah Klasik Untuk Masa Depan terjual sehingga 75,000 unit - satu angka yang cukup besar,

Bertitik tolak dari situ, syarikat rakaman Sony Music (M) Sdn. Bhd., yang bertanggungjawab `menerbangkan’ Duta, Erros, Sakti, Adam dan Anton ke sini menunaikan satu tanggungjawab menampilkan SO7 di sebuah konsert yang besar seperti itu.

Secara tidak langsung harapan peminat ke atas SO7 cukup besar. Sebilangan besar daripada mereka mengharapkan SO7 akan menampilkan sebuah konsert yang hebat, paling tidak akan diperkatakan untuk tempoh yang lama.

Malangnya, keadaan ini tidak berlaku. Jangkaan peminat setia SO7 tersasar. Persembahan mereka pada malam tersebut tidak menepati apa yang dikehendaki oleh penonton.

Malah wartawan hiburan yang berpeluang mengadakan liputan konsert tersebut juga merasakan seakan tiada kelainan yang sering diperoleh dari konsert-konsert sebelum ini.

Apakah terlalu awal bagi SO7 mengadakan konsert di Malaysia atau mungkinkah itu sebenarnya standard persembahan mereka merupakan persoalan yang terus bermain-main di ruang fikiran peminat.

Namun begitu, dalam satu aspek, keberanian SO7 dipuji kerana mereka berani mempertaruhkan masa depan mereka di hadapan peminat di Malaysia.

Demikian juga halnya dengan Sony Music yang sebenarnya mengambil risiko apabila menawarkan SO7 peluang sedemikian rupa.

Pada malam itu hampir dua jam persembahan SO7 berlangsung dengan diiringi oleh persembahan Hanafie Imam Strings Orchestra yang dipimpin sendiri oleh Hanafie.

Lebih 10 lagu dipersembahkan mereka. Gaya persembahan Duta (vokalis utama) begitu bersahaja. Biar bersahaja, namun Duta banyak berinteraksi dengan peminat.

Memang kelebihan Duta terletak di situ, dia bijak berkomunikasi dengan peminat.

Antara lagu yang membuatkan ramai yang tidak berganjak untuk menyaksikan persembahan yang agak hambar itu ialah Dan, Sephia, Bila Kau Tak Di Sampingku, Anugerah Terindah Yang Ku Miliki, Perhatikan Rani dan lain-lain.

Kehadiran Hanafie Imam Strings Orchestra bagaikan tidak membantu perjalanan konsert.

Biarpun Hanafie dikenali kerana kewibawaannya itu, namun entah di mana silapnya, kehadiran kumpulan orkestra itu seolah-olah tidak disedari. Siapa yang harus dipersalahkan?

Namun begitu, baik Sony Music, Hanafie Imam mahupun SO7 sendiri tidak seharusnya melihat kritikan atau teguran ini dari perspektif negatif.

Sebaliknya, kesemua mereka harus menjadikan tindak balas yang diberikan oleh media sebagai satu langkah untuk memperbaiki keadaan pada masa hadapan.

Siapa tahu selepas ini konsert seperti ini akan menjadi 10 kali jauh lebih baik. Segalanya berkemungkinan

July 1, 2001

Sheila on 7 “Sengat” Malaysia

Filed under: Konser '99 - '02

TAK cuma di Indonesia saja ternyata konser kelompok dari Yogyakarta, Sheila on 7 dipadati penonton remaja. Di Malaysia, pertunjukan mereka juga memancing histeria remaja.SO seven, SO seven, SO seven…” begitu teriakan gadis-gadis belia di Stadium Indoor Malawati Shah Alam, Selangor, sekitar 30 km sebelah tenggara Kuala Lumpur, Jumat (29/6) malam lalu. Mereka sudah tak sabar menanti “SO Seven”-nya. Sedikitnya, 7.000 penggemar memadati stadion ini. Teriakan mereka menjadi-jadi ketika di panggung muncul Anton Widiastanto (22, drum), Eross Candra (21, gitar), Saktia Ari Seno (21, gitar), Adam Muhammad Subarkah (22, bass) dan Akhdiyat Duta Modjo (21, vokal).

Inilah untuk pertama kali Sheila on 7 menggelar konser live di luar negeri. Untuk pertama kalinya pula mereka diiringi secara langsung oleh sebuah orkestra: Hanafie Imam ‘Strings’ Orkestra dari Kuala Lumpur. Orkestra itu memang mempercantik penampilan mereka.

Mereka membuka konser dengan lagu Kita. Mendengar lagu itu, penonton di kelas festival langsung terlonjak, meloncat-loncat sembari mengacung-acungkan tangan yang menggenggam fosfor. Begitu pun yang berada di tribun depan, kiri dan kanan. Mereka ikut “tersengat”. Sebagian langsung berdiri, bergoyang dan turut bernyanyi.

Duta yang mengaku merasa berat saat awalnya-karena gamang melihat publik yang demikian antusias-langsung merasa ringan kala memasuki reff: //Dan kau bisikkan kata cinta/kau t’lah percikkan rasa sayang/pastikan kita seirama/ walau terikat rasa hina… Hebatnya, hampir semua yang menonton turut bernyanyi. Agaknya mereka hafal semua lagu di dua kaset/CD Sheila on 7.

