February 3, 2007

Interview Irwansyah di RS feb

Filed under: Magazine, General 2007

 

Musik yang pertama kali Anda suka?

Limp Bizkit. Saya suka metal. Berlanjut ke Korn, Disturbed, sampai Slipknot. Lalu pindah aliran ke Blink 182, Green Day, sampai saya bawain lagu-lagu seperti itu juga di band saya semasa SMA. Melodic punk. Sekarang lagi suka alternatif, tapi lebih ke komersil. Kalau di IndoNesia, sayA sekarang suka bangEt saMa Sheila on 7 dan Ari Lasso.

December 16, 2006

(old article) ANTON “SHEILA ON 7″: Ogah Jalan Bareng

Filed under: Anton, Magazine

Dengan temaN satu band mustinyA sEring nguMpul atawa jalan bareng. Entah karena urusan teknis atau sekadar ngobrol. Tapi nggak begitu kejadiannya dengan Anton. Drummer yang baru aja dikontrak Yamaha ini sebisa mungkin malah menghindar jalan dengan anak-anak SO7 lainnya. Kok? "Soalnya kalo aku jalan bareng mereka, terutama Duta, udah hampir pasti diserbu sama fans!" katanya. Kalo udah gitu, lanjut si gondrong, biasanya acara jalan-jalannya buyar. Berubah jadi jumpa fans. Bukannya doi nolak ngelayanin permintaan tanda tangan atau foto bareng tapi, "Kadang ‘kan aku juga butuh waktu buat jadi ‘orang biasa’," belanya. "Mana, aku ‘kan jarang keluar rumah!" Makanya ia girang sekaligus takjub, ketika lagi jalan sendiri di sebuah mal bisa mengelabui beberapa orang. "Lagi jalan gitu, tau-tau ada yang nanya, ‘Mas, sori ya, kamu Anton ya?’" ceritanya. "Langsung aku jawab, ‘Bukan, saya Rudi!’ Eh tu orang percaya, minta maaf terus ngeloyor…Ha…Ha…Ha..!" Kejadian kayak gitu yang menurut Anton nggak mungkin terjadi kalo misalnya ia jalan sama-sama Duta atau yang lain. "Pasti lebih gampang dikenalin!" serunya. Sekarang, kalo kelima personel itu ingin jalan ke tempat yang sama, mereka terpaksa men-set "rute perjalanan" masing-masing. "Biar nggak amprokan!" terangnya lagi. Busyet repotnya. Emang enak jadi seleb?(dan)

(old article) Eross: Jenuh, Pingin Bikin Band Baru

Filed under: Eross, Magazine

Maunya merubah konsep musik Sheila On 7. Pentolan one million copies band ini seneng teman-temannya udah banyak kemajuan.

 "W awaNcAra di koridor aja yuk," ajak Eross sembari mEMpersilakan Hai duduk di depan pintu kamar hotel. "Sori, kamarnya masih berantakan," tambahnya. Ia keliatan suntuk banget. Tampang kusut lantaran belum mandi. Tapi cowok bernama komplet Eross Candra ini cuek aja ngobrol tanpa peduli beberapa room boy melintas di kamarnya. Di luar hotel tempatnya menginap di Jakarta langit tampak mendung. Nggak salah kalo bikin orang bawaannya pingin tidur. Udah hampir seminggu ia nginap di Hotel Peninsula sejak Selasa (5/2). "Yah, gini-gini aja kerjaannya. Kalo nggak tidur ya nonton teve. Aku keluar paling kalo ada jadwal di studio atau kalo janjian sama temen pingin jalan," celotehnya. Keberadaan dedengkot SO7 di Jakarta ini tentu aja berkaitan dengan proses pengerjaan album terbaru mereka yang berjudul 7 Desember.

Awalnya, Eross dkk. udah mulai mengerjakan album baru ini dari bulan puasa tahun lalu di Studio Ara, Lebak Bulus. Waktu itu mereka tinggal di Apartemen Bona Vista supaya lebih gampang bolak-balik ke studio. Eross akhirnya memilih tinggal di hotel ketika kerjaan mereka hampir kelar. Tiga personel SO7 yang lain, Adam, Duta dan Anton udah duluan balik ke Yogya. Adam dan Duta mau ngurusin kuliah sedangkan Anton kangen sama motornya. Tinggallah Eross dan Sakti di Jakarta mengawasi take bebunyian orkestra. Orkestra yang digarap oleh Erwin Gutawa itu tinggal menyelesaikan part string dan perkusi. Kok mau-maunya ditinggal? "Ya, haruslah. Aku kan udah nggak punya kegiatan apa-apa selain musik. Di Sheila, aku satu-satunya yang nggak punya kehidupan lain selain musik," ujarnya, enteng. Bener juga kata gitaris bertubuh tipis ini. Anton emang masih punya geng motor besar, Duta dan Sakti masih punya dunia kuliah. Sementara itu Adam, selain masih nerusin kuliah, juga bikin event organizer di Yogya. "Aku ini nggak bisa apa-apa lho. Kalo yang lain punya hobi motor, bisnis, aku nggak punya keahlian lain. Wong main PS aja aku nggak suka. Mungkin aku suka koleksi gitar," aku kolektor 26 gitar ini.

Eross lantas minta ijin mau membasuh muka. Begitu keluar dia langsung nyerocos soal banjir di Jakarta. " Studio Ara itu sampe kebanjiran. Untung udah hampir selesai semua. Terus alat-alatnya udah bisa diselamatin. Kita udah nggak mungkin masuk studio itu lagi," cerocosnya. Eross mengaku deg-degan. Pasalnya baru di album ketiga ini, mereka akan ngelakuin beberapa terobosan baru. Menurutnya, musik S07 bakal lebih bernuansa country. Ketakutannya timbul begitu mikirin fans S07 yang bisa jadi tetap pingin style Sheila seperti dua album sebelumnya. " Kami sih optimis aja. Soalnya akar country udah ada sejak awal kami muncul. Tapi di sini kami lebih negesin warna country-nya. Tapi tetep aja deg-degan. Soalnya aku takut dibilang melangkah terlalu jauh," tuturnya. Obrolan terhenti begitu dua cangkir susu disuguhin di depan kami. Tapi dari sini, keliatan banget cowok kelahiran 3 Juli 1979 ini pingin cerita banyak tentang suatu hal.

**** "

Aku bisa dibilang lagi ketemu titik jenuh," katanya, sambil pasang kuda-kuda mau curhat. Eross langsung membeberkan gimana rencana S07 dalam jangka pendek ke depan. Dari omongannya, S07 emang berniat menggeber album ketiga dan keempatnya dalam waktu yang nggak begitu jauh. Niatnya, setelah menggelar tur promo album ketiga, album keempat langsung digarap. Nah, setelah itu S07 memutuskan untuk absen dua sampai tiga tahun. " Di situ mungkin anak-anak bisa nerusin kuliahnya. Jujur aja… aku malah pingin bikin band baru untuk seneng-seneng," ungkapnya. Ia juga mengakui kalo bandnya itu cuma band main-main yang niatnya berisi tiga orang dari temen-temen Yogya-nya. Waduh.. apa S07 kurang memberikan kesenengan? Masak album pertama laku 1 juta keping, ditambah album kedua terjual 2 juta keping masih berasa susah?

Usut punya usut, Eross justru kangen sama masa-masa susah S07 dulu. Bedanya sekarang Eross lebih memilih melakukannya bersama orang lain. Dimana dia bisa main di kafe-kafe kecil, ditonton segeliintir orang, harus ngangkut alat juga karena krunya cuma dua orang. Hal-hal kayak gitu yang sekarang jadi impiannya. "Itu cita-citaku juga. Aku emang dari dulu pingin punya band sebesar Sheila, tapi aku juga mau punya band kecil kayak gitu. Asik aja kayaknya. Berasa anak band banget!" tuturnya dengan semangat. Dulu, S07 juga dimulai dari band yang iseng-iseng yang sering manggung di berbagai festival. Malah pernah ketika S07 jadi band pembuka Ahmad band sekitar tahun 1999, mereka nekat membawakan 10 lagu ciptaan sendiri yang sama sekali belum dikenal penonton. Tapi cuek aja. Namanya juga mau unjuk gigi. Sekarang, Eross seperti "ngeri" sendiri dengan nama besar band S07. Menurutnya band ini udah kayak produk dengan imej yang kuat. Sedikit aja bergerak, pasti banyak yang ngasih kritik dan saran. Entah dari pihak label ataupun penggemar, yang pasti justru hal itulah yang membuat Eross butuh "liburan". " Aku tahu mereka begitu karena mereka cinta Sheila, tapi otomatis pikiranku jadi tambah banyak. Aku udah nggak bisa lagi kayak dulu, duduk bikin lagu terus selesai. Sekarang aku juga berhadapan dengan urusan produksi, launching, sampai respon penggemar. Tapi akhirnya kebanyakan pikiran tuh bikin aku jadi males bikin lagu," akunya. Mudah-mudahan, menurutnya, band bikinannya ini bisa jadi pelarian yang menyenangkan. " Nggak bakalan jadi band tetap sih. Ini cuma iseng aja. Paling cuma buat mengisi waktu istirahatnya Sheila. Kalo Sheila udah mulai jalan lagi, band ini juga harus berhenti," tegasnya.

Eross juga sadar banget akan tuntutan yang selalu membayanginya kalo sedang berdiri sebagai personel S07. Karena udah dicap sebagi band penghasil hit, tuntutan membuat lagu yang bagus juga semakin besar. Hal inilah yang baru dirasakan Eross sebagai superstar. Ditambah lagi peran Eross di S07 udah dikenal sebagai pencipta lagu. Waktu pengerjaan album Kisah Klasik Untuk Masa Depan, Erros belum menemukan kesulitan dalam penggarapannya. Soalnya sebagian lagu di album kedua ini merupakan lagu-lagu yang harusnya masuk di album pertama. Jadi , cuma sekedar perpanjangan ide. Masalahnya, begitu masuk ke album ketiga, orang udah mulai bisa mencirikan musik S07. Sementara itu ide Eross sendiri udah mulai berkembang. S07, seperti yang dikatakan sebelumnya, mulai mendalami style country untuk album ketiga ini. Intinya, Eross takut ide barunya ini dinilai minus oleh penggemar. " Akhirnya daripada bingung, aku lepas aja permainan kami. Yang penting kita nggak lari jauh dari akar warna musik Sheila yang pop rock," tandasnya. Jangankan warna musik, tema lagu pun banyak yang ditunggu-tunggu oleh penggemar. Tema kayak Dan yang bercerita soal gimana caranya mutusin cewek atau Sephia yang bercerita tentang perselingkuhan, menurut Eross udah jadi icon pada masing-masing album. Dan penggemar selalu bertanya apakah akan keluar icon baru pada album ketiga S07. "Aku nggak pernah berniat bikin icon di setiap album. Penggemarku yang bikin jadi kayak gitu. Terus terang aku jadi sempet mikirin untuk buat icon lagu seperti itu, padahal aku tahu bikin lagu kayak gitu nggak bisa disuruh. Akhirnya nggak aku pikirin tuh. Aku cuek aja deh," pasrahnya.

Eross memang jadi mastermind di balik setiap perjalanan S07. Mungkin betul, mungkin juga salah. Soalnya Eross nggak ngerasa seperti juru bicara S07. Dan dia nggak ngerasa mengatur-atur permainan teman-temannya. Yang dia rasakan adalah dia begitu dominan di dalam penciptaan lagu. Walau kadang Adam sering membantunya juga. " Ide emang selalu dari aku. Aku emang paling sering bikin lagu dan liriknya. Tapi kalo urusan meeting sama label, siapa aja bisa dong," sergahnya. Makanya untuk album baru ini, Eross punya kejutan. "Di album ini, kami semua nyiptain lagu. Dan beberapa dari kami juga ikut nyanyi," ungkapnya, tanpa memerinci siapa aja yang ikut sumbang suara. Biar ngotot ngejalanin style baru, bukan berarti Eross nggak peduli sama pengemar. Sebagai pencipta lagu, Eross malah menempatkan penggemar di atas para kritikus musik. "Kalo ada kritikus musik yang bilang musik kami monoton, sebenernya mereka nggak tahu apa-apa. Karena cuma kami yang ngerti apa yang dimau penggemar. Kalo prinsip aku, asal penggemar senang, aku udah puas," tandasnya. "Para kritikus itu nggak ngerasa gimana jadi anak umur 17 tahun dan dengerin musik Sheila. Itu hebatnya. Mereka nggak akan pernah ngerti," tambahnya lagi. Bisa jadi karena prinsipnya ini, S07 tetep jadi yang fenomenal di dunia musik Indonesia. Seperti kata Eross, semua yang diidamkan orang Indonesia tentang sebuah band, ada di S07. "Ukuran ideal orang Indonesia tentang band Indonesia udah dipunya S07. Punya lagu bagus, logo band-nya juga keren, trus personelnya kurus-kurus… hehehe," candanya. Sial, kirain mau serius ternyata ujungnya becanda!

*** 

Eross yang lahir dari pasangan Budi Martantyo (almarhum) dan Titien Hastuti ini udah mulai mengenal musik dari kecil. Maklum, dulu nyokapnya tuh vokalis sebuah band pub yang doyan bawain lagu-lagu klasik rock kayak Kiss, Europe sampai Bon Jovi. Eross kecil tertarik sama lagu jenis ini dan diam-diam sering mendengarkannya. Makanya dia merasa berhutang budi kepada nyokapnya yang memperkenalkannya kepada musik rock. Saking berterimakasih sama sang nyokap, Eross membangun sebuah rumah seharga 700 juta di daerah Kaliurang. Rumah seluas 200 M2 ini sekarang udah jadi tempat tinggal Eross bersama ibu dan adiknya. Layaknya rumah anak band, rumah dengan pekarangan yang luas ini juga dilengkapi dengan studio musik. Eross kecil tumbuh menjadi anak yang tertutup. Hal ini menurutnya gara-gara perceraian orangtuanya waktu dia masih TK. Dia sering menyendiri dan males bergaul. Cuma ada satu hal yang bikin dia tertarik, yaitu gitar. "Karena Bapakku udah pergi, aku ngeliat gimana Mama berjuang membesarkan aku, ngumpulin duit beliin aku gitar. Aku juga belajar gitar klasik dari Oom-ku yang guru gitar. Aku ikut kursus grastis sama dia," kenangnya, sambil menerawang. Setelah itu, hari-hari Eross selalu diisi oleh latihan gitar. Eross patut berterimakasih sama bakatnya ini. Karena gara-gara bakatnya main gitar, pribadinya jadi berkembang. Dia nggak lagi jadi anak yang tertutup. "Pertama kali aku main di depan orang waktu ada acara SMP. Di situ ada pemain gitar yang sakit, trus aku disuruh ngegantiin. Ya, udah aku main. Eh, besoknya aku jadi omongan cewek-cewek di sekolahku. Lucu deh waktu itu," kata cowok yang hobi makan seafood dan gudeg ini. Eross masih inget lagu yang jadi andalannya pas baru belajar gitar.

Dengan gitar pertama merek Teisco, dia sering mengeber lagu I Remember You dari Skid Row yang jadi kesukaannya sampai sekarang. Masa SMP dan SMU adalah masa dimana Eross banyak dipengaruhi oleh musisi dalam negeri, kayak Slank dan Iwan Fals. Kedua nama ini sampai sekarang masih jadi panutannya dalam menulis lagu. "Lagu mereka apa adanya. Mereka menulis tentang kehidupan sehari-hari, dan apa yang mereka rasakan. Aku dulu termasuk Slankers nih," jelas jebolan SMP 13 Yogya ini. Selain itu, waktu masih SMU di Muhammadiyah I Yogya, nongkrong tuh dijadikannya wadah untuk menampung ide membuat lagu. Bahkan sampai sekarang kalo mau membuat lagu, Eross merasa perlu kembali ke Yogya untuk mencari ide atau hanya sekedar mencari susana yang enak. "Dari temen-temen SMU di Yogya aku selalu dapet ide. Misalnya tentang pacaran, putus, deketin cewek macem-macem lah. Lagu Pede juga berdasarkan pengalaman temanku di sana," lanjutnya. Karena udah terlanjur jatuh cinta sama gitar, cowok yang sempet belajar desain di Modern School of Design ini jadi kurang memperhatikan pelajaran sekolah. Dia emang ngerasa nggak pernah serius kalo disuruh sekolah. Bahkan waktu menjelang Ebtanas SMU, Eross malah sibuk ngebersihin gitarnya daripada belajar mati-matian. " Nggak tau deh aku emang bukan orang yang suka sama pelajaran. Aku nggak bakat kayaknya. Wong paginya mau Ebtanas, aku malemnya malah asyik ngelap gitar," kata cowok yang pernah ngeband bareng Adit dan Icha "Jikustik" ini. Tapi karena jago gitar , bukan berarti bisa digunakan untuk menggaet cewek. Paling nggak, bukan itu senjata utamanya buat nembak cewek. "Wah, aku sih nggak pernah ngaku bisa main gitar sama cewek. Aku ngedeketin cewek dengan humor dan lawakan-lawakan. Udah gitu, aku bilang aja aku apa adanya. Kalo nggak punya duit, ya bilang nggak punya," katanya. (Tapi hari gini siapa yang percaya elo nggak punya duit ‘Ross?) Jujur, bagi Eross itu yang nomer satu. Mungkin sejujur lagu-lagu ciptaannya. Musiknya nggak maksa harus ngejelimet supaya dibilang hebat. Tapi cukup dengan kekuatan kesederhanaan lirik dan aransemen. Efeknya, udah jelas banyak bikin cewek menggelepar-gelepar. Makanya, hati-hati sama nih cowok. Sepak terjangnya dalam album terbaru SO7 nanti bisa aja bikin cewek kamu berpaling. Minimal jadi Sephia berikutnya! (Yorgi) FOTO-FOTO: DAUS

Aku Cocoknya Main Blues!