KEHADIRAN Sheila on 7 di Malaysia tersebut adalah atas undangan Dato’ Syed Yusof, pimpinan Jojo Entertainment yang sering mengundang para selebriti dunia ke Malaysia, macam Michael Jackson, Ricky Martin, Pierce Brosnan. Sheila on 7 adalah artis Asia pertama yang diundang Dato’ Syed Yusof. Untuk konser Sheila on 7 ini Jojo Entertainment bekerjasama dengan Salem Cool Planet.

Sebelumnya Sheila on 7 pernah berkunjung ke Kuala Lumpur untuk promo album di MCities KL Plaza, Februari 2001. Tempat yang berkapasitas 600 orang tersebut ternyata dibanjiri 1.000 pengunjung. Melihat antusiasme publik Malaysia itulah Dato’ Syed Yusof kemudian mengundang mereka. Apalagi penjualan album terbaru Sheila on 7 laku keras di Malaysia, mencapai lebih dari 75.000. Di Indonesia, album terbaru terjual 1,7 juta kaset/CD, sementara penjualan album pertama terus berjalan dan telah mencapai 1,3 juta kopi.

Untuk prestasi Sheila on 7 itu, pada Selasa (26/6) di Hard Rock Cafe Kuala Lumpur, Sony Music Malaysia memberikan penghargaan tiga platinum. Prestasi Sheila on 7 itu tidak main-main, karena bintang
Malaysia yang tengah naik daun Siti Nurhaliza penjualan kasetnya tak berbeda jauh dengan Sheila on 7. Sementara itu, penyanyi Malaysia lainnya yang juga dikenal publik Indonesia, Sheila Madjid, penjualan albumnya kini berkisar 8.000 kopi.

Jadwal Sheila on 7 di Kuala Lumpur sangat padat. Mulai dari foto bersama dengan lima top artis perempuan Malaysia: Ruhil, Lisa Hanim, Mimi Aziz, Shafinaz, dan Dayang Nur Faizah untuk sampul depan majalah Hai terbitan Kuala Lumpur, foto dan wawancara untuk media cetak, hingga wawancara live di sejumlah radio, termasuk pertemuan dengan fans mereka “Sheila Gang”. Minggu malam nanti, mereka akan pentas di Hard Rock Cafe, Kuala Lumpur.

TAMPIL dengan orkestra memang istimewa. Ketika dari 15 lagu yang mereka bawakan, delapan lagu di antaranya dipadu dengan orkestra, terasa ada sesuatu yang baru dari musik Sheila on 7. Sebanyak 12 pemain biola, satu cello dan dua contrabass Hanafie Imam ‘Strings’ Orkestra bekerja keras untuk mewujudkan kebersamaan tersebut.

Hanafie Imam yang juga konduktor National Symphony Orchestra mengatakan, ia memerlukan waktu satu bulan untuk mengaransemen partitur orkestra bagi Sheila on 7. “Tidak sulit. Saya mendengar dua CD mereka dan langsung menulis aransemennya. Saya sudah terbiasa karena saya experimental writer,” tutur Hanafie Imam yang pernah memadukan orkestra dengan gamelan dari Johor dan Trengganu, ataupun dengan musik-musik etnik dari Sabah, Serawak, Johor, Pahang, dan Perlis.

“Tak masalah. Rock dan klasik bisa dipadu. Apalagi saya dulu waktu muda juga suka main musik rock,” tambah alumnus Berklee College of Music Boston, AS dan University of Miami, Florida itu. Butuh waktu dua hari untuk penyesuaian dengan orkestra. Yang lucu, selama latihan tersebut, para musisi orkestra Malaysia bicara dalam bahasa Inggris beraksen Melayu campur Mandarin, sedangkan Eross Cs tetap bicara dalam bahasa Jawa antarmereka.

Hasil kolaborasi mereka, jadilah lagu Kita, Pagi yang Menakjubkan, Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki, Sahabat Sejati, Dan, JAP, Sephia, serta Bila Kau Tak Disampingku berwarna baru.

“Aku suka sekali, ini pengalaman baru. Bikin Sheila on 7 tambah cantik. Kita bawain lagu jadi lebih fresh. Selain kerja, buat kita ini jadi kayak refreshing,” kata Eross yang mengakui hasil aransemen Hanafie Imam terbilang bagus, liukan gesekan biolanya benar-benar pas dengan lirik dan musik Sheila on 7.

Tujuh lagu lainnya tanpa diiringi orkestra: Perhatikan, Rani!, Sebuah Kisah Klasik, Temani Aku, Berai, Pe De, Tunggu Aku di Jakarta dan Just For My Mom. Seperti juga di Indonesia, di Malaysia Sephia agaknya jadi lagu yang disuka, termasuk encore: Bila Kau Tak Disampingku.

Lirik-lirik Sheila on 7 banyak bertutur tentang hidup, persahabatan, kisah cinta, dan gadis-gadis idola. Rupanya itulah yang “digila-gilai” para penggemarnya. Musiknya dengan beat lincah adalah sesuatu yang berbeda bagi publik Malaysia.

Tak pelak, boneka-boneka, tas kecil, hingga surat cinta pun dilemparkan penggemarnya ke atas panggung. Saat Sheila on 7 masuk ke mobil van untuk kembali ke hotel pun masih dikejar-kejar. Bahkan, ada sejumlah gadis yang berjejalan di dalam sebuah sedan Proton menempel ketat perjalanan satu kilometer menuju hotel. Bahkan ada satu cewek yang nekat menguber dengan scooter-nya. Begitulah tingkah polah penggemar Sheila on 7 di Malaysia. (Elok Dyah Messwati, dari Kuala Lumpur

Source: Kompas

June 12, 2001

Kejutan SO7 : Lagu Remix Dan Polisi !

Filed under: Konser '99 - '02

Mau tau apa yang digeber Sheila On7 di acara I Like Monday, Hard Rock Café semalem (11/6) ? Ngebawain lagu remix, dan “pamer” belasan polisi ! Ini baru pertama kalinya terjadi, I Like Monday kedatangan bapak-bapak berseragam coklat itu !
Kesannya emang jadi berlebihan, over protect, gitu. Tapi apa mau dikata, hampir di tiap tempat, yang menggelar aksi panggung band asal Yogya itu emang selalu dikerahkan satuan pengaman khusus. Bukannya apa-apa, mereka paling suka konser yang tertib, dan tentu saja mengantisipasi segala sesuatu yang mungkin aja terjadi. Belajar dari pengalaman, man !

Konser semalem itu sendiri tak banyak berbeda dari penampilan mereka manggung di kota-kota lain. Ada gaya atraktifnya Duta, semangatnya Eross, coolnya Sakti, adegan buka bajunya Adam dan juga Anton yang tetep ngumpet di balik drum kesayangannya. Tapi malem itu, cowok gondrong tersebut ditempatin di space yang lebih tinggi dari laennya loh !

Acara yang baru mulai sekitar jam 11-an malem ini ternyata ber-cover charge 70 ribu ! Agak laen dari ILM biasanya yang mematok first drink sekitar 25 ribuan perak. “ Biar penonton nggak kelewat padat ! “ jelas mbak Debbie, PR nya Hard Rock Café. Tapi biar begitu, siapa sih yang sanggup menghalangi kenekatan para SheilaGank ? Alhasil, café yang terbilang lumayan mungil itu harus rela dijejali lebih dari 500-an pengunjung. Itu juga kali ya, yang bikin bapak-bapak polisi itu sengaja didatengin ?

Sesaat sebelom Sheila muncul di panggung, nuansa café jadi temaram. Begitu intro theme I Don’t Like Monday selesai, muncul 5 cowok berkostum item-item, dengan masker jala, siap memainkan lagu. Tapi soundnya agak-agak aneh. Dan bener aja ! Belom kelar lagu itu dinyanyiin, tiba-tiba nongol lagi 5 cowok lain berkostum sama ke atas panggung. Berlagak ngamuk-ngamuk dan rusuh, cowok-cowok yang ternyata personil Sheila yang asli itu “merebut” posisi masing-masing !

Meskipun jelas-jelas adegan rusuh tadi cuma sandiwara doang, nggak urung banyak penonton yang ngomel-ngomel. “ Aduh…ngapain sih pake acara berantem ? “ keluh seorang cewek yang kebetulan duduk di samping KG. Tapi gerutuan itu cuma sebentar, karena Duta langsung menghentak dengan Pagi Yang Menakjubkan. Abis itu, mereka geber lagi sama nomor-nomor top laen kayak Sahabat Sejati, Pehatikan Rani, Sebuah Kisah Klasik dan beberapa lagu dari album pertama mereka.

Koor-koor panjang dari penonton yang kebanyakan (pasti) ABG , jadi pemandangan yang biasa di tiap konser Sheila. Apalagi pas lagu Sephia. Malam itu, selain mainin instrumen dan beberapa intro yang beda, Sheila juga punya “kejutan” kecil. Di lagu Bila Kau Tak Disampingku, mereka abis-abisan tampil dengan warna lain. Sadar kalo sekarang lagi musim musik a la DJ, single hits album kedua itu pun dirombak abis dengan nuansa diskotik. Mmmm… lebih keren aslinya sih !

Akhirnya, penampilan band yang baru pertama kali tampil di I Like Monday tersebut, diakhiri dengan lagu Tunggulah Aku Di Jakartamu. Seolah pengen ngingetin bahwa mereka pasti suatu saat akan kembali lagi ke Jakarta. Yang jelas bukan minggu depan. Karena jatah I Like Monday tanggal 18 Juni besok adalah untuk Jikustik, temen-temen Sheila sendiri yang juga berasal dari kota gudeg, Yogyakarta.

· Sumber: Kafegaul.com

March 25, 2001

Sheila On 7 terus gah di Indonesia

Filed under: Konser '99 - '02

Oleh: SAHARUDIN MUSTHAFA (Yang membuat liputan Konsert Sheila On 7 di Malang, Surabaya, Indonesia, baru-baru ini)
TIADA siapa yang boleh mempertikaikan andai kata media Malaysia terus membesarkan berita mengenai kehebatan kumpulan remaja terkenal Sheila On 7 (SO7) dari negara jiran, Indonesia.

Bukan niat mahu memperkecilkan kemampuan anak bangsa sendiri, tetapi hakikatnya penyanyi tempatan (khususnya artis berkumpulan) kita perlu mendalami dengan lebih jauh ilmu muzik sebelum dapat menandingi SO7.

Pengaruh SO7 di negara kelahiran mereka sememangnya cukup besar dan sudah bertapak di setiap inci tanah Indonesia.