Aku sempet belajar gitar klasik dari Oom. Baru 6 bulan aku udah berhenti. Tapi aku sempet dapetlah dasar-dasarnya. Abis itu aku kembangin sendiri. Begitu dalam proses perkembangan, aku kok cocoknya ke blues. Aku tanpa nggak sadar, sering ngelakuin part blues di lagu-lagu Sheila. Tapi sampai sekarang aku masih nyesel kalo inget aku berhenti gitar klasik Biasanya aku mainin chord standard blues, C7 - G7, yang kayak gitulah. Tapi yang penting aku kalo main itu nggak pake konsep. Dan blues tadi biasanya aku mainin dengan nuansa rock. Yang penting aku main aja, mengalir aja. Begitu direkam, aku dengerin, wah, main aku tadi kayak gitu toh, aku kadang kagum sendiri. Yang jelas aku mainin part blues itu di lagu album pertama yang berjudul Tertatih. Trus berlanjut di album kedua, judulnya Pagi Yang Menakjubkan. Tapi kan akhirnya nge-rock juga. Sound yang aku sering pake adalah sound vintage. Tapi menurutku musik sekarang itu bagusnya di-mix. Jangan terlalu vintage juga jangan terlalu moderen. Lagu-lagu sekarang banyak yang pake teknik ini. Kalo disuruh ngejelasin teknis musik, aku paling nggak bisa. Tapi kalo ngeliat dan mainin aku bisa. Aku nggak tau namanya tapi aku bisa maininnya. Sama kayak kelemahanku kalo nyiptain lagu buat orang. Aku paling nggak bisa nyesuain lagu yang aku buat dengan karakter vokal orang. Yang biasa aku lakuin, begitu dimintain tolong buatin lagu, ya udah aku bikin aja sambil bayangin gimana kira-kira penyanyinya nanti menyanyikannya. Sekarang Sheila udah berubah banget. Dan enaknya aku jadi gampang kerjasama mereka. Kalo dulu, aku harus nyanyi di depan mereka untuk ngejelasin lagu yang aku mainkan, sekarang semua udah nyiptain lagu. Dan kami makin sering nge-jam bareng bawain lagunya John Lennon. Mungkin itu yang bikin anak-anak udah bisa ngertiin lagu yang aku tawarin. Kalo soal bikin band baru, konsepnya emang cuma iseng-iseng aja. Tapi yang pasti musiknya lebih kotor, lebih bebas. Lebih kotor di sini mungkin nanti musiknya dibikin kayak The Doors dengan lirik yang lebih bebas (*)

October 6, 2006

OLD ARTICLE —> Eross “Sheila On 7″ : Ingin Punya Rumah

Filed under: Eross, Magazine

Meskipun puas dan girang dengan sukses tur 10 kota di Jawa, rasa capek mengharuskan para personel SO7 beristirahat. Eross malah terlihat kangen berat dengan kota tempat mondoknya, Yogya. Sehingga nggak heran kalo dia ingin segera punya tempat peristirahatan yang nyaman. Ditambah lagi, Yogya yang telah membesarkannya dipilih sebagai kota terakhir dari rangkaian tur. Lantas apa yang akan dilakukan Erros setelah mencetak banyak duit? "Kalo suruh pilih Jakarta Atau Yogya untuk hidup sehari-hari, kayaknya Yogya lebih nyaman!" Tapi bukan berarti Yogya jauh dari hiruk-pikuk. Justru itulah yang membuat Eross betah lama di sana. Hanya aja ketenangan tetap nomor satu karena dengan itu, Eross lancar mencipta lagu, dan tentunya mencetak duit. "Saya ingin punya rumah di daerah Kaliurang! Ketenangan Kaliurang akan lebih gampang memancing saya menyusun lirik lagu," ungkap Eross. Gitaris yang saat tur paling sering nelpon nyokapnya ini bilang bahwa ketenangan identik dengan keseriusan. Ya lihat aja gayanya di panggung. Dari situ, duit mengalir serius pula. Jadi, kita tinggal nunggu diundang selametan aja nih

Hai Magz

BERTAHAN DI SANA

Teks dan Foto oleh

Wening Gitomartoyo


Saat itu pukul sembilan malam waktu Pulau Penang, Malaysia. Lalu lintas hari Jumat malam tidak jauh berbeda dari kondisi setiap minggunya di Jakarta. Sejauh mata memandang hanya deretan mobil dengan kecepatan siput dan lampu neon yang berpendar-pendar. Saya sedang berada dalam sebuah mobil yang juga mengangkut seluruh personil Sheila on 7, additional player Prisa dan Ferry, seorang dokter yang dibawa sepanjang perjalanan, Egi, dan event organizer dari Malaysia, menuju lokasi konser So7 yang berjarak sekitar 30 menit dari hotel. Anak pertama Duta, Aisha, mengisi seluruh mobil dengan nyanyiannya yang lantang. Ia gemar mengganti-ganti lirik lagu sesuai keinginannya dan membuat seisi mobil tertawa geli. Di antara derai tawa, saya ikut merasakan antisipasi yang menguat seiring semakin mendekatnya kami ke lokasi.


Malam itu, di konsernya yang ketiga dalam rangkaian Malaysian Tour yang diadakan oleh event organizer Cipta Asia dan provider telepon seluler Digi ini, Sheila on 7 akan bermain di hadapan masyarakat Penang untuk pertama kalinya. Ini kali kelima mereka mengadakan tur atau konser di Malaysia sejak mereka pertama kali dikenal di negeri itu, dan itu tidak termasuk promo yang biasanya memakan waktu lebih singkat.


Sesampainya di lokasi, sementara masing-masing para personil mempersiapkan diri, saya memilih untuk segera melihat penonton yang riuh rendah suaranya mencapai belakang panggung dengan sukses. Penang International Sports Arena, stadion yang seukuran Istora Senayan, Jakarta, pada malam itu lumayan dipenuhi oleh orang-orang berwajah antusias. Senyuman lebar sambil sesekali teriakan memanggil nama personil-personil Sheila on 7 menggema dan sulit untuk menahan diri tidak tertular perasaan gembira yang menggantung di udara.
Saya baru bergabung dengan rombongan Sheila on 7 di saat mereka sudah sampai di Penang. Hari-hari sebelumnya, mereka sudah menjajal Stadium Larkin, Johor Bahru dan Stadium Likas, Kota Kinabalu sejak tanggal 13 hingga 16 Agustus. Dan seperti pertunjukan mereka sebelumnya, konser malam ini pun dibuka oleh band pembuka asal Singapura, Bhumi Band. Membawakan lagu-lagu karya sendiri, Bhumi Band disambut dengan cukup baik oleh penonton. Band yang dikenal karena sempat menyumbangkan satu lagu untuk soundtrack sebuah film Malaysia ini membawakan total empat lagu, dan dengannya, tepat di pukul 10.00 malam waktu setempat, memberi jalan bagi band yang telah ditunggu-tunggu.


Musik instrumental yang terdengar kental dengan pengaruh Timur Tengah dipasang sebagai intro dan menjadi pengiring Brian (drummer) untuk menginjak panggung pertunjukan. Berikutnya secara berturut-turut, Adam (bass), dan Eross (gitar) muncul, dan kemudian, dengan lampu sorot yang semakin terang, Duta (vokal) melengkapi barisan yang digelari band sejuta kopi ini.
“Menyelamatkanmu” menjadi lagu pertama yang dengan serempak diikuti teriakan dan nyanyian penonton dari arah mana pun. Setelah itu, berturut-turut “Pagi”, “Bertahanlah Kau Di Sana”, “Sahabat Sejati” hingga lagu-lagu yang bertempo lebih lambat seperti “Terlalu Singkat”, “Itu Aku”, “Dan…” yang sempat mengharu biru dunia Indonesia di tahun 1999, dan “Mantan Kekasih” yang diambil dari album terbaru mereka, 507, semakin membuat penonton larut dalam nyanyian bersama dan pekik-pekik histeris. Cukup mengagumkan bahwa lagu-lagu yang diambil dari 507 mendapat sambutan yang sama meriahnya dari penonton, bahkan mereka sudah hafal lirik lagu-lagu yang relatif baru seperti “Radio” dan “Terlalu Singkat”.


Selengkapnya baca edisi 18 (rolling stone INA) 

September 16, 2006

Duta “sheilaon7″ bahagia didoakan anak

Filed under: Magazine, Duta & Family

AB : makin repot dengan 2 anak nih ?

Duta : iyalah,pasti ada perubahan.Tapii apa yah..?Tanya adel aja ya.hahahha,yang paling intens & repot mengurusi dua anak itu ya istriku.

AB : Kapan punya waktu buat anak ?

Duta : aku berusaha memanfaatkan waktu liburku dirumah.Main bareng & mandi bareng,jalan2…pokoknya selama tdk ada tur atau kerja aku bersama aisha & aiman.Aku juga selalu memantau perkembangan mereka dari jauh.

AB : Mereka dibawa tur..?

Duta : kalau tur disekitar pulau jawa & tidak lama,aku berusaha mengajak istri & anakku.Tapi kalau seperti sekarang,tur panjang tdk mungkin.Akhirnya aku memang kehilangan banyak momen penting seperti anakku bisa melakukan hal baru.Kemarin adel cerita tentang kepandaian baru anak2 melalui telepon.

AB : Anda tidak sedih ..?

Duta : Sebenarnya aku enjoy sekali mendengar perkembangan anak2.Adel setiap hari pasti laporan tentang perkembangan mereka via sms.MMS (kirim gambar),& VMS (rekaman video singkat).Tentu ia juga telpon & banyak cerita,tapi kalau cerita..adel kadang terlalu antusias dan lama2 aku terdiam karena sedih tak bisa melihat perkembangan anak2 secara langsung.

AB : Terharu yah..?

Duta : aku sebenarnya merasa bersyukur karena istriku bisa mengajarkan anak2 banyak hal.Tapi aku kadang tak bisa menahan rasa kangen.

AB : Tidak telepon langsung dgn anak..?

Duta : dengan aisha aku biasa ngobrol,diakan sudah bisa bicara.Aku selalu Tanya apa yg sedang dilakukannya.Lalu dia cerita.Nah setiap kali aku sudahi pembicaraan,AIsha selalu mendoakan “Sukses ya PA” atau “Hati-hati ya PA”…Aduhh,dengarnya senang betul.

AB : Apa rencana anda..?

Duta : selain hobi,bermusik adalah pekerjaanku.Selama bisa,aku akan bermusik terus.Sedangkan AdeL selain ngurus anak sendiri,berencana kuliah lagi.

Credit: NaDya_bSa @ sheilasonic forum (terimakasihhh ya)

February 16, 2006

OLD ARTICLE: Kaki Bengkak, Telat Sahur

Filed under: Magazine

Awas! Band sejuta kopi ini kembali menggeliat. Seremnya, kali ini mereka lagi seneng banget!

Siang hari yang biasa aja di Ara Studio, Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (11/12) lalu.

Di sofa empuk yang keliatan nyempil di antara tumpukan hardcase gitar di ruang kontrol studio yang dingin dan temaram, Eross terlihat setengah ngantuk sambil memperhatikan Stevi ­ sound engineer Sony Music ­ dan asistennya, Bambang, berkutat di depan meja mixer.

Sementara, di bilik rekam ada Sakti yang lagi sibuk mengutak-atik kabinet amplifier. Sesekali dengan muka superserius, nih cowok masuk ke ruang kontrol. Nggak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulutnya. Kayaknya, proses rekaman kali ini bener-bener menguras konsentrasi gitaris yang masih terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Manajemen STIE YKPN Yogya ini.

Cara kerja dua gitaris ini emang beda.

Kalo Eross lebih mengandalkan munculnya ide-ide spontan saat giliran take-nya, Sakti lebih suka mengkonsep isian gitarnya sejak latihan-latihan awal, lengkap dengan gambaran sound yang diinginkannya.

Dengan pola begitu, nggak heran kalo gitar yang ditenteng Eross dari rumahnya jauh lebih banyak dari Sakti. Buat sesi kali ini, ada sekitar 16 unit gitar yang diboyong Eross. Sementara Sakti “cuma” ngebawa 8 biji!

Sembari ngeliatin Sakti pusing sama gitar-gitarnya, Eross buka mulut bahwa 14 materi yang lagi digarap ini udah mulai dikumpulin sejak 3 bulan sebelumnya. Dan, nggak seperti dua album sebelumnya, buat album ini nggak cuma Eross yang mendominasi pembuatan materi.

“Ribet. Udah bikin lagu, cari gitarnya, masih harus mikirin lirik juga,” ujar sulung dari 3 bersaudara ini sembari mengelus rambutnya yang baru aja dipotong pendek itu.

Dari ke-14 materi yang ada, Eross menyumbang 9 lagu. Lima lainnya jadi tanggung jawab Duta (2 lagu), Adam, Sakti dan Anton (masing-masing 1 lagu).

“Biarpun aku juga belum tahu persis gimana hasilnya nanti, tapi kayaknya lagu-lagu yang ada di album ini rata-rata lebih cepet temponya dibanding album sebelumnya!” jelas Eross lagi.

****

Salah satu asiknya rekaman di Ara adalah suasananya yang comfy. Bayangin aja tuh studio dibangun sebagai bagian dari kediaman pribadi oom Dimas Wahab (itu lho, bokapnya Rendy, Aldi dan Echa “Bragi” ­ RED). Bangunannya pun udah kayak rumah aja bentuknya. Dan biar dibuat terpisah dari bangunan utama, tetep aja suasana “rumahan” nggak terelakkan. Laid back betul!

Sejak awal Desember 2001, studio itu praktis jadi “rumah kedua” para personel SO7. Biarpun buat tidur, mandi atau kegiatan pribadi lainnya mereka nyewa beberapa kamar seharga 400 ribu semalam di Apartemen Bona Vista yang berlokasi nggak terlalu jauh dari studio, hampir seluruh waktu yang ada sehari-seharinya diabisin di Ara.

“Tiap hari, kecuali weekend, kami ada di studio mulai jam 10 siang sampe jam 12 malem,” tutur Eross, yang ngaku lantaran pola begitu sering nggak bisa bangun buat sahur!

Biasanya, sembari nungguin proses take, para personel lain yang lagi nggak “bertugas”, menghibur diri dengan main bal-balan alias sepakbola di pekarangan studio yang emang luas itu. Tapi sore itu acara bal-balan nggak jadi digelar. Soalnya, kaki Duta ­ yang notabene biasanya paling semangat ­ lagi terkena infeksi sampe bengkak!

Kalo udah gini, nonton teve atau main playstation jadi pilihan.

Opsi lainnya? Shopping dan beredar!

Yap. Selain Eross dan Sakti, hampir sepanjang siang itu Duta, Adam dan Anton nggak keliatan batang hidungnya. Maklum, Duta baru akan take vokal pertengahan Januari 2002. Sementara Adam dan Anton udah nyelesein bagiannya masing-masing sebelum masuk giliran Sakti dan Eross.

Baru setelah mendekati waktu buka puasa satu persatu dari mereka ­ kecuali Anton, yang lagi sibuk sama “mainan” baru: moge Ducatti, muncul. Duta dengan segambreng plastik belanjaan sementara Adam dengan backpack kebangsaannya.

O ya, selain personel band, yang ikut ke Jakarta kali ini adalah Anton Kurniawan ­ sang manajer, plus 4 orang kru. Mereka ini bertugas nyediain segala keperluan yang dibutuhin anak-anak SO7 selama proses rekaman berlangsung. Termasuk jadi temen ngobrol!

***

“Ah, nggak enak nih,” keluh Sakti pelan sembari keluar dari studio.

Di mukanya sedikit tersirat frustrasi. Nggak kurang dari 3 jam nonstop, cowok yang nama lengkapnya Saktia Ari Seno ini nyoba ngulik part gitar buat lagu milik Duta yang bertitel Seandainya.