Populariti mereka nyata tidak terbatas pada golongan sebaya tetapi juga di kalangan peminat kecil dan orang dewasa termasuk para pelajar dari luar negara seperti Jepun dan Australia.

Hakikat ini dapat dilihat oleh penulis yang berkesempatan menonton salah satu daripada siri konsert SO7 dalam A Mild Love Konsert di Gedung Merdeka, Universiti Merdeka, Malang, Surabaya, minggu lalu.

Bersama mereka, kumpulan muzik tempatan Padi turut muncul sebagai artis jemputan.

Di kalangan lebih 5,000 penonton tempatan, terselit tiga orang penuntut dari Australia dan beberapa penuntut dari Jepun yang sedang mengikuti pengajian di negara bekas tanah jajahan Belanda itu.

Duta (vokalis), Eross (gitar), Adam (bass), Anton (deram) dan Sakti (gitar), lima tunggak kekuatan SO7 dengan penuh `gah’ membuktikan mereka kini mengungguli industri muzik Indonesia.

Kesemua 10 lagu nyanyian SO7 pada hari konsert tersebut, antaranya Pagi Yang Menakjubkan, Sahabat Sejati, Kisah Klasik, Temani Aku dan Sephia mendapat sambutan hangat daripada peminat mereka.

Sementara lagu Perhatikan Rani, Dan, Kita, Jadi Aku Pacarmu dan Bila Kau Tak Di Sampingku membuat penonton tidak mahu berganjak meskipun konsert sudah pun berakhir.

Kemampuan vokal Duta diperkukuhkan dengan `pukulan’ bertenaga anggota kumpulan itu yang bermain peralatan muzik.

“Apa sahaja kerjaya yang dilakukan haruslah berlandaskan kejujuran kerana setiap usaha yang jujur akan dapat dilihat oleh audiens (penonton),'’ kata Duta ketika diminta mengulas mengenai falsafah perjuangan muzik mereka.

Konsert menjadi medan utama buat anak-anak muda ini untuk menterjemahkan suara hati mereka kepada pencinta muzik.

Anggota SO7 juga berpegang teguh pada pegangan jati diri yang mana penekanan mengenai kecintaan kepada negara dapat dilihat di sebalik makna yang terselindung dalam lirik lagu dan interaksi mereka dengan penonton mahupun pihak media.

Barangkali berpegang kepada kekuatan itu, SO7 berupaya mencatat jualan album sehingga ke angka 1.5 juta unit buat album kedua mereka Kisah Klasik, manakala untuk album pertama mereka pula kumpulan ini berjaya mencatat angka 1.2 juta.

Pengaruh itu turut dilebarkan oleh SO7 ke Malaysia dan nyata percaturan mereka tidak silap kerana muzik yang mereka jaja itu turut digemari peminat di sini.

Persoalan siapa yang membeli album SO7 di Malaysia sama ada peminat muzik tempatan atau rakyat Indonesia yang berhijrah ke sini sukar dijelaskan.

Tetapi yang pasti semenjak memanjangkan langkah ke Malaysia kumpulan itu berjaya menjual album mereka sebanyak 40,000 unit - satu angka yang sebenarnya cukup membanggakan pada saat industri muzik berdepan dengan tekanan cetak rompak.

Sebagai menghargai kejayaan itu, syarikat rakaman Sony Music telah meraikan SO7 melalui penganugerahan platinum yang disampaikan oleh Pengurus Bahagian Melayu Sony Muzik Malaysia, Amran Omar.

Turut menerima anugerah itu ialah wakil Pengarah Kanan Artis dan Repertoire Sony Muzik Indonesia, Jan N. Djuhana.

January 28, 2001

Mengerek Popularitas Lewat ‘Tur Balas Budi’

Filed under: Konser '99 - '02

Sheila On 7 (SO7). Grup band pop asal Kota Gudeg ini kembali akan membuat berita. Ini terkait dengan tur pertama mereka di tahun ular. Simak saja, lima personelnya akan menebar keindahan lirik lagu mereka di 40 kota sekaligus.

Semuanya dibagi dalam dua paket. Paket pertama diorganisir Deteksi Production dan Sampurna A Mild akan manggung di 30 kota, Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sulawesi. Dimulai 14 Februari, tur ini akan berakhir dua bulan kemudian. Jeda tiga hari, SO7 akan menyajikan paket kedua dengan tampil di 10 kota, khusus menemui penggemar mereka di Kalimantan.

Kota pertama yang bakal dituju adalah Makassar. Berikutnya Manado (17 Februari), Gorontalo (19 Februari), Bandung (Dago Tea House) 25 Februari, Denpasar (Art Centre) 4 Maret, Malang (Stadion Gajayana) 7 Maret, Semarang (Stadion Tri Lomba) 12 Maret, Solo (Stadion Manahan) 17 Maret, Purwokerto (GOR Satria) 18 Maret, Tegal (GOR Wisanggeni) 20 Maret, Cirebon (Lapangan Ade Irma) 21 Maret, dan Bogor (GOR Padjajaran) 24 Maret.

Memasuki April tahun ini, kelompok musik yang sedang naik daun itu juga bakal manggung di Palembang (Sport Hall) 1 April, Jambi (Stadion Persijam) 3 April, dan Medan (Pardede Hall) 13 April. Tur masih berlanjut di Palangkaraya (Stadion Cilik Riwut) 4 Mei dan di Banjarmasin (Gedung Sasana Bina Krida) 6 Mei. “Tapi jadwal ini masih bisa berubah,” kata Anton Kurniawan, manajer mereka.