Sebenernya doi udah siap sama part tersebut. Yang bikin proses take-nya siang itu jadi agak seret adalah penggunaan piranti rekam baru oleh Stevi dalam sesi tersebut.

“Barang itu emang baru keluar dari kardus. Jadi sambil jalan, gue sama Bambang masih harus baca buku manualnya,” aku Stevi jujur.

Piranti yang dibilang baru itu adalah Tascam Digital 24-Track, yang bisa berfungsi sebagai penyimpan data audio serta sekaligus multi-tracker.

Prinsipnya, pola rekaman album SO7 kali ini nggak jauh beda dengan apa yang pernah dibikin Stevi sama Padi buat Sesuatu Yang Tertunda. Yakni penggabungan antara pola analog dan digital. Nah, berdasarkan pengalaman ribet yang pernah dialaminya sama Padi itulah, Stevi mutusin buat menggunakan Tascam tadi.

“Sebenernya alat itu nggak terlalu perlu kalo misalnya di sini udah tersedia fasilitas Pro Tools yang permanen. Tapi berhubung kondisinya nggak begitu, alat itu jadi bener-bener ngebantu!” bebernya lagi.

Kalo diperhatiin lagi, di album Kisah Klasik Untuk Masa Depan, ada satu lagu yang vibe dan sound-nya agak beda dengan lagu lainnya. Judulnya Pagi Yang Menakjubkan.

Di samping terdengar lebih “kasar”, vibe yang terlontar dari lagu itu bener-bener spontan. Nggak usah heran, waktu itu Stevi dan personel SO7 bereksperimen dengan take secara langsung buat semua instrumen kecuali vokal.

Tampaknya pola kayak gitu berkesan banget buat Eross cs. Maka pola tadi diulang lagi dalam pengerjaan yang sekarang ini. Nggak tanggung-tanggung, ada 7 lagu yang dikerjain dengan pola yang sama.

Adam, Eross dan Anton dengan guide vokalnya Duta masuk secara berbarengan dan langsung direkam buat ritem dasar.

“Terus terang, yang dulu itu cuma coba-coba aja. Masih banyak yang bikin gue nggak puas. Nggak dari sound atau kesiapan personelnya sendiri. Tapi kalo yang sekarang gue coba buat lebih maksimal,” tutur sound engineer yang paling “bertanggung jawab” buat kualitas sound yang terdengar dari hampir tiap produk lokalnya Sony Music Indonesia ini.

Biar begitu Stevi membuka kemungkinan buat perubahan atau take ulang, kalo-kalo emang bener ada yang perlu dirombak total. Soalnya,

“Gue ngerti take langsung kayak gitu punya risiko gede. Makanya gue juga udah prepare kalo nanti pas didenger ulang ada yang perlu dirombak..
hehehehe,” bilang cowok yang sempet sekolah sound engineering di Miami, Amrik ini.

Asal tau aja, sound yang terdengar di tiap album SO7 nggak lain adalah hasil gawean Stevi.

“Mulai album pertama, gue sengaja bikin sound mereka senatural mungkin. Gue sih ngebayanginnya kayak band yang main dan latihan di garasi gitu. Raw dan seru,” beber cowok yang juga sempet jadi gitaris ini (salah satu gitar koleksinya pernah “dipinjem” sama Eross pas rekaman album Kisah Klasik…).

Menurut Stevi, sound yang seperti itu juga yang bakal mendominasi album SO7 berikutnya. Tentu aja dengan penambahan kualitas di sana-sini.

“Ada beberapa lagu yang bakal pake looping dan terkesan modern. Tapi secara garis besar sound yang natural itu yang pengen dipertahankan,” jelasnya lagi.

****

Senang.

Itulah yang pengen dicapai Eross dkk. di album kali ini. Senang dalam proses pengerjaannya dan tentunya senang dengan hasil akhirnya nanti.

Ideal? Bisa jadi. Tapi Eross punya pemikiran sendiri tentang rumus di atas.

“Album pertama bisa dibilang kami masih kaget dan nggak sempet mengkonsep apa-apa. Terus album kedua, terlalu dikonsep sehingga unsur senengnya ilang. Udah kayak orang kerja kantoran aja,” tutur penggemar berat The Cure ini,”padahal aku ngerasa bahwa unsur fun itulah yang jadi dasar kami buat bermusik. Makanya di album ini kami nyoba buat kembali ke situ, ke hal-hal yang bikin kami seneng!”

Okelah. Situ senang, sini juga senang.

(Apalagi kalo bisa sejuta-dua juta kopi lagi. Ya nggak, ‘Ross?) (dani) FOTO-FOTO: SUTE

April 18, 2005

sheila on 7: nggak mungkin bikin lagu lagi

Filed under: Magazine

Sheila On 7 bikin album lagi. Nggak baru-baru amat sih. Cuma album The Best. Kalo pun ada lagu baru cuma ada tiga. Lantas kenapa mereka sekarang merasa nggak mampu bikin lagu lagi?

Sabtu (2/4) malam di Hotel Paragon di bilangan Wahid Hasyim. Di malam yang rada panas itu, Hai janjian untuk ketemu sama Sheila On 7. Ceritanya sih ngomongin album The Very Best of Sheila on 7 yang baru mereka rilis. Plus temu kangen juga. Abis, udah lama juga kami nggak ketemuan.

Jam tangan Hai nunjukin pukul 7.30 malam pas masuk ke kamar kuartet asal Yogya ini. Keliatan banget mereka masih capek. Maklum, hari itu mereka emang baru sampe di Jakarta. Ceritanya sih, mereka dateng dalam rangka bikin video klip singel Bertahan di Sana, hari Minggu (3/4), keesokan harinya.

Apa kabar nih?

“Alhamdulillah, Sheila on 7 is fine,” ujar Adam sambil cengar-cengir dan tiduran di tempat tidur.

“Kemaren kan kami abis jalan tur Pejantan Tangguh. Banyak banget deh kota yang kami datangi sampe nggak inget,” samber Eross sambil makan nasi goreng.

Oh, jadi karena capek nih kalian ngerilis album The Best?

“Waduh, baru ketemu langsung nembak! Hehehe… Nggak gitu, kok. Sebenernya, album ini emang udah direncanakan sama label dan band. Kami kan udah punya empat album, rasanya sekarang waktu yang tepat untuk ngerilis album The Best,” terang Duta, yang jadi satu-satunya personil Sheila On 7 cabang Jakarta.

Menurut Duta, alasan mereka nggak ngerilis album baru tahun 2005 ini adalah: mereka ngerasa terlalu deket sama album Pejantan Tangguh yang dirilis Mei 2004 lalu. Apalagi sebelumnya Sheila ngerilis album OST 30 Mencari Cinta di akhir 2003. Jadi, waktunya dianggap kerapetan.

“Dalam waktu kurang dari 6 bulan kami merilis dua album. Jadi kalo sekarang ngerilis album baru lagi kayaknya cepet banget. Kami pengen lebih santai ngegodok album baru. Ngumpulin materi lagu pelan-pelan,” ujar Duta.

Bener, man! Jadi orang emang harus alon-alon asal kelakon. Tapi kan, album The very Best ini materinya hampir sama sama album OST 30 Hari Mencari Cinta. Apa nggak takut dibilang kehilangan kreativitas.

“Ah, nggak juga. Album soundtrack kan isinya lagu-lagu kami yang dibawakan dengan akustik dan aransemen yang beda. Jadi tetap lain,” bela Eross.

“Waktu kami ditawari pihak produser film tersebut, kami emang tertarik untuk bisa ikutan dalam proyek itu. Tadinya kami pengennya masukin lagu baru karena mood waktu itu lagi siap dengan lagu baru. Tapi produser film mintanya lagu-lagu lama.” sambung Duta.

“Lagian kalo diliat, lagu-lagu yang terserak di album soundtrack tuh beda sama album The Best. Jadi nggak ada pengulangan. Kalo pun ada paling cuma JAP dan Kita itu pun dengan aransemen yang berbeda,” repet Eross lagi.

Percaya deh percaya. Hehehe.. Ngomong-ngomong, kalian kan udah lama nganggur, nih. Udah bikin berapa lagu baru sih sampe sekarang? Pasti udah banyak, deh!

“Itu dia masalahnya, he he he. Ada tiga lagu baru sih, dan itu semua masuk album The Very Best,” canda Eross.

Peternak koi ini menerangkan kalo Sheila On 7 emang termasuk band yang hobi bikin lagu di saat-saat mepet. Mereka jarang nabung lagu buat album ke depan. Semuanya dikerjakan dengan cepat pas udah dikejar deadline.

“Jadi, boro-boro nabung. Yang ada sekarang aja baru dibikin. Mungkin, sekarang kami bakal membiasakan diri untuk nabung lagu. Biar hasilnya lebih mantap gitu lho,” samber Eross, sambil tertawa lepas.

MAKIN DEWASA

Ada tiga lagu yang ditawarkan Sheila di album yang dikasi nama The Very Best of Sheila on 7 ini. Masing-masing berjudul Bertahan Di Sana, Jalan Terus, dan Sekali Lagi. Tiga lagu ini menurut mereka jauh lebih simpel ketimbang lagu-lagu dalam album Pejantang Tangguh.

Lho emang lagu di Pejantan Tangguh berat-berat ya?

“Buat kami album Pejantan Tangguh tuh album yang sangat memuaskan dari sisi musikalitas. Kami habis-habisan di sana. Senang aja ngeliat hasil akhir tuh album. Kami jadi tahu udah sejauh apa kami bermain musik. Tapi, mungkin buat fans, bobotnya lebih berat. Lebih susah dimengerti,” ujar Duta.

“Sebenarnya itu sih belum seberapa. Lagu sisa yang nggak kami masukkan bahkan lebih ajaib lagi. Pokoknya buat aku tuh ngerjain Pejantan Tangguh bener-bener memuaskan secara musikalitas,” samber Eross lagi.

Selain materinya yang berat, rapatnya waktu rilis dipercaya yang bikin penjualan album Pejantan Tangguh nggak seperti biasanya. Makanya tiga lagu di album the best dibesut dengan lebih simpel.

“Kami rindu juga pengen bikin yang lebih simpel kayak di album awal. Seneng juga sih bisa balik lagi,” ujar Eross.

Tapi yang namanya umur kan nggak bisa dibohongin. Secara umur, Sakti, Eross, Duta, dan Adam tuh udah lebih tua ketimbang dulu-dulu. Bahkan Duta udah punya istri sekarang. Efeknya cara berpikir mereka juga udah beda. Ini yang bikin penggarapan lagu – lirik maupun musik – terasa beda.

Ceritanya, makin dewasa nih bos?

“Gini deh, aku tuh nggak mungkin bisa lagi nulis lagu seperti JAP atau Kita sekarang ini. Karena emang udah beda rasa yang ada. Cara pikir beda dan cara memandang hidup juga udah lain. Tapi kadang tuh pengen juga bisa nulis lirik dan lagu kayak gitu,” ujar Eross.

“Kedewasaan berpikir kan emang nggak bisa ditolak. Sejalan nambahnya usia, kami juga jadi beda memandang hidup,” tambah Duta lagi.

Oh, gitu! Pantesan Eross deket sama cewek yang masih ABG. Biar tetep berpikiran “muda” ya? Hehehe…. Hus!

BEHIND THE NEW TRACK

Bertahan di Sana:

Nih lagu sebenernya materi di album Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Tapi berhubung nggak kepake, Sheila mutusin untuk memakai lagu ini di album The Best. Cuma aransemennya diubah. Kata Eross isinya soal pesen yang disampaikan anggota Sheila ke pacar-pacar mereka untuk tetap bertahan meski sering ditinggal tur.

Jalan Terus:

Sebuah komposisi yang rada nge-rock. Permainan gitar Eross dan gebukan drummer additional, Brian cukup terasa. Isinnya mengajak orang untuk terus produktif mumpung masih muda. Terus bekerja sampe kita nggak berguna lagi.

Sekali Lagi:

Kata Eross, lagu ini aslinya dibuat karena dia ngerasa kehilangan film MacGyver yang dulu tayang di RCTI. Nah, rasa hilang itu diterjemahkan lewat nih lagu. Pesennya kalo kehilangan sesuatu itu adalah hal yang lumrah. Yang bisa kita lakukan cuma menerima dan berharap akan ada sesuatu yang biasa menggantikan hal yang telah hilang itu.(*)

Source: Hai Magz

November 15, 2004

sheila on 7: “ini memang sudah kesepakatan kami bersama”

Filed under: Magazine

Gawat!!! Sheila On 7 (beneran) tinggal berempat! Terhitung 18 Oktober 2004 lalu Anton, sang drummer, cabut dari formasi band. Nggak seperti beberapa waktu lalu, kali ini sifatnya permanen. Ada apa sih? Berikut ini petikan penjelasan Eross dan Anton sendiri soal hal ini.

EROSS

Langsung aja nih, bener nggak sih Anton keluar dari Sheila On 7?

Mmmm…., gimana ya. Bener sih! Anton udah nggak ada di formasi Sheila On 7 lagi sejak pertengahan Oktober 2004.

Emangnya kenapa sih?

Sebenernya sih, hal ini lebih disebabkan keadaan. Sejak album ketiga dirilis, kami semua udah punya kesepakatan untuk ngebikin peraturan. Peraturan itu harus dipenuhi sama seluruh anggota band biar jalannya SO7 lebih terarah. Kalo nggak, mengundurkan diri jadi konsekwensi yang harus dipenuhi.

Kebetulan, ada beberapa poin yang nggak bisa dipenuhi sama Anton. Dan, itu jadi penyebab kenapa Anton nggak ada lagi sama-sama kami.

Yang perlu diingat, ini bukan pemecatan. Keputusan ini diambil berdasarkan kesepakatan kami bersama. Jadi, bukan lantas tiba-tiba kami ngeluarin Anton. Ini murni karena keadaan.

Trus, Antonnya gimana tuh?

Kalo aku sih masih ngobrol sama dia. Bahkan beberapa kali nongkrong bareng. Jadi, aku pikir nggak ada apa-apa. Kami masih berteman kok. Tapi, nggak tau juga ya apa yang dia rasain.

Tapi, kalo aku pikir, ini emang jalan yang terbaik. Soalnya, kami ngerasa kalo Anton emang udah nggak satu visi sama kami. Kami punya banyak rencana jangka panjang, yang mungkin nggak sesuai sama apa yang dia pikirin.

Sebenernya sih, perbedaan ini udah rada lama juga. Tapi, saat itu masih bisa diselesaikan dan Anton-nya juga mau mencoba. Sekarang, kondisinya udah beda.

Kondisi SO7 paska keluarnya Anton gimana?

Kami bakal tetep jalan. Tetep berjuang berempat. Sementara, kami mutusin buat nggak nambah personil.

Buat manggung, kami make additional drummer. Ada beberapa nama yang sempet bantuin kami. Ada Kiky “Es Nanas”, Brian eks “Tiket”, dan beberapa nama lain.

ANTON

Ceritain dong soal keluarnya kamu dari Sheila On 7?

Aku nggak keluar atau mengundurkan diri secara sukarela. Aku dipecat…

Lha? Katanya keluarnya kamu itu karena udah ada kesepakatan bersama? Menurut Eross, semenjak kejadian vakumnya kamu dulu itu, di antara kalian ada semacam peraturan untuk mencegah hal itu terjadi lagi. Dan keluarnya kamu sekarang ini adalah konsekuensi dari peraturan itu…?

Hmmm… Aku nggak inget peraturan mana yang dia maksud itu. Yang jelas, sebelum aku dipanggil tanggal 18 Oktober lalu untuk meeting sama mas Anton (manajer, RED.), nggak pernah ada omong-omongan soal aku ngelanggar peraturan atau teguran atau apalah. Jadi ya aku taunya mau dikeluarin itu, ya pas meeting sama mas Anton itu. Itu aja aku berasa aneh. Dibilangnya meeting anak-anak semua, eh pas aku sampe yang ada cuma mas Anton sama si Adam….

Kalo menurut kamu sendiri, apa yang bikin kamu dikeluarin dari Sheila?

Jujur aja aku nggak tau persisnya. Wong pas meeting itu pun aku nggak dijelasin salahku di mana persisnya, kok. Jadi begitu ketemu, aku langsung diminta ngundurin diri. Dikasih surat pengunduran diri dan disuruh tandatangan…

Sebelum sampe ke hari itu, kronologi-nya gimana?

Nggak ada yang aneh kok. Abis nyelesein tur Sumatera dan Kalimantan, aku sempet minta cuti sebentar. Ke Malaysia, nonton MotoGP. Itu pun nggak lama dan seinget aku, aku udah sempet bilang jauh sebelumnya. Jadi harusnya nggak ada masalah dong?

Trus, kamu terima aja keputusan itu?

Ya mau gimana lagi? (Suratnya) Udah aku teken. Lagian, kalo emang mereka yakin keputusan ini yang terbaik buat Sheila On 7, ya aku dukung semampuku. Kan gimanapun band ini terbentuk dari mimpiku juga… (*)

July 7, 2004

konser sheila on 7 di melaka: konser para pria terhebat!

Siapa bilang cuma Portugis yang bisa bikin Melaka bertekuk lutut? Sheila On 7 juga bisa kok! Daus dari Hai melaporkan konser anak-anak Yogya ini langsung dari kota pelabuhan tertua di Negeri Jiran.

Melaka (dibaca: Melake) emang indah, jack!

Sepintas, kota pelabuhan yang sering banget disebut-sebut dalam buku pelajaran sejarah ini emang terlihat kayak daerah Kota di bagian utara Jakarta. Penuh dengan bangunan-bangunan berarsitektur Eropa yang sesekali dipadu dengan gaya arsitektur Cina. Bedanya, di Melaka bangunan-bangunan tuanya terawat baik. Nggak seperti bangunan tua di Jakarta yang sering dibiarkan hancur dimakan usia.

Selain bangunan bersejarah, Melaka juga lumayan asik buat didatangi. Pantainya bersih, angin pantainya sejuk, dan orang-orangnya pun ramah. Nggak heran kalo daerah ini jadi sering banget dikunjungi sama wisatawan. Abis, daerahnya emang asik, sih!

Di kota bersejarah inilah Sheila On 7 (SO7) ngegelar konser besar pertama mereka di Malaysia dalam rangka promosi album Pria Terhebat (gantinya kata Pejantan Tangguh yang dilarang di Malaysia gara-gara dalam bahasa sono kalimat itu artinya porno, RED.). Sebuah konser yang bahkan belum pernah mereka gelar di negeri kita.

Tau sendiri dong, sejak ngerilis Pejantan Tangguh sampai sekarang Duta (vokal), Adam (bas), Eross (gitar), Sakti (gitar), dan Anton (drum) baru tampil di acara-acara TV dan beberapa gigs kecil di kafe. Belum ada ceritanya, nih band ngegelar konser besar di GOR atau stadion lagi. So, nggak salah dong kalo Hai rela bersusah payah ngejar kuintet nomer satu Indonesia ini sampai ke negeri Jiran, khusus buat kamu!

***

Namanya juga konser di negeri orang, SO7 nggak mau main-main. Pas ngelakuin checksound yang dimulai sekitar pukul 16.30 waktu setempat, di Gedung Melaka International Trade Centre yang jadi lokasi konser mereka malam itu, lima cowok ini bener-bener keliatan serius mencoba alat-alat sewaan plus sound yang disiapin sama panitia.

Di banding konser-konser mereka di Jakarta, Panggung seluas 12 X 20 meter yang disiapin sama panitia keliatan sederhana banget, jack! Selain perangkat monitor dan beberapa mic, cuma seperangkat keyboard sewaan, 9 set gitar yang dibawa khusus dari Jakarta, plus satu set drum yang nangkring manis di atas panggung. Hasilnya, panggung jadi terlihat lengang. Untung, tata lampu sederhana yang disiapkan bisa menambah kemeriahan suasana. Kalo nggak, tuh panggung beneran sepi deh!

Kelar ngurus equipment panggung, SO7 sempet ngobrol sama panitia soal keamanan. Mereka meminta minimal 30 orang untuk menjaga barikade depan. Sedangkan, panitia cuma nyiapin 10 orang.

Untungnya, panitia sigap. Dalam waktu singkat tim keamanan ditambah jadi 56 orang. Wajar kalo seluruh personil tersenyum puas, saat berjalan menuju bus yang mengantar mereka balik ke Hotel Naza, tempat mereka menginap di Melaka.

***

Sekitar pukul 20.45, band berangkat dari hotel menuju venue. Ngabisin waktu sekitar 30 menit, akhirnya sampai juga kami ke lokasi konser. Persis kayak di Indonesia, banyak banget penonton yang udah antri. Ada sekitar 5000 orang. Lumayan deh untuk sebuah konser indoor.

Sempat menenangkan diri sambil memperbaiki dandanan di ruang ganti selama 30 menitan, akhirnya “budak-budak” Yogya ini naik ke atas panggung. Seperti di sini, pas ngeliat sosok 5 jagoan ini naik pentas, penonton langsung aja jejeritan. Seru, histeris, nyampur jadi satu. Saking serunya, sound system 80 ribu watt yang disiapin panitia jadi terasa kurang berarti.

Buat pembuka, Menyelamatkanmu meluncur mulus dari bibir Duta. Pas lagu yang diambil dari soundtrack film 30 Hari Mencari Cinta ini dimainkan, kertas warna-warni dan balon-balon sabun berterbangan dari kedua sisi panggung. Penonton bersorak makin kencang.

“Wah senangnya konser di sini. Penontonnya asik dan seru. Pokoknya, konser di Melaka bakal selalu kami inget dan nggak akan kami lupakan,” repet Duta, kelar menggeber Generasi Patah Hati yang dipasang jadi lagu kedua.

Abis basa-basi itu, Eross cs. langsung menggempur kuping penonton lewat rombongan lagu Pemuja Rahasia, Itu Aku, Pilihlah Aku, dan Tanyaku yang diseling sama lagu slow, Jangan Beri Tau Niah. Pas lagu-lagu ini dimainin, Eross langsung merapatkan diri ke keyboard. Rupanya, cowok yang hobi melihara ikan koi ini mau pamer kebolehan mainin tuts hitam-putih di depan penggemar Malaysia. Hasilnya? Semua penonton langsung terpukau dan nggak henti-hentinya tepuk tangan.

Bukan cuma Eross dan Duta aja yang tampil habis-habisan. Pas ngebawain nomer-nomer yang agak nge-rock, Adam nggak henti-hentinya bergerak. Cuma aja, gerakannya agak ketahan sama perutnya yang menggembul akibat kebanyakan makan nasi lemak, susu Milo, dan roti canai selama promo di Malaysia. Nggak salah kalo banyak banget penggemar SO7 yang menjuluki tuh cowok bumel alias, bulet dan comel (lucu, RED.). Kok jadi kayak beruang ya? Hehehe…

Sakti lain lagi. Gitaris pendiam ini malah nempel terus sama Eross. Barengan, dua gitaris ini ngelakuin gerakan-gerakan yang nggak masuk akal. Mulai dari adu pantat, sampe semi-semi akrobat. Wajar kalo banyak penonton yang melongo.

Kalo ada yang keliatan agak mikir, Anton orangnya. Sepanjang konser, cowok berkacamata minus ini keliatan serius. Ternyata, penyebabnya adalah sound drum yang agak sember. Udah gitu, setelan drumnya nggak pas. Untungnya, pas ngeliat gaya temen-temennya yang fun, nih cowok jadi kebawa santai. Nothing to loose, sempet-sempetnya dia nyuri-nyuri kirim SMS pas jeda lagu. Kirim ke mana tuuhh?

Tapi, nggak di semua lagu SO7 keliatan ceria. Pas masuk sesi akustik yang berisikan lagu Tunggu Aku, Berhenti Berharap (ini lagu yang paling ditunggu lho, RED.), dan Sephia mereka bisa juga tampil serius. Hasilnya, banyak banget penonton yang berkaca-kaca karena tersayat hatinya (‘seeeet, bahasanya!).

Kelar ngebawain lagu-lagu paten kayak Bila Kau Tak Di Sisiku, More Than Words (ini lagunya Extreme yang dinyanyiin sama Adam), Pria Kesepian, dan Pejantan Tangguh eh Pria Terhebat, akhirnya sampai juga penghujung konser.

Seberapa Pantas pun diusung sebagai lagu pamungkas. Sayangnya, pas intro nih lagu dimainin, emosi penonton malah memudar. Menyadari hal itu, Eross cs mulai memainkan instrumen pinjaman mereka dengan emosi tinggi, usaha itu berhasil. Emosi penonton kembali naik. Teriakan histeris kembali terdengar.

Begitu nih lagu kelar dimainin, konser pun berakhir dengan sukses. What a show! Everybody seems happy. Wah! Kalian emang layak disebut “Pria Terhebat”!

Yunior Respati Eko Putro / FOTO-FOTO: Firdaus Fadlil.

Source: Hai Magz

July 5, 2004

sheila on 7: konser kenangan

Filed under: Magazine

Siapa bilang Sheila On 7 kurang disambut di Bandung? Emang sih, kalo ngelihat pengalaman mereka sewaktu manggung pada event Soundrenaline Bandung tahun 2003 lalu, kayaknya fans musik di kota itu kurang memihak mereka. Tapi lantaran itu event besar yang nampilin banyak band, nggak bisa juga dijadikan ukuran.

Yang jelas manggung di Bandung pasti bikin Duta dkk. bersemangat, pasalnya mereka punya sejumlah kenangan istimewa di kota ini. Kalo masih inget, waktu album pertama cah-cah Yogya ini dirilis dan meledak, panggung konser pertama yang mereka jajal adalah di sebuah klub besar Bandung, Fame Station. Dari situ barulah Sheila On 7 merambah kemana-mana.

Lantas setelah hampir 5 tahun, atau tepatnya setelah merilis album baru, Pejantan Tangguh, band 1 juta kopi itu kembali ngegelar konsernya di Fame Station. Konser pada hari Jumat malam, 18 Juni 2004 lalu tersebut bisa dibilang istimewa. Pasalnya selain jadi ajang nostalgia di tempat yang pernah turut berjasa membesarkan nama mereka, konser tersebut adalah yang terakhir di Indonesia sebelum melakukan perjalanan tur ke Malaysia dan Singapura selama hampir sebulan.

Sebenernya agak luar biasa juga kalo Fame Station mampu menghadirkan Sheila On 7 di tengah jadwal mereka yang padat. Bisa jadi lantaran event-nya adalah event yang bener-bener spesial.

“Sebenernya nggak sulit mendatangkan Sheila On 7 buat tampil pada event Friday Fame Freak Out ini. Soalnya kami sudah mengontak mereka sejak lama. Lagipula event ini emang di-set sebagai event khusus bulanan buat menghadirkan band-band besar. Event-nya sendiri start sejak April tahun ini. Yang sudah tampil antara lain /rif dan Sheila On 7 sekarang ini. Rencananya bulan depan kami akan menghadirkan Cokelat,” kata Pak Jacky Wangkay, Entertainment Manager Fame Station.

Penampilan Sheila On 7 sendiri berlangsung seru. Tampil dengan durasi sekitar 90 menit berbekal puluhan lagu dari album awal sampai yang terbaru, mereka sukses menggoyang sekitar 600 penonton yang hadir malam itu.

Kabarnya fans Sheila yang mau menonton penampilan mereka lebih banyak lagi. Hanya saja lantaran harga tiket 75 ribu perak termasuk agak mahal buat remaja Bandung, jumlah 600 orang udah lebih dari cukup. Usut punya usut, harga tiket yang dibikin mahal tersebut lantaran pihak Fame Station nggak pengen suasana terlalu crowded.

Yang pasti, nama Sheila On 7 tetep mendapat sambutan antusias di kota Bandung. Sama aja kayak sambutan yang mereka dapat di kota-kota lain.

“Aku sebenernya bingung kalo ada yang bilang Sheila nggak disukai di Bandung. Temen-temenku malah yang paling banyak adanya di Bandung. Mungkin emang ada yang nggak suka dengan keberhasilan kami. Tapi aku lebih suka begitu, nggak disukai karena berhasil, he..he..he…,” aku Eross saat press conference yang digelar di Bilique Hotel, Bandung.

Well, udah kelihatan kan buktinya?

June 14, 2004

sheila on 7: nggak maksimal

Filed under: Magazine

Gimana rasanya kalo pas lagi asik-asiknya beraksi di atas panggung, tau-tau disuruh berhenti? Pastinya sih bete berat!

Hal ini terjadi pada Sheila On 7 (SO7) pas manggung di acara MTV VJ Hunt 2004, Sabtu (29/5) malam lalu. Pas baru ngebawain satu lagu yang berjudul Saat Aku Lanjut Usia, Duta cs. langsung dikasi aba-aba buat turun panggung.

Hasilnya, lima Yogyanese yang baru aja ngelepas album Pejantan Tangguh ini langsung pasang ekspresi nggak puas. Maklum jack, ini emang baru pertama kali mereka manggung lagi, selepas musibah yang mereka alami di Banjarmasin awal tahun 2004 silam.

Untungnya, rasa nggak puas Duta cs. bisa terobati di akhir acara. Band yang lengket dengan julukan band sejuta kopi ini dapet kesempatan naik panggung lagi ngebawain lagu Melompat Lebih Tinggi.

Jelas aja kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya sama Duta cs. Dengan penuh energi, lima jagoan ini langsung ngegeber lagu bernuansa garage rock yang ada di album soundtrack film 30 Hari Mencari Cinta itu.

Sayangnya, penampilan mereka lagi-lagi nggak maksimal. Soalnya, di bagian akhir lagu, mereka harus rela berbagi panggung dengan 12 finalis VJ Hunt yang ikutan naik panggung seluas 5 X 3 meter, buat joged-joged. Alhasil, aksi lari-lari ke kanan-kiri panggung yang mereka perlihatkan di awal lagu, harus distop dan diteruskan dengan manteng di posisi yang emang udah disediakan.

Kasian deh SO7. Tapi, nggak apa-apa deh. Entar kalo konser beneran, baru geber abis-abisan ya!

Source: Hai Magz

Duta SO7: Sebel sama Perancis

Filed under: Duta, Magazine

Sebagai penggemar sepakbola, EURO 2004 jelas enggak lepas dari perhatian vokalis SO 7 ini. Dan dia adalah salah satu penggemar berat Inggris. pertandingan antara Inggris lawan Prancis yang berakhir 1-2 untuk Prancis. Bikin dia sebal. “cuma beruntung saja. Pires enggak bisa bergerak dijaga Ashley Cole yang main keren malam itu. Henry enggak pernah dapat bola. ah.. rancis cuma beruntung,” sungutnya.

Beberapa pertandingan awal yang mengejutkan membuat Duta berpikir lagi untuk menjagokan tim yang bakal juara. ” Lihat dulu pertandingan mereka,” Ujarnya yang sedikit menaruh harapan pada Italia untuk juara.


Source: Kawanku

June 7, 2004

sheila on 7: dihambat penyakit, dibantu makanan impor

Filed under: Magazine

Sempet shock gara-gara konsernya kena musibah, Sheila On 7 langsung ambil cuti besar. Berbekal mood yang belum stabil, lima Yogyanese ini langsung ngebut ngerjain album baru. Apa resepnya ya?

Jumat (7/5) malam lalu, bertepatan dengan berkumandangnya adzan maghrib di langit Jakarta, kantor Hai kedatangan tamu. Lima cowok Yogya yang menamakan diri mereka Sheila On 7, datang dengan muka kuyu. Keliatan banget, mereka masih kecapekan kelar ngelakuin perjalanan dengan kereta api Yogya-Jakarta yang memakan waktu nyaris 9 jam. (Hah? Sejuta kopi, masih naik kereta api??)

Meski capek, bukan berarti mereka jadi nggak ramah lho. Buktinya, mereka tetep berusaha terlihat ceria begitu ketemuan sama Hai. “Gimana kabarnya nih? Kami lagi ngadain kunjungan balasan. Nggak enak, udah keseringan didatengin Hai pas lagi rekaman (Hai emang lumayan sering main ke studio, jack! Ada kali, bangsa 4-5 kali, RED.). Nanti dibilang sombong lagi, hehehe,” sapa Eross, mewakili teman-temannya.

Ah yang bener, dab! Masa dateng ke Jakarta cuma buat main ke Hai sih?

“Hehehe…, nggak juga sih. Kebetulan kami dapet jadwal syuting klip Pejantan Tangguh besok pagi. Mumpung lagi di Jakarta, kayaknya seru juga nih mampir ke Hai. Abis, udah lama nggak mampir sih,” samber Adam sambil cekikikan.

“Sekalian kami mau cerita-cerita soal album baru. Sekarang kan udah kelar dibikin. Jadi mau kasi denger hasilnya. Siapa tau, bisa dapet masukan. Kan lumayan tuh!” tambah Sakti, yang makin hari makin kurus aja.

Sip dah!

***

“Kamu tau kan gimana perasaanku pas kami kena musibah di Banjarmasin? Waktu itu, aku tuh shock banget. Rasanya kepikiran terus dan nggak bisa ngerjain apa-apa. Dan, kalo udah kayak gitu, mood juga nggak asik. Makanya, kami sepakat ngebatalin sisa konser kami waktu itu,” buka Eross, sambil berkaca-kaca matanya.

“Kebetulan, kami emang udah dikejar deadline album ke-4 sama Sony Music. Makanya, kami sepakat buat ngelanjutin rekaman yang udah setengah jalan. Emang sih, mood-nya belum balik, tapi ya kami kerjain aja. Daripada kepikiran terus sama kejadian itu,” tambah Duta.