Tentu saja rencana tur ini bagai angin segar bagi penyuka grup kenthir — sapaan akrab fans mereka — yang diawaki lima sekawan: Adam (bass), Anton (drum), Duta (vokal), Eros (gitar), dan Sakti (gitar). Maklum, sulit untuk memungkiri bahwa mereka adalah grup paling digemari saat ini. Pengakuan ini setidaknya didasarkan pada konser mereka sebelumnya yang selalu disesaki pengunjung. Bahkan saking sesaknya, SO7 harus menelan kenyataan pahit, lima penggemar meninggal saat menonton mereka.

Hal lain yang juga tak terbantahkan adalah sukses album mereka di pasaran. Album pertama mereka yang berjudul Sheila On 7 (1999) terjual 1,2 juta keping. Ini adalah rekor tersendiri di saat seretnya penjualan kaset. Bahwa sukses mereka bukan hanya kebetulan, dibuktikan dengan album kedua yang bertajuk Kisah Klasik untuk Masa Depan. Mengandalkan lagu Sephia, album yang baru dilepas September tahun lalu kini telah terjual 1,3 juta keping. Jelas ini bukan sukses yang kebetulan.

Tur yang bakal mereka gelar adalah sukses lain yang mereka kejar. Setidaknya, sukses di rekaman sukses di panggung. Itulah yang hendak dibuktikan SO7. Tampil live di depan penggemar diyakini membutuhkan kiat tersendiri. Panggung dan segala kemeriahan di atasnya adalah ujian yang sesungguhnya bagi sebuah grup band. “Kami bisa belajar banyak di atas panggung,” tegas Duta saat ditemui Republika sebelum mengisi acara ‘Impresario SLI 008′ di Studio 4 RCTI pekan ini.

Toh rencana ini menyisipkan sedikit kekhawatiran. Bagi orangtua muda-mudi yang mengidolakan mereka, rencana tur ini berarti detak jantung yang lebih kencang. Tentu saja ingatan akan kejadian di GOR Saburai Lampung beberapa waktu lalu belum sirna besar. Saat itu konser mereka menyebabkan empat pengunjung tewas seketika. Belakangan satu korban menyusul. Penyebabnya tidak imbangnya jumlah penonton dengan daya tampung lokasi.

Mengenai hal ini, SO7 ternyata paham benar. Dan orangtua fans SO7 tidak seharusnya khawatir. Pasalnya, kata Eros, sebelum meneken kontrak tur mereka telah membuat perjanjian yang cukup detil. Mencakup perlindungan keselamatan penggemar mereka. Salah satunya dengan mengasuransikan penonton. “Kami memang minta semua penonton diasuransikan sebab kami ingin penonton aman menonton konser itu,” kata Eros.

Menurutnya, kejadian di Lampung membuat miris mereka. Meski tidak sampai menjadi trauma, lanjutnya, itu semua adalah pelajaran yang sangat mahal. Oleh karena itu di tur kali ini, tidak hanya soal asuransi yang menjadi tuntutan SO7, tetapi juga panggung yang ’steri’l. Panggung, tegas Eros, harus benar-benar bersih dari penonton.

Dengan cara ini semua, imbuh Sakti, konser SO7 diharapkan bersih dari semua kejadian yang menyesakkan. Sakti berharap semua tur yang bakal dilakoni SO7 menangguk sukses besar. Musibah seperti di Lampung menurutnya tidak boleh lagi terjadi. Namun, tegasnya, semuanya tergantung penonton. “Saya harap mereka lebih smart dan dapat belajar dari kejadian di Lampung,” kata Sakti.

Meski kadang terselip bayangan tersebut, SO7 tak ingin larut. Persiapan pun terus digeber. Setidaknya jadwal tiga kali seminggu untuk latihan terus dijalani. Semuanya hanya untuk satu tujuan: Menyenangkan penggemar mereka. Maklum merekalah yang telah membesarkan SO7. “Dengan tur ini kami ingin mengunjungi penggemar dan membalas kebaikan mereka,” kata Sakti.

Namun jangan keburu senang. Meski disebut ‘tur balas budi’, sebuah tiket tetap diperlukan untuk dapat menikmati permainan mereka. Berapa harganya, ini yang belum jelas. Setidaknya kejelasan hanya satu hal, SO7 memasang tarif Rp 25 juta untuk setiap aksi panggung mereka. Dipastikan uang satu miliar rupiah akan mengalir ke kantong mereka usai konser nanti.

“Ah ya tidak begitu. Hitungan itu berlaku kalau satu kali manggung. Karena ini paket ya tidak sebesar itu,” jelas Anton.

Semiliar atau tidak, yang pasti mereka dituntut tampil maksimal dalam konser nanti. Penggemar mereka tentu tetap ingin SO7 tampil maksimal. Tidak mengerem greget penampilan hanya karena memberikan diskon pada penyelenggara.