Ternyata jack, apa yang dipilih sama Eross cs. nggak salah. Melibatkan diri dalam proses rekaman yang rumit ternyata bisa jadi obat ampuh buat shock yang mereka derita. Buat ngelupain masalah, mereka jadi sungguh-sungguh bekerja keras. Hasilnya, cuma dalam waktu 2 bulan, album terbaru mereka rampung dikerjain.

Kok buru-buru sih? Apa hasilnya bisa memuaskan?

“Sepintas sih emang keliatan terburu-buru. Tapi, kami enjoy tuh ngerjainnya. Jadi, hasilnya juga lumayan sesuai sama yang kami harapkan. Mungkin, karena kami total ngerjainnya kali ya,” ungkap Anton, santai.

“Memang sih ada beberapa part yang begitu kelar di-mastering kedengaran kurang pas. Tapi, itu biasa. Tandanya kami mengalami progres. Overall sih, album ini oke. Dan, kami nggak ngerasa terburu-buru ngerjainnya,” tambah Eross.

Buat ngeyakinin Hai kalo mereka nggak terburu-buru ngerjain nih album, Eross sempet ngebeberin kalo SO7 sempet istirahat rekaman bangsa satu dua hari buat refreshing pas ngerasa stuck. Dan itu dilakukan dengan rela, tanpa ngerasa kuatir jadwal rilis yang ditetapkan Sony bakal molor.

“Memang sih, Sony ngasi deadline yang lumayan ketat buat album ini. Tapi, itu sama sekali nggak mengganggu kami. Soalnya, kami enjoy banget ngerjain nih album, dan kami tau kami nggak akan telat menyelesaikannya. So, pas kebetulan kami mentok, stuck mikirin apa lagi yang harus kami kerjain, aku dan temen-temen mutusin cuti. Pastinya sih, keputusan ini nggak mungkin diambil kalo kami bekerja di bawah tekanan,” jelas gitaris ceking yang masih bercita-cita untuk jadi petani Koi ini, bijak.

Mmmm…, iya juga sih. Pendapat Eross emang masuk di akal.

***

Meski bekerja penuh semangat, pasti dong ada hambatan dalam pengerjaan sebuah album. Jadi pengen tau, hambatan apa sih yang harus dilalui SO7 buat ngebikin Pejantan Tangguh?

“Sebenernya sih hambatannya banyak banget. Masing-masing personil punya hambatan masing-masing. Aku sempet nggak bisa nerusin rekaman gara-gara ampli meledak tiba-tiba. Jadi deh aku cuma bengong-bengong di studio sampe ampli bas ku dibetulin,” kenang Adam, geli.

“Kalo aku bermasalah sama kesehatan. Tepat sehari sebelum rekaman lagu Generasi Patah Hati, asmaku kumat. Wah, aku sampe abis-abisan take lagu itu. Ada kali seharian. Aku sampe ngerasa nggak enak sama Mas Bambang Widhi. Dia sampe bete ngedengerin tuh lagu,” repet Duta sambil garuk-garuk kepala.

“Kalo aku sama Sakti lain lagi. Kami berdua repot mikirin aransemen lagu Brillian. Susah banget deh mikirin aransemen yang pas. Kami sampe stuck dan mutusin cuti pas ngerjain lagu ini. Pas balik dari cuti, kami kembali nyoba sehari penuh sampe akhirnya kelar,” cerocos Eross.

“Dan, begitu tuh lagu kelar, kami semua langsung teriak : ALHAMDULILLAH! Asli, seneng banget waktu itu,” sambung Sakti, cengengesan.

Kalo Anton gimana?

“Gue sempet ribet sendiri pas ngisi lagu Itu Aku. Buat aku, tuh lagu beneran ribet. Abis, temponya nggak kayak lagu SO7 yang biasa. Makanya, aku sempet ngulang dua kali. Eh, hasilnya sama aja tuh, hehehe!” ucap drummer jago balap ini, malu-malu.

Toh, semua kesusahan yang mereka alami akhirnya sukses dilewati. Resepnya cuma tiga : gokart, boling, dan makanan impor.

Lho, kok bisa?

“Kenapa nggak? Tiga hal itu emang berpengaruh banget buat kami pas bikin album. Kalo lagi suntuk, hal pertama yang kami kerjain adalah main boling dan gokart di PIN, Pondok Indah. Seru banget! Meski nggak bisa tapi seru!” seru Adam, antusias.

“Kalo soal makanan impor, itu kerjaannya aku dan Sakti. Selama rekaman, kami kan dapet jatah uang belanja dari Sony. Udah dibelanjain tapi masih ada juga. Ya udah, buat iseng, kami belanjain aja makanan impor. Lumayan, buat ngisi-ngisi laporan belanja,” timpal Eros, usil.

Dab-dab, ada aja yang dikerjain!

***

Begitu Pejantan Tangguh kelar dibikin, mau nggak mau SO7 kembali berhadapan dengan urusan promosi. It means, mereka kembali dihadapkan dengan jadwal konser yang lumayan padat. Gimana ya komentar mereka?

“Aku rasa sih, itu emang resiko musisi ya. Harus kembali keliling dan konser di daerah-daerah untuk mempromosikan album. Pada dasarnya sih, kami seneng ngelakuin hal itu,” beber Duta.

“Apalagi, kami masih punya utang konser beberapa kota sama sponsor. Makanya, sekarang ini kami lagi nyiapin fisik biar konser promo album Pejantan Tangguh bisa lebih enak diliat dari konser yang udah-udah. Pokoknya, harus lebih top deh!” seloroh Eross.

Masih trauma nggak sama kejadian Banjarmasin?

“Jujur aja, kami masih trauma. Tapi, sebagai cowok-cowok tangguh kami harus mengesampingkan rasa itu dan terus maju. Makanya, musibah itu kami jadikan pelajaran dan bukan sebagai penghalang,” lanjut Sakti, lempeng.

“Ada pemikiran kami bakal memperketat raiders. Terutama untuk urusan pengamanan. Pokoknya, kami nggak mau kecolongan lagi deh!” sahut Adam, penuh semangat.

Setuju banget tuh dab! Kita tungguin deh konser SO7 selanjutnya. Kita doain mudah-mudahan beneran lebih aman terkendali. Amien!

Cerita di Balik Lagu-lagu Pejantan Tangguh

Nggak kayak album sebelumnya, Pejantan Tangguh mengangkat tema-tema baru yang menarik buat disimak. Mau tau, cerita di balik lagu-lagu yang ada di album ini? Kebet sendiri deh!

Brillian

Lagu ciptaan Eross ini ngegambarin kekaguman seorang cowok pada seorang cewek (yang menurut temen-temennya di SO7 adalah pengalaman pribadi penciptanya sendiri, ciee RED.). Untuk musiknya, Eross mengaku sempet stuck mikirin pattern lagu. Pengennya sih bisa jadi beda, tapi nggak maksa. Tapi, buat ngewujudin keinginannya itu, konon, susahnya minta ampun

Pejantan Tangguh

Siapa bilang seorang cowok harus selalu menang biar bisa dibilang tangguh? Di lagu ciptaannya Eross ini, SO7 pengen ngasi tau kalo cowok yang jantan dan tangguh adalah cowok yang bisa tau apa kekurangannya dan nggak malu mengakuinya. Yang terpenting, mau berusaha untuk mendapatkan yang terbaik (Ampun dah!!).

Untuk musiknya, Eross kepikiran masukin unsur brass biar nuansanya bisa lebih fresh dan bisa ngebangun rasa percaya diri dan semangat pendengarnya.

Pendosa

Lagu ciptaan Eross ini berangkat dari progresi kord yang (katanya) dark. Pas musiknya jadi, Eross kepikiran buat bikin lirik yang berhubungan sama dosa yang amat menyakitkan.

Pilihlah Aku

Cerita lagu ciptaan Adam ini standar. Soal cowok yang ngerasa sukses tebar pesona di depan cewek yang baru dikenalnya. Sttt…, ini true story lho!


Itu Aku

Diilhami kebiasaan Eross yang suka telepon-teleponan sama banyak temen cewek. Kalo lagi curhat, biasanya cewek-cewek itu suka bingung, nyari cowok yang pas buat mereka. Lucunya, kadang-kadang ciri-ciri yang diceritain sama cewek-cewek itu mengarah ke satu orang yang udah lama dikenalnya. It means, mereka nggak tau apa yang mereka cari.

So, Eross spesial bikin nih lagu buat cewek-cewek model begini. Harapannya sih, biar mata mereka bisa lebih kebuka dan akhirnya nemuin apa yang mereka cari.

Tanyaku

Lagu ini diciptain Duta pas lagi nungguin jawaban seorang cewek di Malaysia. Waktu itu dia ngerasa seneng banget bisa ngungkapin perasaannya, meski belum ada jawabannya. Hasilnya? Bisa diliat sendiri dong!

Generasi Patah Hati

Diciptain Eross begitu ngeliat kondisi Duta dan Adel (istrinya, RED.) sekarang. Dia jadi sadar kalo hidup ini berat. Makanya, ia mengajak semua pendengar lagu untuk fight dan berusaha yang terbaik. Salah satu caranya, dengan ngelupain idealisme dan bersikap realistis sama kondisi dunia.

Pemuja Rahasia

Katanya sih ini kisah sejatinya Eross. Tapi, Eross sebagai pencipta lagu keukeuh ngomong kalo nih lagu diciptakan untuk ngegambarin gimana rasanya jadi secret admirer. Yang nggak pernah berani mengungkapkan rasa cintanya pada orang yang disukai.

Cobalah Mendekat

Yang ini ciptaan Anton. Bercerita tentang pengalaman Anton yang baru kenalan sama seorang cewek di sebuah diskotik. Tapi, mereka nggak kunjung berani saling mendekat. Akhir nih lagu emang gantung, tapi suasana diskotik sukses dibangun berkat besetan plat yang diperdengarkan sama DJ Rino yang asli Yogya.

Khaylila’s Song

Lagu ciptaan Eross ini temanya kemanusiaan. Judulnya diambil dari nama adik angkatnya. Isinya, mengajak pendengar untuk berbagi dengan orang-orang yang nggak mampu. Asal tau aja nih, sebagian royalti yang didapat Eross dari nih lagu, bakal disumbangkan buat kesejahteraan anak-anak terlantar. Baik banget ya!

Jangan Beritahu Niah

Lagi-lagi Eross coba bercerita soal perselingkuhan di lagu ini. Terinspirasi kisah hidup salah satu karibnya, di lagu ini Eross coba ngegambarin pergolakan hati seorang cowok yang berselingkuh. Seru!!

Ketidakwarasan

Lagu ini dibikin Eross pas ngebaca komennya Ringo Starr ke John Lennon. Kata Ringo, kenyataan terlalu berat buat John, hingga tuh cowok punya perasaan takut dan jadi kayak orang gila. Hasilnya, John berupaya bikin dunianya sendiri yang penuh kedamaian.

Isi nih lagu nggak jauh beda. Bercerita soal orang yang ngerasa lebih baik gila, daripada harus menghadapi kegilaan dunia. Ironis banget deh pokoknya!(*)

March 15, 2004

sheila on 7: takut, sedih, pasrah…

Filed under: Magazine

Kejadian Banjarmasin, bukan yang pertama buat Duta cs. Tapi, bukan berarti nggak kalah nyakitinnya!

“Emang susah jadi Sheila…,”tukas Duta, lirih.

Tampangnya terlihat capek. Banget. Sorot matanya, yang jahil dan seakan selalu punya enerji ekstra, juga nggak secerah biasanya. Cengiran khasnya, biarpun sesekali nongol, terasa rada dipaksain.

Hari itu, Kamis (4/3) siang.

Bareng personil lain, Adam, Eross, Sakti, dan Anton, vokalis langsing itu bela-belain nemuin Hai di Studio Ara, Lebak Bulus, Jakarta. Pengen curhat, katanya. Curhat soal kejadian yang kembali bikin nama mereka tercoreng. Yang bikin diri mereka berasa dipojokkan. Dan yang jelas, bikin mereka mutusin untuk absen dari panggung sampe batas waktu yang belum ditentukan.

KAGET

Seperti yang santer dilansir sama banyak media akhir Februari lalu, konser Duta cs. di ibukota propinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Senin (23/2) malam lalu, kembali berbuah kejadian yang nggak ngenakin. Empat orang penonton tewas.

Bukan saat konser berlangsung. Persisnya, keempat orang tersebut terjatuh setelah sebelumnya terdorong-dorong dalam antrean pulang yang membeludak saat konser kelar.

Satu orang, konon, meninggal karena terinjak-injak. Sementara tiga lainnya, tewas setelah jatuh ke parit yang banyak menganga di sekitar venue. Menurut visum terakhir, kematian mereka adalah lantaran mengalami kesusahan bernafas setelah menelan terlalu banyak air.

“Kami kaget banget pas disamperin sama wartawan di hotel dan ditanya pendapat soal kerusuhan yang terjadi di konser!” kenang Duta.

Pertanyaan itu jelas bikin kaget. Soalnya seinget Duta, selama konser tuh nggak ada rusuh-rusuh sama sekali. Justru sebaliknya, konser itu tuh bisa dibilang sebagai salah satu konser terbaik mereka.

Di panggung, cerita Duta, seluruh personil SO7 begitu puas sama sound dan lighting yang disediain sama promotor. Malah, ingatnya lagi, malam itu mereka main kayak kesetanan.

Asiknya lagi selama dua jam penuh konser berlangsung, lanjut suami Adelia Lontoh ini, respon penontonnya tuh positif banget.

Nggak ada yang lempar-lempar botol plastik ke panggung, kayak yang biasa mereka alami di kota-kota lain. Sebaliknya, sekitar 30 ribu kepala yang ngumpul di Stadion Lambung Mangkurat (bukan gelanggang olahraga tertutup, seperti dikesankan dalam beberapa artikel di media lain, RED.) malam itu, selalu larut dalam tiap lagu yang mereka bawain.

“It was so perfect. Bayangin deh, 30 ribu orang di lapangan outdoor, nggak ada yang pingsan atau keliatan niat bikin rusuh. Trus, sound keluarnya asik. Pokoknya mulus banget deh!” beber Duta, sambil senyum.

Sampe, ya itu tadi. Kelar main, saat mereka kelar berbenah dan lagi turun mencari makan malam di hotel, muncul deh todongan pertanyaan plus beberan kenyataan yang ngagetin itu.

“Kepalaku langsung koyo’ benthet (seperti retak, RED.), mas!” sergah Eross, yang sampe sekarang masih males betul kalo disuruh mengingat-ingat kejadian malam itu.

“Berasa sia-sia aja deh semua usaha kami. Nggak ada kan yang ngomongin gimana asiknya konser malam itu? Gimana ngototnya kami berusaha buat nyajiin yang terbaik buat para penonton? Para pembeli tiket konser itu….,”timpal Duta, dengan tampang lesu (lagi).

RIDERS KETAT

Wajar kalo cowok-cowok Yogya ini suntuk. Man! Biarpun secara kronologis berbeda, namun tetep aja ini adalah kali kedua kuintet ini kudu berhadapan sama kematian penonton konser mereka. Tentu masih seger dong di ingatan, saat konser mereka di Bandar Lampung menewaskan 5 orang penonton, November 2000 lalu?

“Kami sampe kenyang dibilang sebagai band pembunuh. Terus terang aja, sampe beberapa saat setelah kejadian Lampung itu, kami masih ngerasa nggak nyaman buat manggung,” aku Adam.

“Pas udah bisa bener-bener tenang, eh, sekarang kejadian lagi! Biarpun kami tau banget kalo dua kejadian ini berbeda sebab, tapi ujung-ujungnya, ya kami lagi. Kami yang bakal ngerasain lagi tuduhan sebagai band pembunuh!” lanjut bassis yang belakangan lagi rajin main barbel ini.

Semenjak kejadian itu, jelas Adam, band dan manajemen sebenernya udah memperketat persyaratan dalam riders manggung mereka. Banyak hal yang buat sebagian pihak mungkin terasa mengada-ada, mereka masukkan menjadi poin yang harus disediakan saat manggung. Semuanya diusahakan untuk menjamin keamanan penonton.

“Sampe soal harga tiket pun ikut kami pikirin. Kami sempet nggak mau kalo tiket kami dihargai di bawah 20 ribu perak. Maksudnya sih buat nyeleksi penonton, mana yang beneran pengen nonton kami, dan mana yang cuma pengen iseng. Kalo iseng kan bakalan sayang ngeluarin duit sampe, katakanlah, 30 ribu perak misalnya,” tambah Duta.

“Tapi nyatanya, hal itu malah jadi masalah lain lagi. Kami dituduh ngebeda-bedain. Trus, ada yang nggak bisa beli tiket malah bikin rusuh di luar venue, pengen ikutan masuk… Susah deh…,”bilang Eross, dengan tampang bingung.

Nggak terbukti efektif, soal harga tiket itu malah bikin beberapa konser SO7 paska kejadian Lampung jadi, istilah Duta, nggak sumuk (panas, RED.).