Agaknya ini bukan masalah. Pasalnya semua personil sepakat tur pertama mereka harus bergulir mulus. Ini semua berkaitan dengan sukses yang telah ada di genggaman. Menurut Duta mereka telah mengalami berbagai kepahitan sebelum mereguk seperti sekarang ini. Dan sangat sayang kalau dilepas. Memang. indah wulaningsih

Source: Republika

November 23, 2000

Kasus Konser Sheila On 7 : Dua Orang Resmi Menjadi Tersangka

Filed under: Konser '99 - '02

Dua orang yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan Konser Sheila on 7 di Bandarlampung, sejak Selasa (21/11) resmi menjadi tersangka. Keduanya adalah Zub, ketua pelaksana, dan Wit, pimpinan Pedes Production Jakarta selaku penanggung jawab acara itu, kini masih diperiksa dan ditahan di Markas Poltabes Bandarlampung.

“Dari sejumlah orang yang diperiksa baru Zub dan Wit dinyatakan tersangka. Sedangkan yang lain baik dari unsur panitia maupun Pedes Production masih diperiksa dalam kapasitas sebagai saksi. Namun, jika dalam pemeriksaan nanti ditemukan bukti baru, bisa saja status mereka berubah jadi tersangka,” ungkap Penjabat kepala Poltabes Bandarlampung Superintendent Tri Parnoyo Kartiko menjawab Kompas kemarin.

Konser Sheila on 7 di GOR Saburai Enggal Bandarlampung yang diselenggarakan Pedes Production Jakarta, Minggu (19/11) lalu, sempat dikecam masyarakat karena berakhir dengan jatuhnya korban jiwa. Tercatat empat remaja putri tewas karena lemas dan terinjak-injak serta empat lainnya sampai kemarin masih dirawat di RS Bumi Waras Bandarlampung. (Kompas, (21/11)

Kepala Poltabes menambahkan, penyelidikan sementara menyimpulkan penyebab jatuhnya korban adalah akibat lemas kekurangan oksigen dan tergencet di antara kerumunan pengunjung. “Tidak benar korban tewas karena konser musik ini rusuh, tetapi akibat pengunjung melebihi kapasitas sehingga ruang di dalam GOR jadi pengap. Apalagi situasinya kacau balau karena pengunjung saling berdesakan. Untuk berdiri saja saat itu sudah sangat susah,” kata Tri Parnoyo.

Tri Parnoyo sangat menyesalkan sikap panitia dan penanggung jawab konser yang sejak awal sama sekali tidak transparan. Polisi bahkan menemukan bukti adanya kesengajaan panitia memanipulasi jumlah pengunjung. Sebab, dalam pemberitahuan dan permohonan izin yang disampaikan ke Polda Lampung, panitia hanya mengaku menjual karcis 1.000 lembar. Atas dasar ini maka Polda merekomendasi konser tersebut.

Namun, diperkirakan karcis yang dijual lebih dari 4.000 lembar karena penonton yang sudah berada di dalam GOR Saburai itu saja ditaksir sudah melebihi kapasitas yang hanya 4.000-an orang. (zul)

Source: Kompas

November 21, 2000

Panitia Penyelenggara Bisa Dituntut : Tewasnya Empat Penonton Konser Sheila On 7

Filed under: Konser '99 - '02

Panitia penyelenggara harus bertanggung jawab atas tewasnya empat penonton Konser Sheila on 7 di GOR Saburai Enggal Bandarlampung, Minggu (19/11). Bahkan panitia dapat dituntut oleh pihak keluarga korban yang dirugikan.

“Penyelenggara harus bertanggung jawab atas pelaksanaan konser, pengamanan dan segala hal yang terjadi berkaitan dengan konser tersebut,” tegas Kepala Operasional LBH Bandarlampung, Watoni Noerdin, di Bandarlampung, Senin.

Menurut Watoni, seharusnya sejak awal panitia mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk yang dapat terjadi, menyiapkan fasilitas dan pengamanan yang diperlukan termasuk pertolongan darurat jika terjadi sesuatu.

Konser Sheila on 7 di GOR Saburai Enggal Bandarlampung diselenggarakan oleh Pedes Production Jakarta dengan dukungan sponsor rokok Gudang Garam, selain menewaskan penonton akibat terinjak dan berdesak-desakan dalam kerumunan massa, belasan korban diketahui masih dirawat di rumah sakit.

Korban tewas adalah Astrifi’ah (17) mahasiswi, Wenti (20), Ephilia Santi (14), dan Riza Marini (16). Salah seorang korban, Astrifi’ah, mahasiswi FISIP Universitas Lampung (Unila) adalah putri Kepala Dinas P dan K Kabupaten Lampung Utara, A Suwandi Natapradja.

Sejumlah remaja putri yang gagal masuk karena kehabisan tiket justru menyatakan bersyukur setelah mengetahui konser yang semula hendak ditontonnya itu berakhir dengan jatuhnya sejumlah korban.

Konsernya sendiri dihentikan di tengah jalan oleh polisi setelah diketahui puluhan penonton-kebanyakan penonton putri-jatuh pingsan bahkan sudah ada yang tewas akibat terinjak-injak. *

Source: Kompas

November 7, 2000

Sheila on 7 Hibur Remaja Solo

Filed under: Konser '99 - '02

Solo, Bernas
Lima anak muda asal Yogyakarta yang tergabung dalam grup musik Sheila on 7 (So7) kian tenar saja. Setiap menggelar pementasan, penggemarnya selalu memenuhi tempat pertunjukan, termasuk di Hotel Quality Solo, Sabtu (4/11) malam. Bahkan sejak siang tiket pertunjukan tersebut sudah habis.
Pentas di Solo tersebut merupakan rangkaian tour promo album kedua So7 bersama Gudang Garam Filter yang bertajuk Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Rencananya ada 10 kota yang akan dikunjungi oleh So7 dan Solo merupakan kota kedelapan. Selanjutnya promo tour ini akan dilanjutkan ke Jakarta (11/11) dan Lampung (19/11).