“Gimana mau sumuk, wong penontonnya nggak penuh kok? Hehehehe…!” canda vokalis yang konon lagi merintis karir di dunia akting ini.

Selain mempercanggih riders soal keamanan (sampe-sampe, menurut Duta, saking canggihnya tuh riders, mereka sempet suntuk sendiri lantaran di beberapa konser, jumlah petugas keamanannya jauh lebih banyak ketimbang penonton!), dan nyoba menyaring penonton, satu hal lain yang otomatis jadi makanan sehari-hari saat manggung adalah: pesan langsung kepada penonton.

“Sampe sekarang, saban habis dua atau tiga lagu, pas lagi interaksi, aku selalu aja wanti-wanti ke penonton. Biar ngejaga temen-temen, dan dirinya sendiri. Itu udah kayak kewajiban aja. Nggak bisa nggak!” tutur Duta, yang siang itu emang lebih ceriwis dari pada temen-temennya yang lain.

Lewat berbagai media dan kesempatan, lanjut Duta, mereka pun selalu mewanti-wanti para calon penonton, supaya selalu jaga kondisi badan. Terutama cewek-cewek. Karena, menurut mereka apapun bisa kejadian di arena konser. Bahkan sampe ke hal-hal yang nggak diinginkan.

Sebegitu hati-hatinya mereka, nggak heran kalo adanya kejadian Banjarmasin terasa sebagai pukulan super telak. Yang tentunya nyakitin banget! Uh!

NGGAK KERUAN

Seperti kejadian Lampung, setelah kejadian Banjarmasin, personil SO7 plus manajemen dan anggota rombongan tur, bela-belain mendatangi seluruh keluarga korban. Nyampein simpati dan rasa belasungkawa sedalam-dalamnya.

“Rasanya nggak keruan. Antara takut, sedih, dan pasrah. Pasrah mau dibilang apa sama orang tua mereka,” kenang Duta.

“Iya. Kami udah pasrah aja. Mau dimaki-maki kek, dimarahin kek, ya udahlah. Kami terima aja. Bukannya karena cuek, tapi justru karena kami bisa ngerti perasaan mereka. Kan mereka ngelepas anak-anaknya itu untuk seneng-seneng. Eh, malah jadi korban…,” samber Adam.

Sebagai pihak yang sempet juga ngerasain susah dan senengnya jadi penonton konser di negeri ini, anak-anak SO7 ngaku nggak mau nyari siapa yang salah atau bener dalam kasus ini. Memang sampe berita ini turun, GNB, sebagai promotor lokal masih terus diperiksa sama kepolisian sehubungan sama kejadian itu. Namun, menurut Adam, hal itu nggak otomatis bikin kesalahan murni berada di pihak mereka.

“Nggak akan ada habisnya kalo nyari siapa yang salah. Mendingan yang dipikirin adalah, gimana kejadian kayak gini nggak harus berulang. Nonton konser kok kayak maju perang? Dari dulu sampe sekarang, nggak ada perubahan berarti…” tukas Adam.

Lantas, kenapa dong, sisa tur kali ini dibatalin semua?

“Nggak lain sebagai rasa penghormatan kami sama para korban…” jawab Adam, cepet.

“Lagian, mood kami juga drop banget setelah kejadian ini. Nggak kebayang aja, masih musti main, sementara ada kejadian kayak gitu di belakang…,” tambah Duta.

“Buat temen-temen di kota selanjutnya, kami terpaksa minta maaf, karena nggak bisa main dulu. Tapi pasti kami tebus nanti!” janji Adam lagi.

Bener ya?! Trus, ada lagi yang masih pengen dicurhatin?

“Mmmm….Yang paling bikin aku kepikiran tuh, kok jadinya begini, ya? Kami ini kan cuma pengen cari makan, cari nafkah buat yang di rumah? Kok ya ada aja kejadian kayak gini?” gumam Eross, yang bareng Sakti, hari itu sebenernya lagi sibuk take gitar buat album terbaru SO7.

Wah. Kalo kayak gitu sih, susah tuh jawabnya, jack! Yang jelas, seharusnya hal kayak gini jadi pe-er semua orang. Bukan hanya band, manajemen, atau promotor. Penonton, bahkan pemerintah sekalipun, kayaknya kudu mulai mikirin yang beginian. Biar nggak terulang lagi di hari nanti. Bukan apa-apa. Nyawa, jack, urusannya! Setuju?

Source: Hai Magz

January 5, 2004

sheila on 7: nggak bisa bikin lagu enak lagi!

Filed under: Magazine

Singel barunya dahsyat. Aksi panggungnya makin hebat. Kok malah nggak puas di album soundtrack film 30 Hari Mencari Cinta?

Nyusurin jalan Pakubuwono, Jakarta Selatan, di ujung sebelah kanannya lo bakal nemuin sebuah rumah besar yang punya areal parkir luas. Di bagian depan tuh rumah, terdapat sebuah sticker besar bertuliskan “Bass Studio”. Yup, tuh rumah emang udah berubah fungsi. Sekarang, rumah bercat putih itu disulap jadi sebuah studio kelas atas yang biasa disewa oleh band-band sekelas Gigi, Dewa, Padi dan supergrup lain untuk mempersiapkan diri menjelang tampil di panggung.

Salah satu band yang kerap menyewa tuh studio adalah Sheila On 7, band yang hari itu mengundang Hai untuk ngeliat rehearsal aksi panggung mereka yang bakal digelar live di sebuah stasiun TV swasta. Konon, panggung itu juga dimaksudkan untuk mempromosikan album soundtrack film 30 Hari Mencari Cinta (30HMC) yang berisikan kumpulan lagu garapan cah-cah Yogya ini.

Sempet nungguin sekitar 30 menitan di ruang tunggu studio yang catnya didominasi warna kuning, akhirnya satu per satu personil SO7 dateng juga. Adam Subarkah, bassis yang belakangan tampil rapi dengan rambut cepak, turun dari taksi ditemani 2 orang kru yang dengan setia ngebawain alat-alat miliknya. Sempet basa-basi sebentar, cowok bongsor yang sempet nampang di klipnya Audy itu langsung masuk ke studio untuk mengeset alat.

Selang 15 menit, Akhdiyat Duta Mojo, terlihat sibuk memarkir mobil VW berwarna biru miliknya di lapangan parkir. Vokalis yang baru aja ngelangsungin resepsi pernikahannya dengan Adelia Lontoh ini terlihat segar. Kayaknya sih, nih cowok udah mulai bisa nyesuaiain diri dengan kehidupan Jakarta, kota yang belakangan jadi tempat tinggalnya setelah menikah.

Belum juga Duta keluar mobil, sebuah taksi biru menepi di pintu gerbang. Sempet berhenti sejenak, akhirnya tiga sosok familiar muncul dari ke-3 pintu mobil. Siapa lagi kalo bukan Eross Chandra (gitar), Sakti Ari Seno (gitar),dan Anton Widiastanto (drum). Ketiganya langsung kompak mendatangi Duta dan menepuk-nepuk pundaknya. Mentang-mentang udah nggak hidup sekota, kayak udah nggak ketemu setaun aja nih, hehehe.

Begitu masuk ke studio latihan, ternyata rehearsal nggak langsung dimulai. Kuintet yang sukses ngerilis 3 album berkelas jutaan kopi ini sempet main-main dulu sebentar. Buat pemanasan, mereka saling bertukar instrumen. Adam jadi vokalis sekaligus gitaris, Sakti jadi bassis, Anton jadi keyboardis, dan Duta yang jadi drummernya. Sementara, Eross cuma duduk santai sambil menyantap bakmi ayam yang baru dipesannya dari tukang bakmi keliling.

Kelar main 3 lagu (salah satunya Knockin’ on Heavens Door yang sukses dibawain dengan fals, hehehe), akhirnya sesi rehearsal dimulai juga. Masing-masing personil kembali ke instrumennya masing-masing. “Wah, balik lagi nih ke formasi jualan!” seru Duta. Eross, Anton, Sakti dan Adam langsung ngakak.

Dibantu Anissa, penyanyi latar asal Jakarta, SO7 coba mainin 5 lagu. Empat lagu, diambil dari album soundtrack. Sedangkan, satu lagu lagi adalah lagu Ku Jemu-nya Koes Plus.

Meski nggak serius 100 persen, tetep aja keliatan kalo banyak perubahan yang terjadi dalam SO7. Musiknya makin matang. Cara mereka ngebawain lagu-lagunya juga makin mantap.

D*mn, mereka beneran makin dahsyat!

***

“Gimana lagu-lagu di album soundtrack? Udah denger semua kan?” tanya Eross pada Hai seusai rehearsal.

“Sepintas emang terdengar beda. Tapi, kami sendiri nggak sengaja lo bikin sesuatu yang beda. Maunya kami sih, lagu-lagunya malah kedengaran kayak lagu-lagu di Kisah Klasik (Untuk Masa Depan). Lebih santai dan enteng,” sambung Eross, tersenyum malu.

Nggak sengaja gimana?

“Awalnya, kami dapet kabar dari Sony kalo Rexinema mau minta lagu-lagu kami yang udah dirilis buat jadi soundtrack film yang dirilis bulan Januari 2004. Ngedenger kabar itu, kami langsung berembuk. Setelah melalui pembicaraan panjang lebar, akhirnya kami tolak buat ngasih lagu-lagu lama kami buat soundtrack film tersebut,”bilang Sakti.

“Tapi, jangan salah sangka. Kami nggak lantas nolak ikutan soundtrack. Sebenernya, oke aja ikutan proyek soundtrack, asal ada untungnya juga buat proses kreatif Sheila. Makanya, kami tawarkan untuk bikin lagu baru yang sesuai dengan kebutuhan film. Mulai dari awal, sampe ending. Mumpung Sony bilang, rencana rilis album kami diundur (awalnya Sheila dijadwalkan ngerilis album Desember 2003, RED.),” timpal Eross.

Ngedenger kabar baik ini, Rexinema langsung setuju. Nggak pake lama, script cerita 30 HMC pun langsung dikirimkan ke SO7. Maksudnya sih, biar lima jagoan ini makin lancar bikin lagu baru.

Begitu nerima script, proses bikin lagu pun dimulai. Kocaknya, di tengah jalan, Eross cs. ngerasa ada sesuatu yang “berbeda” pada diri mereka.

“Rasanya, kami udah nggak kayak dulu. Nggak bisa lagi ngulang bikin lagu enak kayak Dan, Kita, dan Sephia. Udah dicoba, tapi nggak bisa,” bilang Duta yang dari tadi sibuk ngafalin lirik lagu dari cover album (walah! Vokalis kok nggak hafal lirik?).

“Nggak jelas juga apa sebabnya. Tapi, besar kemungkinan, apa yang kami rasa disebabkan oleh proses yang kami lalui. Maklum, sebelum kami mulai bikin album soundtrack, kami sempet ngegelar workshop buat mengkonsep materi album keempat. Dan, gara-gara workshop itu, pikiran kami terfokus buat album keempat. Jadi, tanpa sengaja, kami udah membuat lagu yang tersentuh konsep musik album keempat di album soundtrack itu,”Adam yang baru aja kelar “merumahkan” bas-nya, nggak mau kalah berkomentar.

Belum sempet Hai nimpalin omongan Adam, Anton, sang drummer, ikut angkat bicara. Menurut cowok paling gondrong di SO7 ini, musik yang dimunculkan dalam album soundtrack udah bener-bener di rem.

“Kami sadar, lagu-lagu baru yang kami buat ditujukan buat lagu latar film. Jadi, kami nggak bisa seenaknya. Makanya, kami sepakat buat ngerem. Kami nggak mau mengumbar konsep musik SO7 yang baru di lagu baru kami. Tapi, kalo lagu barunya kedengeran beda, ya kami nggak bisa ngomong apa-apa. Beneran udah di rem sana-sini lho!” Anton coba meyakinkan.

O..o, kayaknya obrolannya bakal makin seru nih!

***

Soal berubahnya musik SO7, itu udah diakui sama semua personilnya. Tapi, sedrastis apa sih perubahan yang mereka tuju sebenernya?

“Soal drastis atau nggaknya, itu kami sama sekali nggak merencanakan. Yang ada, kami cuma ngikutin flow. Hasilnya, kami udah nggak puas lagi kalo harus ngebikin musik seperti yang udah kami buat di tiga album kemarin. Makanya, kami semua coba cari masukan buat meningkatkan kualitas musik kami. Caranya, ya terus memperdalam pengetahuan musik dan nggak menutup kuping dari musik-musik yang lagi beredar,” repet Sakti.

“Dan, kami pun mulai rajin ngedengerin banyak album. Mulai dari Diorama-nya Silverchair (Eross bilang nih album beneran mantap, RED.), sampe album-album tua kayak Jethro Tull aku coba dengerin. Yang lain juga sama. Selanjutnya, apa yang kami dapat dari musik yang kami dengar, kami coba jadiin perbandingan buat bikin musik baru,” Eross menambahkan.

Gitaris yang ikutan nongol jadi pelayan restoran di salah satu adegan film 30HMC itu mengakui kalo proses ini ngefek pada musik yang mereka hasilkan. Menurutnya, sekarang musik SO7 jadi terasa lebih “berat” (mau denger contohnya? Cicipin aja lagu Untuk Perempuan di album soundtrack 30HMC, RED.). Makanya, saat ini Eross cs. mencoba meramu konsep musik baru itu agar terdengar easy listening.

“Aku pikir, seberat apa pun lagunya, kalo tetep easy listening, tetep bakal nempel kok. Yang enak didenger pasti gampang diinget. Makanya, sekarang kami lagi coba ngeramu sebuah formula yang bisa jadi jembatan idealisme musik kami yang baru dengan selera pasar,” kata cowok yang sukses ngebikinin lagu buat Bang Iwan Fals ini, serius.

Caranya?

“Gampang-gampang susah. Tapi, yang utama, kami ingin mempertahankan ciri musik SO7 yang udah dikenal sama masyarakat umum. Salah satunya, mempertahankan sound gitar yang crunchy khas SO7,” tegas Eross.

“Di album soundtrack, nuansa crunchy itu sempet hilang dan itu bikin kami kurang puas. Sound gitarnya jadi agak bulet. Dan, aku pikir itu bukan sound SO7. Mungkin, hal itu muncul karena kami kurang mengontrol sound. Maklum, alatnya masih baru. Jadi, mainnya malah terlalu lepas,” tambah cowok ceking yang koleksi gitarnya udah lebih dari 30 biji – dan masih rajin nambah melulu – itu, sambil memperlihatkan deretan giginya yang nggak putih-putih amat!

Setuju dab! Mempertahankan ciri itu emang penting banget. Tapi, bisa ngasih bocoran nggak, kira-kira apa sih yang bikin musik kalian terdengar beda di album depan?

“Kami nggak akan pake string lagi. Kami coba mengawinkan musik kami dengan instrumen brass. Biar seger aja,” jawab Duta, polos.

“Kalo mau tau lebih banyak, tungguin aja Pejantan Tangguh rilis. Nanti, jangan lupa kasih komentar ya!” samber Adam.

Oh, itu toh judulnya!

MUNGKIN NGGAK SIH, DAPETIN CINTA DALAM 30 HARI?

Duta

“No way, Jose! Bullsh*t! Kalo cari cinta dalam 30 hari tuh nyaris nggak mungkin. Tapi, kalo cari pacar mungkin!”

Adam

“Mungkin aja. Soalnya, yang namanya cinta, dalam satu hari juga bisa dateng kok. Contohnya kasus love at first sight, hehehe…”

Anton

“Satu hari aja bisa, kenapa meski pake 30 hari? Kalo emang kebetulan, cinta bakal dateng sendiri kok. As you know, cinta bisa dateng kapan aja kok!”

Eross

“Mungkin dong! Soalnya, kalo aku udah suka sama cewek, pasti ngejarnya gigih. Sampe sekarang sih, paling lama pedekate cuma 2 minggu. Abis itu, jadian deh!”

Sakti

“Mungkin. Segala sesuatu itu mungkin terjadi. Jangankan dalam hitungan bulan, dalam sehari aja bisa kok. Kenapa nggak mungkin?”

SIAPA SEBELUM SHEILA ON 7?

Apa yang dibikin SO7 dalam soundtrack 30HMC (album full khusus untuk film, RED.) sebenernya bukan barang baru. Banyak musisi yang sempet bikin album model begitu. Nih dia di antaranya!

Eros Djarot dan Chrisye (Badai Pasti Berlalu)

Sumpah, album ini adalah salah satu album legendaris yang pernah dibikin sama musisi lokal. Disiapin buat jadi soundtrack film yang dibintangi sama Christine Hakim, nih album beneran bisa ngegambarin isi film. Buktinya, cuma ngedengerin lagu-lagunya aja, emosi kita bisa ikut terbawa. Wajar, kalo nih album kembali diproduksi setelah diaransir ulang dua dekade berikutnya.