Selama satu setengah jam So7 menghibur penonton dengan menggeber 17 lagu yang dirangkum dari album pertama dan album kedua. Lagu-lagu dari album pertama dan kedua itu dinyanyikan berselang seling. Sebelumnya grup asal Yogyakarta yang lain, Candles Band tampil sebagai band pembuka.

Dari pementasan tersebut terlihat bahwa penampilan So7 semakin matang. Pengalaman tampil dari pentas ke pentas semakin mengasah kemampuan mereka. Irama permainan pun dapat terjaga dengan baik. Begitu pula stamina Duta (vokal), Erros (gitar), Anton (drum), Sakti (gitar) dan Adam (bas) tetap terjaga dengan baik dalam pentas yang cukup melelahkan tersebut.

Penampilan So7 dibuka lewat tembang Karna Aku Setia yang kemudian dilanjutkan dengan Terlintas, Berai, Pagi, Pede dan lagu bersyair bahasa Inggris Just For My Mom. Dari urut-urutan lagu yang dimainkan, terlihat bahwa So7 mampu menjaga irama permainan mereka. Lagu-lagu dengan irama yang cepat dipadu dengan lagu-lagu berirama lambat sehingga mampu mengaduk emosi pendengar.

Panggung yang sempit tidak mengurangi semangat Duta, Erros, Adam dan Sakti. Walaupun agak susah untuk bergerak ke sana-ke mari, mereka tetap berupaya tampil maksimal. Lagu Perhatikan Rani, Dan serta Lihat, Dengar, Rasakan terus mereka mainkan, yang kemudian disusul dengan lagu Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki.

Lagu-lagu So7 pun memang sudah akrab di telinga penonton yang sebagian besar berusia remaja. Baik lagu dari album perdana maupun album kedua sudah dihapal oleh penonton. Bahkan ketika So7 memainkan lagu Sephia, kontan penonton menyambut dengan koor yang kompak. Mereka hapal bait demi bait lagu tersebut sehingga Duta sang vokalis cukup mendengar saja.

Usai lagu Sephia meluncur lagu Kisah Klasik Untuk Masa Depan, Temani Aku, Sahabat Sejati, Bila Kau Tak Disampingku (yang saat sedang berada di puncak tangga lagu beberapa radio), JAP dan ditutup dengan lagu Kita (theme song sinetron Lupus) yang telah diaransir ulang.

Seusai melakukan promo tour album kedua ini, So7 rencananya akan beristirahat karena bertepatan dengan bulan puasa. Seusai Lebaran, mereka akan menggelar pertunjukan di Malaysia dan ini direncanakan berlangsung bulan Januari tahun 2001. “Kami ingin melakukan konser di Malaysia karena penjualan album di sana agak seret,” kata Anton Kurniawan, manajer So7 kepada Bernas sebelum pementasan. (inu)

Source: Indomesia

September 29, 2000

Konser Memukau Sheila ON 7

Filed under: Konser '99 - '02

Tak salah lagi jika banyak penghargaan musik ditujukan ke Sheila On 7 (SO7). Malam ini mereka benar-benar membuai Yogya. Dimulai pukul 20.30 WIB, molor satu setengah jam dari jadwal acara, SO7 menggebrak lewat Pagi Yang Menakjubkan diambil dari album terbaru Kisah Klasik Untuk Masa Depan yang dirilis 28 September 2000 lalu.

Performa matang dan pembawaan jenaka yang ditunjukkan mereka, membuat penonton yang mayoritas ABG berteriak histeris memanggil nama masing-masing personel, Duta (vokal), Sakti (Gitar), Erros (Gitaris), Adam (Bass Gitar) dan Anton (Drum). Dilanjutkan dengan Pede, Karna Aku Setia, Berai dan Just For My Mum yang menutup sesi keras di awal pertunjukan malam ini.

Seakan ingin memainkan emosi penonton, SO7 mencoba untuk bernostalgia dengan tembang-tembang manis andalan dari album pertama mereka. Berturut-turut diluncurkan Kakakku Rani disusul Dan. Pada awal lagu melankolis tersebut, Duta mencoba menyapa penonton dengan “turun panggung” dan menyalami satu per satu penonton yang berada di deretan terdepan, tak lama kemudian pada bagian interlude, Erros Chandra pun turut menyalami penonton dengan cara menaiki punggung salah seorang kru mereka.

Konser SO7 kali ini juga banyak memanfaatkan jeda waktu antar lagu untuk sekedar “bernafas” bagi Duta yang ternyata menderita asma. Akan tetapi justru di sinilah letak keunggulan setiap konser mereka. Tak jarang pada saat-saat itu, Duta berkomunikasi dengan penonton dengan bercerita tentang proses penciptaan atau tema yang berkaitan dengan lagu yang akan dinyanyikannya.