Sherina (Lihatlah Lebih Dekat)

Perlu dicatet, album yang diproduseri musisi kondang Elfa Secioria ini adalah album soundtrack pertama yang sengaja dibuat setelah perfilman Indonesia bangkit dari mati suri, pertengahan dekade ’90-an. Berisikan 10 lagu, album soundtrack film Petualangan Sherina ini emang beneran asik didenger. Pas nih album dirilis, banyak banget ortu yang semangat ke toko kaset buat ngebeliin nih album buat anaknya, hehehe.

Melly dan Anto Hoed (Ada Apa Dengan Cinta?, Eiffel I’m In Love)

Pasangan suami istri funky ini termasuk yang paling rajin ngebikin album soundtrack 3 tahun terakhir. Pertama, mereka ngebikin album soundtrack film Ada Apa Dengan Cinta?(A2DC?) yang dinilai sama fenomenalnya dengan album Badai Pasti Berlalu. Maklum, semua lagunya emang enak didenger jack!

Selanjutnya, giliran film Eiffel I’m In Love(EI2L) yang dibikinin soundtrack. Hasilnya? Asli, musiknya jadi lebih berat. Maklum, musik di album itu dimasuki musik Eropa jaman romantik.

Indra Lesmana (Rumah Ke Tujuh)

Akhirnya, musik jazz masuk juga ke film Indonesia. Mengangkat tema astrologis yang dikemas dalam nuansa komedi romantis, film Rumah Ke Tujuh beneran asik buat ditonton. Selain jalan ceritanya yang emang mengalir, lagu-lagu garapan Indra Lesmana beneran sanggup membantu ngebangun cerita. Pokoknya, album yang ngandalin singel Mimpi dan Rumah Ke Tujuh ini layak dijadiin koleksi kamu-kamu yang suka musik jazz.

Ariyo dan Dea Mirella (Biarkan Bintang Menari)

Pernah nonton Chicago dan Moulin Rouge? Indonesia baru aja ngerilis film musikal yang nggak kalah asik. Judulnya Biarkan Bintang Menari. Yang perlu dicatet, lagu-lagu yang termuat di film ini juga dirilis dalam bentuk album. Meski nggak heboh-heboh banget, lagu yang dinyanyiin Ariyo, yang juga jadi bintang utama di film ini, lumayan enak didenger pas senggang. Nggak percaya?

Source: Hai Magz

January 3, 2004

they’re on studio

Filed under: Magazine

SHEILA ON 7:Lebih Santai Dan Berani

Setahun lebih ngegelar konser keliling Indonesia nggak bikin band asal Jogjakarta ini mati angin. Meski jadwal rilis album keempat masih belum jelas, kuintet ini udah mulai sibuk ngerekam lagu baru. Bakal kayak apa sih albumnya?

Apa kabar Sheila On 7 (SO7)?

Sempet ngabisin waktu setahun lebih “bergerilya di panggung musik lokal, akhirnya nih band mutusin masuk studio buat ngerekam materi baru. Bertempat di Studio Ara yang ada di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Duta (vokal), Eross (gitar), Sakti (gitar), Adam (bas) dan Anton (drum), mulai sibuk ngerekam basic track lagu-lagu andalannya, sejak tanggal 2 Juli 2003 lalu. Rencananya sih, ada 4 buah lagu yang bakal mereka kerjakan selama kurang lebih 2 minggu.

Weits! Sebentar lagi rilis dong?

“Ancer-ancernya belum jelas. Tapi, ada kemungkinan album kami bakal keluar bulan Mei 2004. Jadi, masih lama banget kan?” bilang Eross yang lagi bercanda dengan ketiga rekannya di belakang mixer sambil nungguin Anton yang lagi sibuk take drum.

Hmm. Ntar dulu deh. Bukannya sekarang-sekarang ini tawaran manggung justru lebih numpuk? Kok mau-maunya sih mereka menepikan order cuma karena ingin nyicil rekaman untuk album yang baru dirilis tahun depan?

Sambil ngintip aksi Anton menggebuk drum set kesayangannya dalam studio berukuran 5 X 6 meter, Eross sempet bercerita kalo SO7 pengen lebih santai dan nggak terburu-buru dalam proses pembuatan album keempat. Makanya, mereka sepakat untuk nyicil merekam beberapa materi baru yang udah disetujui, agar pada saat deadline nanti mereka bisa lebih santai.

Di samping itu, cowok yang lagi kesengsem berat sama lagu-lagunya Silverchair di album Diorama itu juga ngaku kalo mereka memang lagi ngerjain beberapa proyek lain disamping album.

“Sebenernya sih, saat ini kami diminta menggarap lagu Panggung Sandiwara karangan Mas Ian Antono. Rencananya, lagu itu bakal dimasukkan dalam album kompilasi Tribute to Ian Antono yang bakal dirilis sebentar lagi.,” beber gitaris yang nyumbang lagu buat album terbaru Iwan Fals ini, serius.

Pantes!

***

Apa sih yang baru dari album barunya SO7?

Pasti, pertanyaan itu yang bakal muncul dalam benak kamu-kamu sekalian pas denger nih band lagi sibuk rekaman.

Man, for your information, banyak perubahan yang dibuat SO7 di album barunya yang bakal dirilis awal tahun depan. Mulai dari cara bikin lagu, pemakaian sound, sampe cara mereka memaksimalkan instrumen.

Sambil bersiap-siap masuk studio buat nge-take gitar, Eross sempet berucap kalo dalam rekaman kali ini ia nggak hanya mengandalkan satu jenis instrumen. Pernyataan ini jelas bikin Hai terbengong-bengong. Maksudnya apa, dab?

Untungnya, rasa heran Hai nggak bertahan lama. Kelar take satu lagu dengan gitar andalannya, pencinta koi ini langsung memboyong keyboard barunya ke dalam studio. Jack, nih orang rupanya bisa main keyboard! Bahkan, sound yang dimainkannya selama proses rekaman pun tergarap dengan baik. Nggak jauh dari sound-sound jadul kayak Harpsichord dan Rhodes.

“Mulai rekaman hari ini, aku mau banyakin pake sound piano. Bahkan, lagu-lagu yang ada sekarang pun aku ciptain pake keyboard. Biar nuansanya beda,” bilang Eross, sekeluarnya dia dari ruang rekam.

Ups, cerita baru nih! Jadi penasaran, siapa sih yang ngasih ilham Eross buat make piano dalam proses rekaman?

“Sebenernya sih, aku udah niat lama make piano buat bikin lagu. Tapi, baru terealisasi sekarang. Ilhamnya aku dapet dari Muse, Silverchair dan Dhani Ahmad. Dia aja boleh main gitar pas rekaman, padahal posisinya keyboardis. Masa aku kalah sih?!” candanya sambil nyengir.

***

Rabu (9/7) siang, Hai kembali dateng ke studio Ara buat nengok kegiatan Eross cs. Hari itu, giliran Duta yang take vocal. Nggak heran, cowok yang baru aja nikah sama Adelia Lontoh ini udah nongol di studio sejak pukul 11 siang.

“Wah, untung datengnya sekarang. Tadi sempet mati lampu lho,” bilang cowok kelahiran Kentucky, Amrik ini pada Hai dengan logat Jawa yang kental,”Ayo masuk. Liat aku rekaman!”

Sempet ngobrol sebentar buat diskusiin layer vokal, akhirnya Duta masuk ke ruang rekam. Keliatan banget, nih cowok ngelakuin take vokal dengan penuh semangat. Kayaknya, suasana rekaman yang santai bikin dia lebih enjoy ngejalanin tugasnya.

Nggak berapa lama kemudian, Eross dan Adam nongol di ruang operator. Di belakangnya, menyusul Adam yang sibuk menenteng seplastik shaker dan piranti perkusi baru.

“Ini semua baru aku beli. Maunya sih bisa dipake rekaman,” bilang Anton sambil merhatiin gaya Duta yang lagi take lagu Panggung Sandiwara.

“Kami emang nyiapin semuanya dengan serius. Malah, ada beberapa eksperimen yang kami coba lakukan dalam proses rekaman. Misalnya, ngegunain 2 bas di lagu ini. Selain Adam, aku juga ikutan main bas lho!”bilang Eross yang lagi asik menyalin lirik lagu Pejantan Tangguh, sumringah.

Waduh, bakal kayak apa jadinya? Jangan-jangan, musik yang ada di album ke-4 mereka jadi terdengar aneh nih!

“Nggak kok. Paling, kami coba ngilangin unsur string buat digantiin sama brass section. Hasilnya, ya kayak musik-musik big band. Biar lebih semangat. Tapi, itu juga masih rencanaku. Nggak tau anak-anak lain. Mungkin, mereka punya lagu sendiri yang beda. Itu sih terserah mereka aja,” sambar Eross bersemangat.

“Yang Eross bilang itu bener. Kami memang bikin sesuatu yang baru. Yang lebih fresh dan berani. Dan, itu juga bakal terlihat di lagu-lagu ciptaanku, Sakti dan Duta. Pokoknya, nggak ada matinya deh!” samber Adam yang dari tadi sibuk leyeh-leyeh di sofa langsung nyamber.

Wuiih, semangat banget, dab?! Ditunggu lho ya?

Source: Hai Online

December 9, 2003

Resepsi Duta ­ Adelia : MAIN BADMINTON SEBELUM PESTA

Filed under: Magazine, Duta & Family

Lima bulan setelah akad, akhirnya pasangan Duta dan Adel menggelar pesta nikah di Yogya. Mereka mengaku tak punya persiapan khusus. Bahkan malam sebelumnya keduanya sempat main badminton. Duta dan Adel mengaku deg-degan hanya saat dirias.

Pesta nikah personel Sheila On 7 (SO7), Akhdiyat Duta Modjo alias Duta dan pesinetron Adelia Lontoh, Sabtu (29/11) lalu di Gedung Graha Sabha Pratama UGM berlangsung meriah. Maklum undangan yang disebar berjumlah 1.200 buah. Perhelatan akbar ini melibatkan 200 orang panitia baik dari keluarga, Sheila Management (SM) dan JAP Production.

Menurut Duta, pihaknya sudah menyiapkan acara ini sejak dua bulan lalu. “Maklum saya dan Adel, kan, tidak selalu bisa ikut rapat bersama mereka,” jelas Duta dalam jumpa pers seusai acara. Kendati sudah ditangani panitia, Duta dan Adel tetap menjadi penentu. Terlebih soal undangan dan hidangan. “Konsep undangan memang kami yang minta. Kami nyempatin pulang ke Yogyakarta khusus untuk pesan undangan dan suvenir.”

Untuk hidangan, menurut Yarto dari Katering Karunia, pihaknya menyediakan hidangan untuk sekitar 2.500 orang dengan harga menu buffet Rp 22.500. “Harga itu belum
termasuk menu tradisional permintaan khusus pihak mempelai. Ada sekitar sembilan macam menu tambahan, antara lain timlo dan kambing guling. Masih ada lagi menu khusus bagian VIP.” Berapa biaya yang dikeluarkan Duta untuk pesta ini, ia enggan menyebutkan angkanya. Yang jelas dana tersebut diambil dari tabungan keduanya.

Selain soal undangan dan hidangan, pasangan ini juga yang menentukan busana pengantin. Mereka menolak saat ditawari model basahan, terbuka. “Enggak pede lantaran saya, kan, kurus,” kata Duta yang akhirnya memilih model jas. “Bahkan awalnya, Adel sempat enggan dipaes (dirias) macam-macam. Tapi periasnya berhasil meyakinkan,” jelas Duta sambil melirik istrinya. “Saat dirias baru deg-degan. Bagaimana nanti ya?” papar Duta.

Sedangkan Adel merasa sanggul yang dikenakan sedikit berat. “Saya sendiri tak ada persiapan apa-apa. Bahkan malam sebelumnya kami sempat badminton dengan saudara,” sela Adel.

Sebenarnya ada rencana bikin konser SO7 saat pesta. “Dulu Duta punya rencana. Tapi kok, enggak ada kabarnya,” sela Adam, salah satu personel SO7. “Mungkin dia ingin lebih khidmad,” duga Adam.

Lantaran tamu yang diundang cukup banyak, panitia sengaja membagi dalam dua shift. Ini untuk mencegah antrian panjang saat tamu hendak menyalami kedua mempelai. Sementara di depan dan dalam gedung terpampang layar besar yang menayangkan gambar kedua mempelai di pelaminan.

Para tamu yang diberi suvenir berupa notes kecil bertuliskan “Manten” dan bergambar Duta-Adelia, datang silih berganti. Di antara mereka, tampak pasangan Onky Alexander-Paula, Ade Irawan dan Ria Irawan, Attar Syach dan tentu saja keempat personel SO7 lainnya.

Source: Tabloid Nova

July 27, 2003

DUTA DAN ADELIA: BERUBAH SETELAH MENIKAH

Filed under: Magazine, Duta & Family

Setelah menjadi suami istri pasangan ini banyak berubah. Duta “Sheila on 7″ (23) langsung melepas anting dan tindiknya. Sementara sang istri, Adelia Lontoh (20) belajar menjadi nyonya rumah. Lalu apa perubahan lain?

Sudah lebih dua minggu, Duta - Adelia menikah, tepatnya, 23 Juni lalu. Akad nikah dilaksanakan sederhana di kediaman orang tua Adelia di Graha Raya, Bintaro selepas Isya. Duta mengenakan jas dan sarung biru yang dipakai ayahnya saat menikah, sedangkan Adelia mengenakan kebaya putih hadiah dari mamanya.

Tak ada tenda di halaman, bukan berarti tamu yang datang sedikit. Sekitar 60 undangan menyaksikan Duta melafalkan ijab kabul dan menyerahkan mas kawin berupa perhiasan emas seberat 20 gram serta uang tunai Rp 210.702. “Nilai uang itu adalah tanggal saat saya mulai meneleponnya tanpa tujuan yang jelas,” ujar Akhdiyat Duta Modjo sambil tersipu.

Hanya pihak keluarga yang datang saat itu. “Sengaja, karena ingin khidmat,” kata Duta yang sempat khawatir pernikahannya hari itu diendus wartawan. Karena itu pula, vokalis SO7 ini baru mengabari teman-teman bandnya malam itu, saat mobilnya tengah meluncur ke rumah mempelai wanita.

Sebelumnya, pada tanggal 7 Juni Duta yang ditemani mama, paman, tante, dan beberapa sepupunya meminang Adelia. “Sekalian ajang berkenalan kedua belah keluarga,” kata Duta. Usai melakukan lamaran, Duta dan Adelia kembali mencari waktu kosong untuk akad nikah. “Kebetulan tanggal 23 Juni, kami kosong. Lagi pula karena sudah lewat bulan Safar, menurut orang tua, semua hari baik untuk menikah,” kata Duta yang siang itu tampak sudah melucuti anting dan giwang-giwang yang biasanya banyak tertindik di wajahnya.

MELANGKAHI EMPAT KAKAK

Duta - Adelia bertemu saat kasting video musik Seberapa Pantas. “Setelah itu tak pernah bertemu lagi. Tiba-tiba Mas Duta menelepon saya pada tanggal 21 Juli dan bertemu lagi tanggal 9 Agustus. Sejak itu kami sering jalan bareng sampai akhirnya serius pacaran,” kenang Adelia yang menyukai Duta karena enak diajak ngobrol.

Selain itu Duta juga mudah beradaptasi dengan keluarga Adelia. “Obrolan dan candaannya nyambung dengan keluarga saya,” kata Adelia yang sudah diperkenalkan pada keluarga Duta jauh sebelum pernikahan. “Beberapa kali saya bertandang ke rumahnya di Yogyakarta, tapi enggak pernah sampai menginap,” kata Adelia.

Hubungan keduanya makin serius. Sampai akhirnya, Maret lalu Duta mengajaknya menikah dan membahas masalah ini dengan kakak Adelia, Fiki. “Setelah itu, baru pada orang tua,” kata anak ke 5 dari 8 bersaudara dari pasangan Peter Lontoh Rachman dan Anita yang melangkahi empat kakaknya.

“Untuk itu kami juga menyediakan pelangkah buat kakak-kakak, tapi enggak pakai acara adat yang lengkap banget. Apa pelangkahnya? Ada, deh…,” ujar Duta berahasia.

SEMPAT BIKIN KHAWATIR

Pernikahan usia muda sering kali mengundang kecurigaan. Ini pun dialami keduanya. Apalagi Adelia masih kuliah dan karier Duta bersama SO7 tengah berada di atas angin.

“Jangan, kan orang lain, Mama saya saja menduga hal buruk waktu saya mengutarakan niat menikah,” kata Duta. Maklum banyak orang menikah muda karena hamil di luar nikah. Di rumahnya, Adelia juga sempat diajak bicara dari hati ke hati oleh kedua kakak perempuannya. “Benar, Del, kamu enggak apa-apa? Kalau ada bilang saja terus terang pada kami,” ucap kedua kakaknya khawatir.