Histeria penonton kembali menjadi-jadi saat dilantunkannya Lihat, Dengar, Rasakan dan Anugerah Terindah yang beberapa waktu lalu sempat menjadi kontroversi dengan isu penjiplakan lagu dari boyband terkenal manca.

Memasuki lagu sendu, Sephia, Erros Chandra membuktikan diri sebagai tulang punggung bagi SO7. Diawal lagu, dia mencoba jamming dengan memainkan dawai gitarnya secara optimal, kadang cepat dan kasar kadang lambat dan halus. Kepiawaian Erros dalam menciptakan lirik, mengaransemen dan memainkan alat musiknya adalah karakter SO7 yang sebenarnya.

Memasuki sesi akhir, dilantunkan Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan, Temani Aku Selamanya dan Sahabat Sejati. Pada lagu Temani Aku Selamanya, Anton yang sejak awal pertunjukan berkutat dengan drumnya tiba-tiba maju ke depan panggung menyalami penonton, sedang posisi di drum-setnya digantikan oleh salah satu teknisi panggung hingga lagu berakhir.

Histeria penonton memuncak pada lagu Bila Kau Tak Disampingku yang merupakan single pertama album kedua mereka. Disusul dengan J.A.P dan konser malam ini diakhiri dengan Kita , tembang lawas yang diaransemen ulang menjadi lebih garang.

Penonton yang memadati area terbuka di Hotel Radisson Plaza hingga akhir pertunjukan pukul 10.40 WIB tampak masih enggan meninggalkan arena pertunjukan dan mengharapkan “bonus” barang satu atau dua lagu penutup dari SO7. Sayang mereka tak menyisakan encore sama sekali yang biasa mereka lakukan pada penutupan konser-konser sebelumnya.

Source: Gudeg.net

May 5, 2000

Klimaks Pertunjukan 10 Kota

Filed under: Konser '99 - '02

Jumat (5/5) malam ini, mulai pukul 19.00 WIB, Sheila on 7 akan menggelar pentas “pamitan” di Radisson Yogya Plaza. Pentas “pamitan” ini sekaligus merupakan pentas penutup untuk album pertama dan juga penutup Tour Sheila on 7 di 10 kota.
Sebelumnya, Sheila on 7 telah menggelar pertunjukan di 9 kota sejak tanggal 16 April 2000 dalam konser Java Tour 2000. Berturut-turut kota-kota yang disinggahi adalah Bogor, Tasikmalaya, Purwokerto, Semarang, Tulung Agung, Malang, Jember, Surabaya dan Solo.

Menurut Anton Kurniawan, Manajer Sheila on 7 kepada Bernas, Kamis (4/5), pentas “pamitan” ini bukan berarti Sheila on 7 tidak akan menggelar pementasan lagi, tetapi pentas yang dimaksudkan di sini adalah pentas terakhir Sheila on 7 untuk album pertama. “Setelah pentas di Yogyakarta ini, kami tidak akan menggelar pementasan lagi hingga album kedua kami selesai,” kata Anton.

Anton mengatakan, seusai pementasan mereka akan segera merilis album kedua. Para pemain, yaitu Duta (vokal), Adam (bass), Eross (gitar), Sakti (gitar) dan Anton (drum) –selama dua bulan– akan berkonsentrasi membuat album kedua Sheila on 7 dan diharapkan album kedua itu akan selesai awal Agustus 2000 mendatang.

Sebagai pentas penutup, Sheila on 7 menjanjikan akan tampil habis-habisan. Mereka tidak ingin mengecewakan penonton di kotanya sendiri. Sampai sekarang, jelas Anton, para personil tetap menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga. “Kami ingin pertunjukan di Yogyakarta ini menjadi klimaks dari penampilan Sheila on 7 selama tour di 10 kota. Untuk itu para pemain tetap serius mempersiapkan diri untuk pertunjukan malam ini,” jelas An- ton.

Seperti halnya konser-konser sebelumnya, konser kali ini juga dibuat lebih spektakuler, terutama dalam hal tata panggung- nya. Selain itu akan digelar pula games dan doorprize dari sponsor. Konser ini akan dilangsungkan sekitar 1 hingga 1,5 jam.

Untuk penampilan di Yogyakarta, selain menampilkan lagu dari album perdana, Sheila on 7 juga akan menampilkan 3 sampai 4 lagu baru mereka. Di antara lagu baru tersebut adalah Selvia Kekasih Gelapku. “Kebetulan lagu tersebut mendapat sambutan yang hangat dari penonton selama kami menggelar konser,” jelas Anton. (inu)

June 17, 1999

Imaji Musik FKY XI-1999: GIGI dan Sheila on 7 Sepanggung

Filed under: Konser '99 - '02

Yogya, Bernas— Kelompok musik yang belum lama ini merilis album Baik, GIGI dan grup dari Yogyakarta yang juga baru merilis album Sheila, Sheila on 7 akan tampil di Stadion Kridosono Yogyakarta, Sabtu (19/6). Pada pergelaran yang dikemas dalam paket Imaji Musik FKY XI-1999 itu akan tampil pula E’snanas dan Shaggy Dog sebagai band pembuka. Tiket seharga Rp 10.000 bisa didapat di ticket box di Harian Bernas, Radio Bikima, Radio Yasika, Radio Geronimo, Popeye Music Cassette, M Studio Galeria Mal dan Mirota Kampus.–