Kedua orang tua Adelia justru lebih tenang. “Mama hanya tersenyum. Mungkin sudah mendengar dari Kakak,” kata Adelia yang sempat mendapat wejangan dari papa dan mamanya agar tidak gegabah dan bisa menyelesaikan konflik rumah tangga dengan baik.

Nasihat orang tua dirasa perlu buat keduanya. “Usia, kami, kan, masih muda, masih labil. Tapi kami menikah dengan pertimbangan matang, kok. Bukan emosional. Dengan niat yang baik, semoga semuanya berjalan baik,” bilang Duta.

“Kami menikah bukan karena ada apa-apa. Kalau enggak percaya, hitung saja dari sekarang (kapan akhirnya istri saya melahirkan),” tantang Duta sambil tersenyum. Ia memang bercita-cita menikah muda. “Biar kalau anak kami besar, kami belum terlalu tua,” jelas Duta yang bersepakat dengan istrinya untuk menunda punya momongan.

“Tadinya kami merencanakan baru punya bayi setelah saya selesai kuliah,” kata Adelia, mahasiswi semester dua, jurusan humas di Interstudi ini. “Tapi dipikir-pikir, kok lama sekali, ya. Akhirnya rencananya dimajukan. Maunya, saya hamil setelah syuting sinetron yang tengah saya jalani selesai,” kata Adelia.

BERHENTI MAIN SINETRON

“Kami merasa lebih baik setelah menikah. Semua jadi serba teratur. Dulu bangun bisa jam berapa saja, sekarang jadi lebih pagi. Pokoknya enak, lah!” cetus Duta.

Perubahan rutinitas pun dialami Adelia. “Kalau dulu setelah shalat Subuh saya tidur lagi, sekarang saya harus menyuguhkan sesuatu buat Mas Duta,” katanya tersipu malu. “Lebih sering saya suguhkan teh. Tapi ingin juga menyuguhkan yang lain,” ujar Adelia yang ingin belajar masak pada Mama. “Sayang, waktunya enggak ada. Pulang syutingnya malam terus. Makanya setelah syuting ini rampung, saya ingin berhenti main sinetron sementara,” kata Adelia yang masih menumpang di rumah orang tuanya sambil mencari rumah yang cocok.

Bulan Juli ini, mereka akan pergi berbulan madu. “Kami sudah meluangkan waktu selama lima hari. Mungkin ke Bali atau Yogyakarta. Yang dekat-dekat saja,” kata Adelia.

Keduanya juga berencana untuk mengadakan syukuran pernikahan. “Kami harus mencari waktu kosong lagi. Karena jadwal syuting dan kuliah istri saya masih padat. Saya juga harus tur dan mengerjakan album berikutnya,” kata Duta yang memberi tugas baru pada istrinya. “Menemani kemana pun saya show,” ujar Duta sambil mendekati Adelia dan mengelus rambutnya.

RUMAH DIKUNJUNGI FANS

Mendengar berita gembira ini, NOVA langsung mengunjungi rumah keluarga Duta Minggu (6/7) di kawasan Gejayan Yogyakarta dan kediaman keluarga Adelia di Bintaro, Tangerang, Senin (7/7). Sayangnya, keluarga kedua belah pihak tak bersedia berkomentar.

“Kalau mau wawancara ke kantor fans club saja. Pihak keluarga tidak mau dilibatkan,” ujar Rina, adik Duta yang hanya berkomentar sedikit tentang pernikahan kakaknya. “Saya turut berbahagia,” katanya.

Begitupun saat NOVA menemui kakak Adelia. Ia keberatan diwawancarai soal pernikahan ini. “Adelia tidak tinggal di sini, begitu pula orang tua saya,” katanya. Menurut informasi dari satpam yang sedang berjaga di depan kompleks perumahan ini, rumah tersebut beberapa kali dikunjungi fans SO7. “Wah, banyak banget yang datang ke rumah itu. Tadi saja fans-nya Duta pada datang,” katanya.

Source: Tabloid Nova

May 4, 2002

Sheila On 7 : Celakanya…. Jadi Million Copies Band!

Filed under: Magazine

No pain, no gain. Kenyataan jadi bintang terlanjur melekat. Album pun ludes di pasar. Kenapa kok masih ada ganjelan?

Siapa bilang punya dua album yang mampu terjual lebih dari 3 juta kopi, dapet royalti ratusan juta, dibayar 30-40 juta perak sekali manggung, plus bisa dikenal sampe manca negara melulu enak?

Tanya aja sama personel Sheila On 7 (SO7).

Dengan fasih, mereka ­ Duta (vokal), Eross dan Sakti (gitar), Anton (drum) dan Adam (bas) ­ bisa ngasi daftar sekian banyak hal yang musti rela dikorbankan buat mencapai dan mempertahankan itu semua.

Contohnya Duta, yang akhirnya “menyerah” dengan kuliahnya di UGM. Bukannya cowok jangkung dengan piercing di jidat ini dasarnya nggak punya kemauan untuk nyoba. Tapi di banyak kesempatan doi sering terbentur sama masalah jadual.

“Ada masa di mana aku tuh bener-bener ngotot buat tetep jalanin kuliah. Cara apapun, waktu itu, aku jalanin. Baca-baca diktat pas lagi tur, berusaha pulang saban kali ada tes, terus berusaha selalu ngirimin tugas-tugas ke dosen pake fax. Pokoknya segala cara deh!” kenang cowok yang maniak main bola ini.

Tetapi semakin lama, hal itu disadari Duta malah membuat konsentrasinya terpecah-pecah.

“Ngeband juga masih berasa nggak total, kuliah koq makin jeblok!” ujar vokalis yang udah bisa ngebangun rumah sendiri itu, dengan tampang pasrah, “akhirnya aku putusin buat milih salah satu aja dulu…”

Klise sih. Tapi buat Duta, hal itu bener-bener nyebelin. Pasalnya dulu doi sempet janji sama ortunya buat tetep ngejalanin kuliah sesibuk apapun dirinya bareng SO7.

Masalah yang sama juga dialami oleh Sakti dan Adam.

“Biarpun nggak pernah sampe maksain, tapi ibu-bapakku selalu wanti-wanti biar kuliahku dikelarin,”ujar Sakti, yang sebelumnya cerita sempet terkaget-kaget pas bertandang ke kampus dia udah hampir nggak punya temen seangkatan lagi, lantaran udah banyak yang lulus!

“Tapi ya kayak yang dibilang Duta itu, aku musti nyoba ngejalanin satu per satu dulu. Kalo sekarang waktunya buat band ya fokus dulu ke band. Nanti kalo udah mulai longgar, aku pasti balik ke kampus lagi…” tekad gitaris yang belum lama ini berhasil mendapatkan moge Harley Davidson idamannya.

Lain lagi sama Anton.

Adalah kebebasan sebagai individu yang dirasa bungsu dari 3 bersaudara ini jadi jauh berkurang seiring dengan menanjaknya karir SO7.

“Dari aku mulai belajar musik dulu sampe akhirnya ngeband waktu SMP, nggak pernah sekalipun kelintas di pikiranku buat jadi kayak sekarang ini. Main musik, ya main musik aja. Bikin kaset (album maksudnya, red), ya udah bikin kaset,” cerita drummer yang penghasilannya bisa memodali usaha keluarganya itu,”wong pas pertama kali dikasi tau albumnya Sheila laku sejuta kopi aja, aku biasa-biasa aja. Soalnya aku pikir ya emang band-band lain tuh lakunya segitu juga…”

Sikap kayak gitu itu yang terus dibawa Anton selama masa promo album pertama. Makanya ia selalu nggak terbiasa jika tau-tau ada fans yang minta tanda tangan atau sekedar memanggil namanya ketika ia lagi jalan-jalan sendiri.

Baru setelah masuk album kedua, dan sering dinasehati nyokapnya, Anton bisa berkompromi dengan status “baru”-nya itu.

Sampe sekarang pun, satu-satunya personel berambut gondrong ini mengaku masih terus belajar buat bisa keep up dengan statusnya bareng SO7.

“Jadi lebih susah buatku, karena terus terang aku kan orangnya tertutup dan cenderung nggak mau mendengarkan orang lain. Padahal kalo udah dalam kondisi begini, banyak banget pihak yang musti dilayani dan didengerin, istilahnya, dikompromiin deh,” terangnya lagi.

****

Lebih ribet lagi apa yang sempet dialami oleh Eross.

Bukan apa-apa, jack. Soalnya dipundaknya lah hampir semua beban terpikul.

Tanpa mengecilkan arti personel lainnya, Eross emang bisa dibilang sebagai oknum yang paling bertanggung jawab atas sukses SO7 selama ini. Dari tangannya lahir sebagian besar hits kuintet yang udah setahun ini berkantor di jalan Atmosukarto no 17, kawasan Kota Baru, Yogyakarta itu.

“Yang paling aku takutin sekarang ini adalah, kalo misalnya aku megang gitar, tapi begitu mau genjreng, nggak ada ide buat bikin lagu!” kata cowoknya Astrid Tiar ini.

Ketakutan itu mulai dialami Eross begitu mereka siap bergiat buat bikin album 07 Des.

Persisnya saat Eross mulai melihat dan menyadari bahwa di samping band dan dirinya sendiri, begitu banyak kepala yang menggantungkan nasibnya pada karir mereka. Dan itu secara nggak langsung berarti bergantung pula sama laku atau nggaknya lagu bikinannya.

“Sekarang aja udah ada sekitar 18 orang yang bener-bener nyari makan di Sheila. Kru instrumen, manajemen sampe pengurus fans club…” ujar sulung dari dua bersaudara ini.

Kenyataan itulah yang bikin gitaris yang baru aja boyongan ke rumah baru senilai 800 juta perak di kawasan Kaliurang ini berasa nggak bisa main-main lagi.

Kepalanya terasa selalu dipenuhi berbagai pertanyaan tentang,”Gimana caranya bisa mempertahankan itu semua?”

Dan bagi seorang yang berjiwa nyeni kayak Eross, hal-hal seperti itu nggak pelak sempet bikin gundah. Perlu waktu yang lama untuk bisa “berdamai” dengan hal-hal semacam itu sebelum akhirnya bisa jalan lagi.

Ia juga nggak ragu menyebut bahwa selama masa-masa itu juga, dirinya sempet “parno” dan merasa dikejar-kejar bayangan harus selalu bikin lagu bagus.

“Hampir tiap dinding di Sony Music rasanya bisa ngomong, ‘Hayo, bikin lagu yang bagus lho yaaaa…!’.. ha ha ha ha. parno banget deh!” tuturnya kocak.

Situasi saat itu makin terasa njelimet bagi Eross, lantaran selama album pertama dan kedua, ia selalu bikin lagu sesuai dengan pengalaman plus perasaan pribadinya yang notabene nggak mungkin dialaminya lagi sejalan dengan perubahan siklus kehidupannya bareng SO7.

“Aku inget banget pas dulu bikin lagu buat album pertama, tema apa aja yang ada di sekelilingku tuh bisa menarik buat dijadiin lirik. Karena waktu itu aku masih bisa main-main ke sana-sini, nongkrong sana-sini,” kenang pengoleksi 26 gitar vintage ini dengan mata berbinar-binar.

Hal itu yang jadi terasa mustahil buat Eross. Pasalnya, kehidupannya saat ini dipenuhi dengan rapat, jumpa pers, tur dan segala hal lainnya yang nggak berhubungan langsung dengan emosi atau perasaannya.

“Masak iya, aku musti bikin lagu soal rapat? ‘Kan nggak ada menarik-menariknya sama sekali?” lanjut gitaris yang saat ini juga asik beternak ikan koi ini.

Buat Eross, yang dilakukannya selama ini adalah mengarang lagu, bukannya mengarang tema lagu.

“Nggak sreg aja rasanya bikin lagu tentang cinta, tapi aku sendiri lagi nggak jatuh cinta….” ungkap songwriter yang kerap dijuluki “Doktor Cinta” sama rekan-rekannya lantaran jago banget bicara soal cinta lewat liriknya ini, dengan nada lirih.

****

Ada bagusnya, kalo sebuah band diawali dari pertemanan kental. Soalnya dari situ biasanya ada perasaan senasib dan sepenanggungan yang ikatannya jelas melebihi ikatan kontrak.

Dan lagi-lagi, itu dimiliki oleh SO7.

Biar dikata kalo udah menginjakkan kaki di Yogyakarta kelima personel hampir nggak pernah jalan atau nongkrong bareng lagi, tapi lantaran kentalnya persahabatan mereka, apa yang jadi kegundahan salah seorang di antara mereka juga dirasain sama yang lain.

Itu juga yang sedikit banyak bikin Adam, Duta, Anton dan Sakti, mutusin untuk “mengikuti jejak” Eross buat lebih total bermusik mulai album ketiga ini.

“Kalo ngeliat lagi, emang udah waktunya kami untuk lebih jelas memantapkan pijakan kaki ke musik. Udah nggak ada excuse lagi, ibaratnya,” tegas Duta.

Semasa album pertama dan kedua, tambah Duta, excuse-excuse semacam itu kerap kali terlontar semisal ada satu masalah yang tau-tau nongol. “Ah, masih album pertama ini…” ujarnya menirukan pola pikir sebagian mereka saat itu.

Semua tekad itu, biar nggak pernah sekalipun dirapatin bareng, sedikit demi sedikit mulai diwujudkan dengan berbagai cara.

Salah satunya adalah, mulai menanggapi tiap wawancara secara lebih serius.

Selama ini, udah jadi rahasia umum di kalangan media kalo wawancara dengan SO7 nggak bakal sukses semisal dilakukan dengan ke-5 personelnya sekaligus.

Ada aja yang mereka lakuin di antara mereka, yang kalo nggak bikin sang interviewer bingung, ya bete sekalian lantaran nggak dapet jawaban atas pertanyaan yang udah diajuin sebelumnya.

“Abis gimana, kadang kami suka bosen sama pertanyaan yang itu-itu aja. Mau dipelintir ke mana juga baliknya ke situ-situ juga. Mungkin dari situ ditambah sama dasarnya kami yang emang suka iseng, jadinya sering keliatan kalo kami nggak pernah serius kalo diwawancara!” jelas Duta seru.

Buat mensikapi hal tersebut, saat ini mereka sering bikin pernyataan duluan tentang hal-hal apa aja yang sebaiknya nggak usah ditanyain lagi sebelum ngelakuin wawancara.

“Terus aku juga udah mulai sering nyuruh yang lain juga ikutan ngejawab. Biar nggak kesannya aku aja yang jadi juru bicara…” kilah Duta, yang ngaku sempet jengkel sama ketidakseriusan temen-temennya itu,”soalnya kadang aku udah jawab banyak-banyak, serius-serius, tapi karena yang lain diem aja dan keliatan main-main, keluarnya di media ya yang main-main itu!”

Secara lebih gentle, Eross malah ikutan bikin pernyataan maaf.

“Aku mau minta maaf sama temen-temen pers yang mungkin selama ini sempet dibikin kesel sama kelakuanku, kami kalo diwawancara. Bukannya mau ngeremehin atau nyepelein atau gimana, tapi ya itulah mungkin emang pada saat itu kami belum terlalu terbiasa sama yang begitu-begitu. Moga-moga, kejadian kayak gitu nggak terulang lagi!” janjinya.

Sikap lebih serius itu juga ditunjukkin dengan keterlibatan penuh tiap personel dalam pembuatan album kali ini. Seperti udah banyak dilansir, tiap personel kali ini ikutan menyumbang materi.

Lebih dari itu, baik Duta, Adam, Anton maupun Sakti juga mulai terjun penuh dalam proses produksi.

“Kalo dulu ‘kan pas mixing paling cuma Eross sendiri yang nungguin. Sekarang semuanya dengan kesadaran masing-masing juga ikutan nungguin, ngulik segala macem… Paling nggak capeknya udah bisa lebih terbagi deh!”celoteh Duta dengan nada yang masih berapi-api.

Semakin tingginya pengharapan, baik dari pihak label, fans maupun kalangan terdekat terhadap karya SO7, belakangan direspon Eross dengan membuat konsep mulai jauh-jauh hari. Doi kapok dengan pola dikejar setoran seperti yang pernah dialaminya di album-album terdahulu.

“Pokoknya aku mesti lebih disiplin lagi deh sama pola kreatifku. Kalo nggak gitu, bisa keteteran nanti-nantinya. Capek aja kerja kayak orang dikejar-kejar. Paling nggak aku bisa lebih tenang ngegarapnya,” terang Eross lagi.

****

Disiplin, pengorbanan, kerja keras plus niat besar untuk terus maju.

Sounds like sesuatu yang jauh banget dari gemerlap rockstars, ya? Tapi itulah yang terjadi dan menjadi rumus sukses Sheila On 7 selama ini.

Dan kalo mereka tetep bisa konsisten dengan itu semua, kayaknya nggak perlu ada lagi pertanyaan, “Seberapa pantaskah Sheila On 7 buat terus jadi million copies band?” (dani) FOTO-FOTO: DAUS

Source: Hai Mag